Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Kecemburuan


__ADS_3

Kedatangan Prawira dan sang istri ke salah satu restaurant tampak di sambut hangat oleh beberapa pelayan di sana, bahkan sang manager tempat mereka makan siang langsung turun tangan untuk menyapa dan menanyakan menu pesanan. Arika duduk usai mendapat kursi yang Prawira tarikkan untuk mempermudah sang istri duduk. Senyuman bahagia terlihat jelas di wajah Arika siang itu. Ini pertama kalinya mereka makan siang bersama di luar.


"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Prawira melihat sang istri yang tak berkedip melihat suaminya.


Pelan Arika menggelengkan kepala. "Tidak, aku hanya bahagia. Ini pertama kali kita makan bersama. Terimakasih yah?" ujarnya bergelayut manja di lengan sang suami.


Mendengar ucapan sang istri, Prawira hanya mengusap pelan kepala sang istri lalu tak lama kemudian kemesraan itu buyar kala suara soerang pria datang menghampiri mereka.


"Arika," Menoleh ke samping bersamaan, Arika dan Prawira sama-sama melihat sosok pria tampan dan berlesung pipi di sebelah kiri.


Arika berdiri menatap pria yang baru saja datang. Ia mengembangkan senyuman menyapa hangat. "Awan." ujarnya bahagia.


Keduanya tampak tersenyum lebar, sementara wajah Prawira mendadak dingin. Matanya menelisik dari ujung kaki sampai ujung kepala. Penampilan yang tak jauh berbeda darinya. Dan itu bisa menjelaskan jika pria yang baru saja di panggil Awan oleh Arika adalah pria yang berasal dari keluarga tidak sembarangan.

__ADS_1


"Oh iya kamu sejak kapan di Indonesia?" pertanyaan Arika lagi-lagi membuat kepercayaan diri Prawira menurun. Itu artinya pria ini pernah berada di luar negeri.


"Aku sudah tiga hari lalu berada di Indonesia. Dan hari kini kebetulan kita bertemu. Boleh aku meminta nomor ponselmu? Ada hal yang harus aku pelajari tentang ngajar mengajar di kampus sepertimu." Arika semakin kagum melihat sosok teman kuliahnya juga berprofesi seperti dirinya.


"Wah kamu juga jadi dosen ternyata?"


"Yah hanya hoby, Arika. Aku lebih fokus mengembangkan kampus yang aku pegang di Singapura. Namun, tetap saja Indonesia adalah negara yang aku pilih untuk menetap." tuturnya membuat Arika kian takjub pada pria ini.


Lama keduanya saling berbicara dengan posisi berdiri, tanpa melihat bagaimana sosok Prawira yang mendadak bete.


"Oh iya, Awan kenalkan ini suami aku namanya Prawira. Dan Wira, kenalkan ini Awan Mahesa teman kuliahku di Jerman."  Arika saling memperkenalkan dua pria itu hingga keduanya pun saling berjabat tangan.


"Sayang. Ayo cepat di makan keburu dingin. Sebentar lagi jam istirahat kantor akan habis." Prawira memanggil sang istri dengan sebutan sayang membuat wajah Arika memerah malu.

__ADS_1


Pertama kalinya ia di panggil sayang oleh sang suami bahkan di depan orang lain. Ada rasa bahagia tentunya di hati Arika sendiri.


"Iya, Wir. Oh iya ayo makan bareng saja. Tidak apa-apa kan, Wir?" Arika bertanya pada sang suami.


Namun, Awan yang melihat wajah tak bersahabat sang suami temannya memilih untuk pergi. "Em maaf Arika. Saya harus segera pergi saat ini. Kalian silahkan menikmati makan siangnya. Next time kita bertemu lagi yah?"


Setelah kepergian Awan barulah Prawira menunjukkan kekesalannya yang sesungguhnya. Tangannya mengaduk aduk makan di piring hingga menyita perhatian Arika yang ingin menyuap makan ke mulutnya.


"Wira, ada apa? Makannya tidak enak?" tanya Arika dengan wajah lembut menghentikan makannya kala melihat sang suami seperti tidak baik.


"Siapa dia? Pernah dekat? Atau pernah pacaran? Sudah ngpain aja sama dia?" Pertanyaan yang frontal terdengar dari bibir Prawira tentu saja membuat Arika mengernyitkan kening heran  mendengar itu.


"Kamu kok bicaranya seperti itu?" tanya Arika heran tak habis pikir.

__ADS_1


"Arika, aku tahunya kamu adalah wanita baik-baik. Jangan sampai aku mendengar hal yang tidak-tidak dari orang lain yah?"


__ADS_2