
Selesai urusannya dengan sang wanita yang manja lebih dari sang istri, kini Prawira akhirnya tiba di kamar. Dimana sang istri sudah duduk di sisi tempat tidur dengan tatapan yang kian tajam. Sumpah demi apa pun Arika benar-benar murka melihat sang suami masuk ke dalam kamarnya.
Sadar akan tatapan mata sang istri, Prawira tampak menghela napas pelan dan berjalan mendekati sang istri. Pelan namun pasti ia menggenggam tangan Arika. Namun, belum sampai dua detik Arika sudah menari kasar tangannya.
“Arika, maafkan aku. Aku terpaksa membawanya ke sini.” Prawira memohon dengan tulus sebab dirinya pun sadar jika ini semua bukan keinginannya.
Pria itu refleks mengiyakan permintaan Ketty tanpa kata.
Hanya bisa membuang pandangan yang Arika lakukan. Sekedar menatap wajah pria yang ia cintai saat ini sungguh tak ingin ia lakukan. Tak percaya rasanya bisa jatuh hati pada pria tak berperasaan seperti Prawira.
Wanita itu bergegas menuju tempat tidurnya dan merebahkan tubuh serta menarik selimut. Tak ingin berdebat apa pun lagi dengan sang suami, apalagi sampai memintanya keluar dari kamar.
Arika sadar semarah apa pun ia tetap masih memiliki rasa dan harapan pada sang suami. Meminta Prawira keluar kamar itu sama saja artinya jika akan gelisah sepanjang malam memikirkan dimana suaminya tidur.
__ADS_1
Di rumah mereka malam ini ada dua wanita dan Arika sendiri tidak tahu siapa wanita yang baru saja di bawa oleh suaminya ke rumah mereka saat ini.
Melihat punggung sang istri, Prawira merasa percuma berkata apa pun. Sebab ia sudah salah membawa selingkuhannya masuk ke rumah ini.
“Jangan pernah lakukan membawa wanita siapa pun itu ke dalam kamar ini. Jika aku melihatnya usia pernikahan ini tidak akan panjang.” Ancaman yang terdengar begitu tegas membuat Prawira menoleh kembali pada sang istri.
Ia menggelengkan kepala. “Sampai kapan pun pernikahan kita tidak akan pernah berakhir, Arika. Pernikahan ini tetap ada selamanya.” Kekeuh Prawira berucap.
Sementara tanpa keduanya ketahui di kamar lainnya terjadi saling adu mulut. Lisa yang di perintah membereskan kamar untuk di tiduri oleh Ketty justru hanya berdiri sembari bersedekap tangan.
“Kenapa lihat saya?” tanya Ketty tak kalah sinis.
“Cepar bereskan tempat tidur. Saya sangat lelah berdiri.” Lanjut Ketty memerintah Lisa dengan gaya angkuh.
__ADS_1
Bahkan Arika sendiri pun tak pernah berkata angkuh padanya yang sesungguhnya majikan. Sementara Ketty, hanya wanita asing yang di bawa sebagai tamu justru dengan berani memerintahnya kasar.
Lisa yang tak suka mendekati wanita di depannya. Matanya menatap dari bawah sampai ke atas lalu tersenyum licik.
“Sama saja sepertiku. Itu artinya kau kemasi sendiri tempat tidurmu. Aku bukan pelayan wanita sepertimu.” Lisa tak perduli dengan Ketty yang memanggilnya. Alhasil Lisa bebas dari kerjaan mendadak malam itu. Ia memilih berbaring santai di tempat tidur sembari memikirkan sosok wanita yang ia belum tahu siapa sebenarnya.
Melihat tempat tidur yang tidak begitu kotor, tentu sangat rapi meski harus di bersihkan agar terhindar dari debu. Ketty yang keluar mencari keberadaan Prawira tak ketemu akhirnya kembali ke dalam kamarnya. Ia terpaksa membersihkan kamar sendiri lalu istirahat.
Penyakit yang ia derita memang bebar-benar ada meski tak separah yang Prawira lihat.
“Huh dasar pembantu si*alan! Bisa-bisanya memerintah aku seperti ini. Lihat saja besok aku akan adukan pada Wira. Biarkan saja dia di pecat sekalian.” Gerutu Ketty yang merencakan niat jahatnya kembali.
Tak puas hanya Arika saja yang ingin ia singkirkan, Lisa juga termasuk dalam list wanita yang harus ia singkirkan. Siapa pun yang menghalangi jalannya di rumah ini akan ia singkirkan tanpa belas kasih.
__ADS_1