
Darren menyered Nancy ke luar kamar dan menghempaskan-nya. Sudah saatnya dirinya itu bersikap tegas terhadap Nancy agar rumah tangga dengan Amira adem ayem tanpa gangguan orang ketiga. Nancy meringis kesakitan bekas cengkraman yang Darren berikan kepadanya.
"Kenapa kamu membela wanita kampung itu?" Tanya Nancy.
"Dia bukan wanita kampung, tapi dia Istriku, kau sebaiknya pergi dari sini atau kau akan menyesal seumur hidupmu! Sudah banyak kesempatan yang aku kasih kepadamu tapi kamu tidak kunjung sadar juga," hardik Darren menunjuk ke arah Nancy.
"Tolong, jangan usir aku dari sini, kau tahu aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kalau kamu berani mengusirku aku akan katakan semuanya kepada Amira," isak tangis Nancy di hadapan Amira dan juga Darren.
"Apa yang kamu katakan?" Tanya Amira tidak mengerti.
"Sudah jangan kamu percaya ucapan wanita ini Amira. Lebih baik kamu pergi dari sini! kau sudah punya mangsa baru, pergilah aku tidak akan membiarkan kamu masuk ke dalam kehidupanku lagi" hardik Darren menyered Nancy keluar rumah.
Setelah Nancy Darren usir, Darren segera menutup pintunya dengan sangat kasar hingga membuat Amira takut melihat amarah Darren.
"Kau pergilah, lanjutkan tidurmu, aku akan menyusulmu nanti," titah Darren kepada Amira.
"Aku harus meminta penjelasan kepada Darren mengenai apa yang di ucapkan Nancy tadi," ucap pelan Amira sambil melangkah pergi.
Sedangkan Nancy di luar terus menggedor-gedor pintu utama dengan kasarnya. Darren segera memerintahkan Satpam untuk mengusir Nancy segera dari halaman rumah.
"Kau tidak bisa seperti ini padaku Darren, aku sangat mencintaimu kau berjanji akan menikah denganku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada wanita kampung itu," pekik Nancy dari luar.
Tidak segan-segan satpam pun segera menyered Nancy untuk pergi ke luar gerbang. Nancy berdecak kesal atas perlakukan Darren kepadanya. Nancy berinisiatif untuk menghubungi Aldo, akan tetapi sambungan ponselnya tidak aktif. Nancy segera pergi ke rumah temannya yang bisa dia andalkan di kala sedang susah.
__ADS_1
"Aldo, sudah berani dia menentangku seperti Darren. Tidak! Aku harus mendapatkan dirinya kalau tidak, aku akan menjadi gelandangan sejati. Aku tidak mau ini terjadi, aku harus menjadi ratu di istana lagi," ucap Nancy sambil membawa koper miliknya masuk ke dalam taksi.
Di ruang kerja Darren.
"Tuan, sebaiknya kau baca dulu isi amplop ini supaya kamu tahu siapa anak Tuan yang sebenarnya," ujar Ken menyarankan.
Sebelum membuka isi amplop coklat, Darren menerima ponselnya yang berdering. Aldo menghubungi Darren untuk menemuinya besok di kantor miliknya.
"Aku rasa ini sudah larut malam, kau bisa pulang dan aku akan membuka amplop ini nanti," ujar Darren meletakan kembali amplop coklat itu kembali ke atas meja.
"Ta-pi Tuan," ucap Ken dengan gugup.
"Tidak ada penolakan, kau pulanglah, aku bisa membuka amplop ini kapan saja," ucap Darren dan beranjak pergi meninggalkan Ken di ruang kerja.
"Dia yang menyuruhku untuk segera menemukan infomasi anaknya. Setelah aku mendapatkan info penting ini, dia malah cuek begitu saja," lirih Ken segera meninggalkan rumah Darren.
Amira masih belum bisa tidur, di duduk sambil memeluk selimbut tebal di atas sofa. Darren datang dan mengedarkan pandangannya ke pojokan kamar. Terlihat Amira sedang duduk termenung membuat Darren heran melihatnya.
"Kenapa kamu tidur di sofa?" Tanya Darren menghampiri Amira.
"Ak-u, maafkan aku, semua gara-gara aku Nancy kau usir," lirih Amira menundukan kepala.
"Apa maksudmu?" Tanya Darren seraya duduk di samping Amira membuat Amira gugup dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Gara-gara aku di jodohkan denganmu hubungan kamu dengan Nancy jadi tidak stabil dan itu gara-gara aku," ucap Amira.
"Aku menikahimu karena takdir, Amira jangan kau pikirkan soal Nancy lagi, aku tidak mau membahas dia di antara kita," ucap Darren menarik wajah Amira yang kini mereka berhadapan.
Pandangan mereka beradu pandang satu sama lain membuat jantung Amira berdeup kencang seakan tidak menantu. Darren mulai mendekatkan wajahnya ke arah Amira dan, Amira pun menutup perlahan matanya untuk mengontrol detak jantungnya.
Tidak lama, Darren menci*m bibir ranum Amira dengan sangat lembut, membuat Amira menohok tidak percaya.
Lima menit telah berlalu, Darren meminta lebih kepada Amira. Akan tetapi Amira belum siap untuk semuanya. Darren tersenyum dan mengusap b*bir ranum milik Amira dengan lembut oleh jempol miliknya.
"Maafkan Aku telah lancang menc*mu," ujar Darren menatap penuh arti kepada Amira.
"Ini adalah c*uman pertamaku yang kau ambil. Aku harap kau tidak akan pernah menyakitiku lagi," ujar Amira melepaskan tangan Darren yang menangkup di kedua pipi miliknya.
"Sebaiknya kita tidur," ucap Darren segera beranjak ke tempat tidur.
"Bibirnya sangat manis membuatku sangat ketagihan. Oh tidak, kenapa aku mesum lagi kepadanya, aku harus tahan terlebih dahulu. Sebaiknya aku jujur terhadap Amira mengenai statusku ini," batin Darren memenjamkan matanya di atas tempat tidur.
Sedangkan Amira masih termangu, mengingat kejadian satu menit yang lalu. Amira mengusap bib*r miliknya, sungguh Amira tidak tahu bahwa Darren akan melakukan hal ini kepadanya. Tapi jika Amira menolak, dosalah yang dia tanggung karena telah berani menolak suaminya.
"Aku harap, kamu sudah benar-benar berubah atas sikap baikmu kepadaku. Tapi melihat dia tadi menyered Nancy ke luar sudah cukup dia membuktikan atas perubahannya," ujar Amira memejamkan matanya.
Darren tersadar Amira tidak ada di sampingnya. Dia segera bangkit dari tidurnya dan segera menggendong Amira ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Kenapa dia keras kepala tidak mau tidur bersamaku," kesal Darren membaringkan Amira dengan lembut ke atas tempat tidur.
"Wajah yang cantik membuatku jatuh cinta kepadanya, Amira kamu wanita satu-satunya yang membuat aku jatuh cinta yang sesungguhnya," ucap Darren membaringkan Amira ke tempat tidur dengan lembut.