Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Ketertarikan Arika


__ADS_3

Semalam sejak pulang Arika sama sekali tak berniat keluar dari kamar. Keluar kamar sama saja rasanya menambah perih di hatinya. Sementara Prawira tampak tidak berada di rumah. Ia menghabiskan waktu bersama Ketty di sebuah hotel.


Pikirannya yang kalut ingin meminta di hibur oleh sang kekasih. Keduanya sudah keluar dari rumah sejak sore tadi.


Tinggal Lisa yang menemani Arika di rumah. Ia tak habis pikir melihat tingkah Ketty yang benar-benar melebihi dirinya.


“Dasar sudah numpang tinggal, numpang suami Nyonya lagi.” ujarnya kesal melihat Ketty yang bergandeng mesra dengan Prawira.


Salah satu hotel berbintang menjadi pilihan Ketty dan Prawira saat ini. Keduanya menghabiskan malam bersama di kolam renang. Setelah itu mereka menikmati makan malam dan berpesta kembali di atas tempat tidur.


Di sini Lisa mengetuk beberapa kali kamar Arika.


“Nyonya, Nyonya Arika! Saya bawa makan malam untuk anda.” tuturnya sopan.

__ADS_1


Kali ini Lisa justru tidak tega melihat Arika yang terus sedih. Meski ia juga tergila-gila pada Prawira tapi Lisa tak habis pikir dengan perlakuan Prawira yang membawa wanita lain tinggal di rumah dan banyak memberi waktu lebih dari pada sang istri.


“Lisa, bawa kembali saja makanan itu. Aku tidak lapar.” sahut Arika tanpa mau menatap Lisa. Ia bergerak membalik tubuhnya yang berbaring menjadi memunggungi Lisa.


“Nyonya, anda harus makan meski sedikit. Anda bisa sakit, jika anda sakit maka mereka akan semakin senang.” tuturnya berusaha memberi semangat pada Arika.


Mendengar itu Arika seketika membangunkan tubuhnya dari tidur. Mata sembab, bibir kering dan pucat membuat Arika benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


Ingin menegaskan semuanya, tapi ia harus bertentangan dengan sang ayah. Pada akhirnya dirinyalah yang tetap bersalah.


Sumpah demi apa pun, Arika sangat tidak takut kehilangan sosok Prawira. Ia hanya takut jika sang ayah sampai murka padanya.


“Anda harus sehat, Nyonya. Tata kembali hidup anda. Anda wanita sukses dan hebat. Masa depan anda masih panjang dan banyak hal indah yang bisa anda dapatkan.” Untuk kali ini Arika benar-benar termotivasi dengan ucapan Lisa.

__ADS_1


Ia sungguh sangat bersyukur mendengar ucapan Lisa. Akhirnya Arika duduk dan memakan makan malamnya. Melihat itu Lisa sendiri merasa puas dan tenang.


Barulah ia berpamitan keluar setelah memastikan Arika makan dan minum sampai selesai.


“Nyonya, saya ke dapur dulu.” pamitnya.


Selepas kepergian Lisa, Arika tampak mulai bekerja. Tangan yang menari di atas keyboard laptop tak lagi menggunakan cincin pernikahan.


Senyum merekah saat Arika begitu semangat. Beberapa kali pun ia tampak bergabung di grup kelas alumni semasa kuliah. Pembahasan menarik mengenai rencana mereka untuk reuni.


Arika sangat senang malam ini. Ia pun juga turut berbalas pesan dengan Awan. Pria yang selalu ada di dalam sedihnya mau pun senangnya akhir-akhir ini.


“Good night, Arika.” pesan terakhir dari Awan yang membuat Arika tersenyum.

__ADS_1


Pesan singkat yang sama sekali bukanlah arti apa pun. Namun, entah mengapa Arika yang haus akan perhatian seolah mengartikan kata itu sebagai ucapan sangat romantis.


Satu malam membuatnya lupa akan semua masalah. Sampai tertidur pun Arika terbayang dengan wajah Awan yang tampan. Tubuh yang lebih tinggi dari suaminya. Dan penampilan yang jauh lebih modis.


__ADS_2