
"Nancy terkena penyakit HIV," ujar Darren dengan suara beratnya.
Amira segera bangkit dari tidurnya mendengar ucapan Darren mengenai Nancy. Terlihat wajah gesar Darren, dirinya takut terkena HIV yang sama seperti Nancy mengingat dirinya sering berhubungan dengannya.
"Besok kita ke rumah sakit untuk menjenguknya," seru Amira.
"Tidak, aku tidak mau kau menemuinya, kita urus pengalihan hak asuh Aida supaya dia kembali ke tanganku. Terima kasih sudah menerima anakku dengan baik, aku banyak sekali membuatmu menderita maafkan aku sayang," ujar Darren menghambur pelukan Amira.
Kata sayang dari mulut Darren membuat Amira masih tidak percaya. Darren yang dulu berbeda dengan sekarang, Amira merasa senang telah di cintai oleh suaminya sendiri.
"Terima kasih sudah mencintaiku," ucap Amira menangis.
"Aku mencintaimu, karena aku sadar perbuatanku kepadamu hanya menorehkan luka padamu saja. Sungguh aku menyesal telah membuatmu terluka pada waktu itu. Eh, kenapa kamu menangis sayang," ucap Darren menghapus air mata yang tumpah dari pelupuk matanya.
"Impian aku mempunyai suami yang menyayangiku menjadi nyata. Kau telah menerimaku sebagai Istrimu saja aku sudah sangat senang. Andai Ibu masih ada di dunia ini mungkin dia juga bahagia melihat aku di cintai olehmu," lirih Amira.
"Besok kita ziarah ke makam Ibu juga Mamahku," ucapan Darren segera di angguki Amira.
Darren berjanji akan selalu membahagiakan Amira, tidak ada yang bisa menghalangi kisah cinta mereka lagi.
Pagi yang cerah, di rumah sakit Ken yang baru saja datang dari luar setelah di mencari sarapan paginya mendengar keributan yang terjadi di rumah sakit. Terlihat Adrian mengamuk di depan pintu ruangan Aldo, Ken sudah menebak bahwa anak itu sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
"Adrian," ucap Ken membuyarkan kemarahannya kepada bodyguard yang menjaga Aldo.
"Kau, aku tidak menyangka Kak Aldo akan di rawat di rumah sakit ini dengan insiden yang kalian berikan kepadanya," seru Adrian mengepal geram.
"Kau sabarlah dulu, ini semua ulah Kakakmu sendiri yang sudah berani menculik Istri Tuanku yang tidak lain Istri sahabatnya sendiri," ujar Ken.
Adrian sedikit terdiam, dirinya harus mengontrol semua emosi yang ada di benaknya. Rencana untuk membalaskan dendamnya Adrian harus bersikap normal supaya Ken tidak menaruh curiga kepadanya.
"Baiklah, mungkin ini sudah takdir Kakakku, apa aku bisa menjenguknya ke dalam," rayu Adrian yang di angguki oleh Ken.
Adrian pun pergi meninggalkan Ken yang sedang berdiri di hadapannya bersama dua bodyguard.
"Dokter, sebenarnya aku sakit apa. Semua badannku rasanya sakit terutama di bagian bawah," Isak tangis Nancy.
"Kau istirahatlah dulu jangan banyak pikiran, perawat akan menyuapimu supaya kau makan sarapannya setelah itu kau minum obat," ucap Dokter panjang lebar.
Nancy menangis yang kini hanya hidup sebatang kara. Tidak ada yang peduli kepadanya lagi, Jimy yang di hubungi lewat ponselnya tidak di angkat olehnya membuat Nancy sakit hati.
"Aku merindukan Nayra, kenapa Jimy tidak mengangkat tlp dariku," seru Nancy mengusap air matanya.
"Sabar Nyonya sekarang kamu makan dulu sarapannya setelah itu kamu bisa minum obat dan istirahat," bujuk perawat yang di angguki oleh Nancy.
__ADS_1
Di rumah Darren.
Semua berkumpul di meja makan setelah Amira menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Clara menyukai Amira karena sikapnya yang sopan, lemah lembut membuatnya tambah menyayanginya.
"Amira, apa lukamu sudah sembuh?" Tanya Clara.
"Alhamdulilah, sudah agak membaik, Clara makan yang banyak supaya bayi yang ada di dalam perutmu sehat," seru Amira.
"Terima kasih, Amira aku menunggumu membuatkan adik untuk Aida," goda Clara membuat Darren juga Amira saling menatap satu sama lain.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING
__ADS_1