
Amira masuk ke dalam kamar milik Aida, mengetuk pintunya pelan. Aida mempersilahkan untuk masuk, terlihat Aida sedang sibuk mengerjakan tugasnya.
"Sayang, apa kamu sibuk?" Tanya Amira.
"Tidak, Mah. Ada apa?" Tanya Aida memeluk Mamahnya.
"Begini sayang, besok hari libur, kau ikut Mamah ke rumah sakit untuk menjenguk Nancy yang kini sedang sakit parah ," terang Amira.
"Nancy."
"Mamah harap kamu tidak menolaknya, sayang, dengar! Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, Nancy adalah Ibumu yang sudah melahirkanmu, tanpanya kamu tidak akan pernah berada di hadapan Mamah sekarang. jangan pernah membenci orangtua kita, sesalah-salahnya orangtua dia tetap harus kita hormati. Mamah tidak mau kamu menjadi orang yang egois, ingat sayang, maafkanlah semua kesalahan Nancy padamu," terang Amira.
Tetesan air mata mulai membasahi pipi tirus Aida. Ia mengusap air matanya, Amira menghambur pelukan. Sungguh pahit jika mengingat kejadian tahun lalu, tapi semenjak Amira menasehatinya Aida mulai membuka hatinya untuk Nancy.
"Baik, besok kita ke rumah sakit," sahut Aida.
"Nah begitu dong, sekarang kamu tidur ini sudah larut malam," titah Amira beranjak dari tempat tidurnya.
Aida tidak bisa membayangkan besok ia akan bertemu Nancy kembali setelah kian lama mereka tidak bertemu.
"Semoga Nancy baik-baik saja," harap Aida.
Di dalam kamar.
__ADS_1
Darren masih berkutat di depan laptop miliknya mengerjakan tugas juga mengecek laporan siang tadi. Amira membawa teh hangat untuk suaminya, walaupun masih terasa sakit di bagian bawah. Amira duduk pelan juga berjalan pelan. Untung di rumahnya tidak ada siapa-siapa jadi Amira tidak perlu khawatir dengan kondisinya saat ini.
"Kau masih sibuk?" Tanya Amira meletakan secangkir teh manis hangat. Darren segera meminum teh itu, segeralah ia menutup laptop.
"Aku tidak sibuk, apa kamu membutuhkanku malam ini!" Goda Darren.
Amira segera menghembuskan nafasnya pelan, tidak lama Darren mendapat tlp dari Ken. Lagi-lagi Ken mengganggunya lagi membuat Darren mendengus kesal.
Setelah menelphone singkat dengan Ken. Darren mengusap wajahnya kesal, ia segera memeluk tubuh mungil istrinya.
"Terima kasih sudah memberikan aku hak, juga kamu telah berhasil menjaga dan merawat bagian bawahmu untukku," seru Darren semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau ini bicara apa! Sudah seharusnya aku melindungi kesucianku untuk suamiku sendiri. Sayang sekali suamiku tidak menjaga dengan baik burung dalam sangkarnya," sindir Amira.
Bukannya marah, Darren malah menc*m bib*r Amira sekilas.
"Aku ngantuk, kita tidur," usul Amira.
"Buat malam ini, malam panjang kita. Acara honeymoon kita gagal di karenakan di sana mengalami sunami juga Gempa," ucap Darren nada lemas.
Momen itu sudah lama Darren inginkan akan tetapi nasib baik belum dia dapatkan. Amira hanya terkekeh melihat Darren cemberut gagal untuk honeymoon.
"Kita sudah melakukannya, untuk apa kita pergi ke sana! Menurutku sama saja kita melakukannya akan terasa sama," ujar Amira asal.
__ADS_1
"Lebih baik kita buat Dede bayi yang banyak supaya rumah ini rame oleh anak-anak kita," seru Darren mengecup bib*r Amira.
Mereka pun melakukannya lagi, malam panjang mereka terkesan indah. Amira mulai lihai memberikan kepuasan untuknya. Membuat Darren bersemangat, tubuh mungil, mulus, seksi itu membuat Darren selalu ketagihan.
"Aaahhh."
Mereka berdua terkapar di atas tempat tidur setelah pelepasan untuk ke lima kalinya. Darren mengusap perut Istrinya bertahap benih mereka segera tumbuh.
"Semoga benih yang aku tanam berbuah manis, aku menginginkan anak darimu," bisik Darren.
"Aku juga tidak sabar untuk segera menimbang anak kita, terima kasih sudah membahagiakan aku," ucap Amira menyusup ke dalam dekapan suaminya.
"Aku mencintaimu."
Mereka pun tertidur setelah adegan panas yang mereka buat.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
HADIAH
RANTING 5.