
Erangan nikmat Lusiana begitu merdu di kamar miliknya. Kehormatan suci yang selama ini dia jaga berhasil di bobol Jimy, rayuan maut membuatnya tergoda untuk menyerahkan kesuciannya.
"Kau puas?" Tanya Jimy pada Lusi.
"Ini terasa sakit," ucap Lusi pelan.
"Untuk pertama kali memang seperti itu, akan tetapi kalau sudah longgar akan nikmat," rayu Jimy berhasil merenggut kesucian Lusiana.
Ia melanjutkan lagi adengan panas, Lusiana serasa di bawa melayang ke atas. Surga dunia ini membuat Lusiana ketagihan. Erangan itu terdengar lagi bersama gemericik hujan di luar sana mengesankan mereka yang tengah asyik bercumb* mesra.
Untuk pertama kalinya Lusiana merasakan surga dunia yang di berikan Jimy untuknya. Ia tidak memikirkan nasib kedepannya bagaimana, bayangan itu muncul setelah Lusi melihat garis dua di tangannya warna merah. Tangannya bergetar hebat badannya lunglai jatuh ke lantai, kepada siapa dirinya meminta bantuan untuk mendapatkan Jimy agar bisa bertanggung jawab atas kehamilannya juga harus menikahinya sesegera mungkin. Tidak pernah di sangka kercerobohan di masalalunya membuat Lusi hancur. Bagaimana tidak! Selama dua tahun ini Jimy tidak berani menyentuh Lusi, itu cara Jimy meyakinkannya. Setelah tiba waktu yang tepat sebelum meninggalkannya Jimy mencicip Lusi terlebih dahulu, sudah lima kali mereka melakukan itu di dua bulan terakhir ini.
"Tidak mungkin aku hamil!" Pekik Lusi di kamar mandi.
***
Di rumah Amira membantu Aida memasukan keperluan sekolahnya. Hari ini Aida masuk sekolah dengan suasana baru, tidak pernah di bayangkan oleh Aida dia akan masuk ke sekolah mahal. Selama hidupnya bersama Nancy dan statusnya masih sebagai pengamen, Aida selalu menatap sekolah yang sekarang kini sudah sah menjadi murid dia sana.
"Sekolah yang pintar dan rajin sayang, semoga kamu betah di sana," ujar Amira lembut.
Darren datang menghampiri mereka berdua. Aida menyalami kedua orangtuanya untuk segera pergi ke sekolah bersama Pak Karim.
"Aida pergi dulu, Pah, Mah," seru Aida.
Amira tersenyum melihat kepergian anaknya yang sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Ponsel Amira berdering terlihat nama Lusi di layar ponselnya, ia segera mengangkatnya.
"Amira bisakah kau ke sini segera?" Ujar Lusi bergetar.
"Baiklah aku akan ke sana sekarang juga," sahut Amira menutup ponselnya.
Mendengar suara Lusi kacau Amira jadi was-was. Dan segera ijin ke rumah Lusi pada Suaminya. Darren mengurungkan niatnya untuk memberitahu kepada Amira mengenai bulan madu mereka.
"Lusi lagi membutuhkan aku sekarang, gara-gara Jimy dia jadi seperti ini," gerutu Amira yang di dengar oleh Darren.
"Jimy siapa?" Tanya Darren sedikit penasaran saat Istrinya menyebut nama Jimy.
"Kita pergi saja dulu, nanti aku akan jelaskan di sana," ujar Amira yang di angguki oleh Darren.
"Gagal deh," batin Darren.
"Ada apa dengan Lusi sayang?" Tanya Darren.
"Aku tidak tahu, yang jelas dia lagi patah hati berat," sahut Amira.
Mereka pun telah sampai di depan rumah Lusi, keduanya kaget bukan main mendengar suara pecahan barang yang di lempar oleh Lusi. Di dalam rumahnya sangat berantakan membuat Amira berlari dari dalam mobil menuju pintu rumah.
Terlihat Lusiana menangis meraung lunglai di lantai. Darren juga Amira tercengang melihat keadaan Lusi yang berantakan, Amira menghambur pelukan untuk sahabatnya.
"Lusi, kamu kenapa?" Tanya Amira lembut.
__ADS_1
"Amira, aku wanita paling bodoh di dunia ini," Isak tangis Lusi. Darren hanya bisa diam melihat dan mendengarkan Istri juga temannya berbincang.
"Katakan padaku Lus!" ucap Amira mengguncangkan tubuh Lusiana yang lemas.
"Aku hamil," lirih Lusiana.
Deg.
Amira yang mendengar penuturan itu tercengang tidak percaya atas apa yang di ucapan sahabatnya itu. Lusi menyodorkan tespek garis dua yang begitu jelas di tangannya.
"Kau becanda Lus," ujar Amira tidak percaya atas apa yang di lihatnya.
"Tidak, ini nyata Amira," isak tangis kembali. Darren mengusap wajahnya kasar setelah tahu penyebab temannya frustasi.
"Siapa Pria yang menghamilimu," pekik Darren.
"Jimy," lirih Lusiana.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
HADIAH
RANTING 5.