
Pagi ini Aida merasa bingung, bagaimana mungkin Adrian mengancamnya untuk menc*um di depan semua Siswa dan Siswi di depan sekolah. Semuanya tidak bisa di bayangkan Aida kalau pun itu terjadi, ia akan mengutuk dirinya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan," ujar Aida menggigit jari tangannya khawatir.
Clek.
Pintu kamar terbuka Amira datang membawa senyuman untuknya. Terlihat Aida kikuk, Amira segera menghampirinya untuk mengajakn-nya sarapan.
"Sayang, kenapa kamu belum ke bawah! Kita menunggumu untuk sarapan," ujar Amira mengelus lembut Aida.
"Ini juga sudah beres Aida menyiapkan jadwal tugas hari ini Mah," sahutnya tersenyum. Amira mengelus kembali rambut panjang yang terurai.
"Mamah harap kamu menemukan teman yang baik, bisa mengajakmu ke jalan yang lurus. Fokuslah belajar, jangan pernah kecewain kita sebagai orangtuamu," ucapnya lembut. Aida mengangguk, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Amira tahu dirinya akan di ci*m di hadapan semua orang.
"Tuhan, tolong aku," batin Aida.
Sarapan selesai.
Darren menerima tlp dari rumah sakit bahwa Nancy keadaanya memburuk. Ia segera mengantar Aida terlebih dahulu juga mengajak Istrinya ke rumah sakit. Darren tidak ingin Aida sampai tidak fokus belajar di sekolahnya, jadi sebaiknya Darren membungkam semua itu.
"Sayang, kita ke rumah sakit, Aida Papah akan mengantarmu ke sekolah. Pulang-nya Pak Karim yang akan menjemputmu," seru Darren.
"Ke rumah sakit?" Tanya Amira.
"Kita jenguk Aldo juga Nancy di sana," sahut Aldo tanpa curiga Aida hanya bisa mendengarkan obrolan mereka.
Sampai di sekolah, Aida menyalami tangan kedua orangtuanya ia pun segera melangkah menuju gerbang sekolah. Tanpa Aida sadari. Seorang Pria tampan memperhatikannya dari mobil mewahnya.
__ADS_1
Di Mobil.
"Apa yang terjadi pada Nancy?" Tanya Amira khawatir.
Dengan berat hati Darren menghembuskan nafasnya berat sebelum bicara. Amira sudah menebak ada yang tidak beres pada Nancy.
"Nancy memburuk, maafkan aku, kemarin dia chat aku dan dia meminta aku untuk bertemu dengannya. Tapi aku mengabaikannya, kita sudah tidak ada hubungan lain, Aida juga sudah jatuh ke tangan kita," ujar Darren menjelaskan menatap ke arah depan.
Walau bagaimana pun, Nancy sudah mengisi hatinya cukup lama. Darren tidak tahu bahwa akan seperti ini, kehidupan Nancy berubah setelah ia di vonis penyakit mematikan.
Amira yang mendengarnya merasa sedih juga kasian. Tidak bisa di bayangkan Nancy menderita sendiri tanpa ada orang yang mendampinginya.
Sampailah di rumah sakit. Darren memarkirkan terlebih dahulu mobilnya. Segeralah mereka ke ruangan di mana Nancy di rawat.
Di depan ruangan rumah sakit, Amira membuka pintu. Terdapat Nancy seperti mayat hidup, hidungnya di pasangi selang oksigen juga tangannya di infus. Kakinya di angkat sebelah karena mengalami bengkak di area sensitifnya.
"Bagaiman ini bisa terjadi, kalian bilang Nancy sudah membaik," ujar Darren kepada perawat yang menjaga Nancy.
"Nyonya Nancy memang membaik Tuan, akan tetapi semalam ia tidak sadarkan diri karena mengalami pembengkakan juga pendarahan yang cukup banyak," sahut Perawat itu menjelaskan.
Amira membungkam mulutnya, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ia segera memeluk tubuh Nancy kembali yang sudah terlihat kurus.
"Kenapa cepat sekali penyakitnya menjalar," ucap Amira duduk memegang tangan Nancy.
Nancy semakin teriris melihat kebaikan Amira padanya sungguh ini hukuman untuknya.
"Am-ira, ma-afkan ak-u," ucap lirih Nancy.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan, aku sudah memaafkanmu Nancy. Berjuanglah kami mendoakanmu, jangan menangis aku tidak mau melihatmu mengeluarkan air mata," ucap Amira mengusap air mata Nancy.
Amira mengusap lembut kepala Nancy, tidak dapat di percaya, rambutnya terbawa banyak di tangan Amira. Rambut itu menempel di tangannya. Darren yang melihat semuanya tercengang tidak percaya.
"Tidak."
"Mungkin umurku tidak lama lagi, aku harap kalian memaafkan aku. Ini hukuman bagiku, aku bertaubat sungguh aku menyesal," isak tangis Nancy.
Amira menghambur memeluk Nancy yang sedang rapuh kembali. Darren merasa iba melihat mantan istrinya itu mengalami sakit keras. Ini tidak dapat di bayangkan bagaimana kalau Aida tahu kondisinya.
"Aku wanita penuh dosa padamu Amira, aku juga tidak pantas mendapat kebaikanmu. Kejahatanku padamu sudah menorehkan luka cukup dalam di hatimu. Amira, sekali lagi aku minta maaf, jaga baik-baik Aida, aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untuknya, tapi aku mencintai anakku," ucap Nancy lirih.
"Jangan bicara seperti itu, kau wanita hebat. Setiap manusia memilik kesalahan termasuk aku. Tuhan memaafkan umatnya untuk mereka yang bertaubat menuju ke jalan yang lurus. Jangan putus berdoa, Tuhan menyayangimu termasuk kita dan juga Aida," terang Amira melirik ke arah Darren yang berdiri.
"Tolong, pertemukan aku dengan Aida," pinta Nancy. Amira mengangguk untuk mengabulkan permintaannya.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.
__ADS_1