Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Tekad Menjaga Sang Istri


__ADS_3

Tepat di sore hari akhirnya dua pria yang di tunggu kedatangannya sejak pagi sama-sama tiba di rumah sakit. Algam dan Prawira bertemu di depan loby rumah sakit.


“Ayah,” sapanya kaget. Pasalnya ia berpikir jika sang mertua sudah berada di rumah sakit sejak tadi.


“Loh kamu kapan datang?” Algam justru bertanya balik. Ia mengira jika sang menantu sudah berada di rumah sakit dan mungkin saat ini Prawira baru saja dari luar sebentar pikirnya.


“Ini saya baru tiba, Ayah.” jawabnya. Lantas keduanya kompak melangkah menuju ruang dimana Arika di rawat.


Beberapa koridor mereka lewati hingga keduanya berakhir di depan ruang rawat Arika. Ketukan pintu beberapa kali membuat tangan Algam membuka langsung pintu yang tidak di kunci itu.


Hal pertama yang keduanya lakukan adalah menghela napas kasar. Arika tak seburuk pikiran mereka. Arika baik-baik saja. Tak ada luka serius yang terlihat di sana.


“Kalian baru datang?” Pertama kalinya bertemu, Anggi mencecar dua pria itu pertanyaan dengan tatapan tajam.


Marah tentu saja ia sangat marah, seharian menunggu Arika dengan keadaan cemas, namun kedua pria di depannya entah sibuk dengan perkerjaan yang benar-benar penting atau hanya pekerjaan biasa yang di pentingkan.


“Apasih, Bu? Kami baru saja datang. Kenapa menatap seperti itu? Arika baik-baik saja kan? Ayah sangat sibuk hari ini.” Algam menjawab pertanyaan sang istri dan kini beralih mendekati sang anak.


“Arika, apa yang sakit, Nak? Kenapa bisa kecelakaan? Apa kamu tidak hati-hati? Hem?” Pelan lengan pria paruh baya itu memegang pergelangan tangan sang istri.


Ia memeriksa tubuh sang anak sembari memegang bagian pipi Arika.

__ADS_1


“Maaf sudah buat kalian cemas. Arika kurang hatu-hati saja, Ayah.” ujarnya tak ingin masalah semakin panjang.


Algam menganggukkan kepala mengusap lembut rambut sang anak. Sedang Prawira pria itu melangkah mendekat tanpa berkata apa pun. Hanya kedua manik matanya saja yang memperhatikan keadaan sang istri.


“Kenapa bisa seperti ini?” tanyanya pada sang istri. Bahkan Arika tampak membuang wajahnya dari hadapan sang suami.


Ia tahu satu hari ini Prawira tak memiliki kesibukan. Entah apa yang pria itu lakukan di rumah sampai tak mau menjawab panggilan sang ibu. Namun, mengingat kedua orangtuanya berada di ruangan itu, Arika tak ingin membuka masalah rumah tangganya.


“Ibu dan Ayah sebaiknya pulang saja. Kalian harus istirahat cukup. Dan Ibu jaga kesehatan Ibu, jika Arika kenapa-napa hanya Ibu dan Ayah yang bisa merawat Arika.” Ucapan penuh makna itu membuat Prawira meneguk kasar salivahnya.


“Arika, apa yang kau bicarakan? Aku akan merawatmu. Hanya saja hari ini aku ketiduran. Aku sangat lelah sampai tidak mendengar ponselku berbunyi.” Prawira memegang tangan sang istri berusaha menjelaskan namun Arika memilih diam saja.


“Em Prawira, Arika, sudah mau malam. Ibu dan Ayah harus segera pulang. Besok ibu kemari lagi untuk membantumu. Kata dokter tadi besok Arika sudah pulang, Wir.” ujar wanita paruh baya itu usai ia berbicara dengan sang anak kini beralih pada sang menantu.


Menyadari jika di ruangan itu tak hanya mereka berdua, Prawira memilih bungkam. Biarkan kedua mertuanya dulu pergi barulah ia bicara dengan sang istri.


“Hati-hati yah, Bu, Ayah.” tutur Arika mengembangkan senyum tipisnya.


Begitu pun dengan Prawira. Pria itu mencium punggung tangan sang mertua dan membiarkan mereka pergi dengan Prawira mengantar di depan pintu.


Kepergian sepasang suami istri itu kini meninggalkan kecanggungan di dalam ruang rawat Arika. Dimana Prawira berjalan mendekati sang istri.

__ADS_1


“Pergilah! Aku ingin istirahat sendiri di sini.” pintah Arika dengan menatap dalam mata sang suami.


Bayangan jika di rumah seharian Prawira menghabiskan waktu dengan Lisa benar-benar membuat Arika muak. Ia sungguh jijik satu ruangan dengan sang suami.


“Sebaiknya jangan berpikir macam-macam, Arika. Aku akan tetap di sini menjagamu. Sebab besok aku harus kerja.” pintah Prawira.


Bukannya menurut, Arika justru terkekeh mendengar penuturan sang suami.


“Bekerja dengan yang mana lagi? Aku bahkan tak mengharapkan kamu di sini. Aku tidak ingin virus wanita di luar sana kau bawa ke ruanganku ini, Wir. Maka pergilah.” pintahnya dengan sangat kesal.


Satu hari berada di rumah sakit membuat Arika benar-benar kesal. Jika saja tak ada sang ibu yang menjaganya, entah siapa yang akan menemani Arika satu hari ini. Memiliki suami rasanya seperti tak memiliki suami bagi Arika.


“Dengar Arika. Aku akan tetap di sini. Sekali pun kau mengusirku, aku tetap menjagamu di sini.” Baru saja Arika menghela napas mendengar ucapan sang suami, tiba-tiba saja ponsel milik Prawira berdering tanda panggilan masuk.


Jujur semarah apa pun Arika, mendengar Prawira yang kekeuh untuk tetap menjaganya tentu saja ada rasa tenang sedikit yang ia dapatkan.


“Halo, iya.”


“Apa?” Wajah kaget dan mata membulat milik Prawira dapat terbaca jika sedang terjadi sesuatu yang buruk.


Entah mengapa rasa tenang yang baru saja Arika dapat tiba-tiba membuatnya ingin marah, seolah ia sudah bisa menduga jika sebentar lagi sang suami akan pergi.

__ADS_1


__ADS_2