
Mobil mereka sampai di depan rumah, Surya sudah lebih dulu berada di rumah Darren. Clara juga Aida masih menunggu mereka untuk menanyakan prihal soal pagi tadi. Amira tersenyum melihat Darren menggandeng tangannya menuju rumah mereka. Darren sudah siap untuk jujur kepada semuanya biar tidak ada lagi rahasia yang membuatnya frustasi dengan kebohongannya.
"Amira, aku ingin bicara sama kamu, mengenai masalaluku," ucap Darren terhenti di depan pintu rumah. Amira hanya bisa diam, karena tidak tahu Darren bicara apa kepadanya.
"Apa maksudmu?" Tanya Amira tidak mengerti.
"Aku akan jujur mengenai sesuatu, sekarang kita masuk aku akan mengatakannya padamu," ujar Darren menggandeng tangan Amira dengan erat.
Amira tersenyum, Darren banyak sekali berubah. Tidak ada kata kasar atau pun dingin lagi kepadanya, membuat Amira merasa nyaman di sisi-nya.
Pintu rumah mereka di buka, terdapat Surya, Clara juga Aida yang sudah menunggu mereka datang. Clara tersenyum melihat Amira di gandeng oleh Darren yang artinya Darren sudah membuka hati untuk Amira.
"Maaf kami datang terlambat," ujar Darren duduk di sofa bersama Amira. Pandangannya tertuju kepada Aida yang sudah lama menunggu kabar darinya.
"Syukurlah Om berhasil membebaskan Kak Amira," seru Aida menghambur pelukan Amira.
Darren tersenyum melihat keakraban keduanya, membuat hatinya mantap untuk mengatakan semuanya kepada mereka.
"Aku akan mengatakan semua kebenaran tentang masalaluku," ujar Darren membuat Aida juga Amira memandang kepada Darren.
"Katakanlah Kak, aku akan mendengarkan ceritamu," seru Clara bersama Surya.
"Sebenarnya aku sudah menikah siri bersama Nancy! Juga sudah punya anak yaitu kamu Aida," ujar Darren menundukan wajahnya.
Betapa terkejutnya Aida bersama Amira. Aida masih belum paham mengenai semuanya. Amira terkejut mendengar semua kejujuran Darren. Hatinya sakit saat tahu Nancy adalah Istri pertamanya, Amira tersenyum ketir setelah Darren jujur kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak jujur kepadaku! Pantas saja Nancy membenciku," seru Amira.
"Tolong, maafkan Aku Amira. Aku berusaha jujur kepadamu hanya ini jalan satu-satunya untuk jujur semuanya kepadamu. Tolong jangan membenciku," ucap Darren menghambur pelukan kepada Amira. Sedangkan Aida dirinya masih tidak mengerti Darren adalah Papahnya.
"Aku Anakmu Om?" Tanya Aida.
"Iya sayang, Maafkan Papah, selama ini Papah di bohongi oleh Mamahmu mengenai keberadaanmu," lirih Darren.
Amira melirik ke arah Aida yang tidak lain anak kandung Darren yang sudah besar. Dirinya menangis bukan karena Darren berbohong akan tetapi sakit di saat mengingat perlakuan Darren juga Nancy dulu kepadanya. Pantas saja Nancy membenci dirinya karena Darren adalah mantan suami yang menikahi wanita lain di depannya.
"Aku mengerti kau masih mencintai dia!" Ujar Amira.
"Tolong jangan salah paham, aku sudah. melupakan dia aku mencintaimu Amira," seru Darren memeluk Amira.
"Aku menerimamu juga masalalumu," ujar Amira yang membuat Darren tercengang.
"Apa yang kamu katakan ini adalah nyata?" Tanya Darren memastikan.
"Hmm, aku menerimamu dengan segala kekurangamu. Aida aku Ibu tirimu sekarang, tapi aku ingin kau menganggapku Ibu kandungmu mulai saat ini," seru Amira memeluk Aida.
Aida menangis sejadi-jadinya, selama bertahun-tahun dirinya tidak pernah di perlakukan baik atau lembut oleh Nancy yang ada hanya kebencian juga siksaan yang dia dapat.
"Benarkah kalian adalah orangtuaku sekarang? Nancy bilang Papahku sudah meninggalkan aku, karena aku lahir di dunia ini," isak tangis Aida.
"Tidak sayang, kau jangan bicara seperti itu, aku Papahmu yang sangat menyayangimu. Kita di pisahkan olehnya selama bertahun-tahun lamanya," ujar Darren memeluk Aida.
__ADS_1
"Kak," ucap Clara semuanya menengok ke arah Clara.
"Clara maafkan Kakakmu ini," ujar Darren berdiri setelah itu dia memeluk Clara.
"Masalalu biarlah berlalu, sekarang Kakak menata masa depan dengan mereka. Perlakukan mereka dengan sangat baik Kak, aku percaya padamu," ucap Clara lembut membuat Darren beruntung mendapatkan sosok adik yang selalu mengerti dengannya.
Sementara di rumah Aldo. Adrian mengetahui Kakaknya tengah di siksa oleh Darren membuatnya marah besar.
"Aku berjanji akan membalaskan dendamku demi Kak Aldo," geram Adrian mengepal erat ponsel yang ada di tangannya.
Mampir juga di novel ke 5, sekuel dari novel ke 3.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING
__ADS_1