
Dua hari telah berlalu. Hari ini, pernikahan Ken dan Lusiana, Aida berpenampilan sederhana. Namun, terkesan sangat cantik dia di dampingi oleh Amira juga Darren lengkap sudah kebahagiaan mereka.
Ken merasa hari ini sangat istimewa baginya. Tidak ada yang dapat merasakan begitu bahagianya ia di perlakukan oleh Bos besar seperti Darren. Semua acaranya di urus dengan sempurna.
"Selamat untuk kalian berdua, semoga pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan," ucap Darren menepuk pundak Ken sambil memeluknya.
"Aku kira Om mau menungguku setelah dewasa nanti! Tapi sekarang kau malah menikah," seru Aida menggoda.
"Dasar bocil, kau nikmati sama masa remajamu. Jangan buru-buru menikah muda," timpal Ken terkekeh juga Lusiana. Aida pun tersenyum sambil menyalami kedua mempelai.
Sesudah acara selesai, Amira berinisiatip mengajak Aida ke rumah sakit. Menjenguk Nancy yang sangat merindukan Aida anaknya yang selama ini dia terlantarkan.
Tiba-tiba pandangannya beredar pada seorang Pria paruh baya. Dia terlihat rapih dengan stelan formal, Amira terus melihat ke arahnya dengan tatapan sendu berlinang air mata. Tidak terasa Air mata menetes dari kedua pelupuk matanya, mengingat masalalu yang sangat kelam.
"Tidak! Itu bukan dia," isak tangis Amira. Darren yang melihat Istrinya berjalan menuju parkiran segera mengejarnya.
Amira harap itu cuma sebatas mirip dan tidak ada kaitannya dengan masalalu yang menimpanya.
__ADS_1
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Darren menepuk pundak Amira yang tengah berdiri di parkiran. Amira segera mengusap air matanya agar tidak terlihat seperti habis menangis.
"Oh, tidak! Aku kira Aida sudah berada di sini," ujarnya.
"Mah aku di belakangmu," pekik Aida.
Amira kaget karena memang bukan mengejar Aida. Ia tersenyum dan segera beranjak ke pesta lagi. Amira masih penasaran, dirinya ijin untuk pergi ke kamar mandi, mencari sosok Pria yang mirip dengan masalalunya.
Di tempat lain, Aida duduk sendiri, Darren asyik mengobrol dengan rekan kerjanya. Tama melihat Aida ada di pesta itu dan segera menghampirinya.
"Kak, Tama," ucap Aida kikuk.
Tamat tersenyum, ia menarik kursi dan segera duduk manis di hadapan Aida. Aida merasa canggung, Tama sangat tampan tidak jauh dengan stelan sekolah yang sering di pake.
"Boleh aku duduk di sini?" Tanya Tama.
"Silahkan, Kak. Lagian ini tempat umum juga," ucapnya tersenyum. Mereka pun berbincang-bincang mengenai sekolah mereka, terlihat akrab dari keduanya.
__ADS_1
Sedangkan Amira ia masih mencari sosok Pria paruh baya itu. Mungkin saja dirinya hanya halusinasi. Amira pikir dirinya segera mengurungkan niatnya untuk tidak melanjutkan pencarian Pria itu.
Tiba-tiba tangan Amira ada yang menarik ke sisi pojok jauh dari kerumunan. Wanita paruh baya menatap tajam ke arahnya, tidak dapat di sangka Amira juga tidak percaya pertemuan keduanya. Setelah dulu dia di caci maki olehnya.
"Dasar anak jal*ng, berani sakali kamu ada di sini! Aku peringatkan kamu, jangan pernah menampakkan diri dari hadapan suamiku. Kalau pun dia melihatmu, tidak akan aku biarkan dia melihatmu ada di sini, aku akan mencegahnya untuk menemuimu," pekik wanita paruh baya yang bernama Ayu.
Amira masih belum berbicara, bulir air mata menetes dari matanya. Dia di cengkram kuat lehernya juga di benturkan ke din-ding tembok. Wanita itu pergi setelah puas mengancam Amira, tidak bisa berkata-kata lagi. Ingatan dari masalalunya terus muncul di mana, ayahnya pergi di jemput oleh seorang wanita kaya raya. Wanita itu pergi meninggalkan Amira seorang diri.
"Tidak, ibu bukan orang seperti itu. Tidak mungkin pasti wanita itu salah paham, aku harus mencari di mana mereka tinggal saat ini. Setelah bertahun-tahun aku belum menemukan kejelasan, dan hari ini wanita itu menghinaku setelah dia menyakiti Ibu sampai dia meninggal," isak tangis Amira.
Darren mencari Amira, setelah dia melihat-nya keluar dari kamar mandi. Darren segera berlari dan memeluknya.
"Aku pikir kamu di culik," seru Darren memeluk erat.
"Kau bicara apa sih, aku habis dari kamar mandi," sahut Amira. Darrren mencium kening sebelum mereka pergi. Dari tempat lain wanita paruh baya itu, mengepal geram menyaksikan Amira di peluk oleh Pria.
"Aku pastikan pria yang bersama-nya adalah Pria yang di godanya. Mana mungkin ada yang mau sama wanita miskin dari kalangan rendah seperti dia," seru wanita paruh baya yang bernama Ayu.
__ADS_1