
Wajah ceria nan hangat semula tiba-tiba saja berubah menjadi dingin kala sosok Anggi melihat kedua wajah di depannya tampak tertekuk. Keadaan sedang tidak baik-baik saja menurutnya. Pelan wanita itu menutup rapat pintu ruang sang suami.
Tak lupa juga ia meletakkan makan yang ia bawa di meja.
“Arika, Ayah, kenapa sepertinya tegang yah?” tanya Anggi menatap keduanya bergantian.
Algam justru menanggapi ucapan sang anak begitu tenang. “Ini Arika bicara soal perceraian. Heran sama anak zaman sekarang. Mudah sekali berpikir cerai.” ujar pria itu usai menghela napas kasar, Algam bergegas menuju sofa untuk melihat makan siang yang Anggi bawakan.
Sementara mendengar ucapan itu, ada firasat yang tak enak dari tatapan wajah wanita itu pada sang anak.
“Arika, kamu baik-baik saja? Perceraian itu bukan untuk kalian kan?” tanyanya menatap dalam sang anak.
Bukan Arika yang bersuara, justru Algam yang lebih cepat angkat suara kala itu.
“Ibu bicara apa sih? Tidak ada perceraian untuk keluarga kita. Arika, ingat! Perceraian tidak akan ada. Jangan buat keluarga malu. Bahkan kamu dan Prawira baru saja resmi menikah. Bagaimana mungkin sudah membahas cerai?”
__ADS_1
Kerasnya ucapan sang ayah sontak tanpa tahan Arika menjatuhkan air matanya.
“Jika pun pernikahan Arika tidak baik-baik saja. Apa Ayah tetap meminta kami tetap bersama? Apa Ayah tidak perduli dengan harga diri Arika sebagai seorang istri?” Suara pemuh emosi terlontar dari bibir Arika.
Wanita itu mulai berani buka suara tentang apa yang ia rasakan saat ini. Setidaknya ia tidak ingin jika semua semakin menyakitkan.
Kening Anggi mengernyit mendengar perdebatan demi perdebatan sang suami dan anaknya.
“Ayah, tenang dulu. Arika biarkan dia bicara. Ini semua juga karena Ayah yang main jodoh-jodohkan. Lihat, Arika yang menderita jadinya kan?” Amarah dan emosi Algam naik melihat sang istri justru membela sang anak.
“Apa penyebab kamu mengatakan cerai? Prawira satu-satunya pria yang tepat Ayah pilihkan untuk kamu, Arika.”
Arika tak langsung menjawab. Wanita itu menahan sesak di dadanya. Tarikan napas ia ambil dalam-dalam kemudian ia hembuskan begitu kasar. Bahkan tubuhnya sudah bergetar.
“Gelar yang aku dapat saat ini rasanya tidak ada harganya, Ayah. Bahkan di rumah statusku sama dengan pelayan dan wanita lain di luar sana. Aku hanya wanita yang menjadi pemuas di ranjang suamiku sendiri. Aku hanya pemenang status istri. Tapi tidak untuk hak sebagai istri dari Prawira.”
__ADS_1
Arika melihat jelas bagaimana wajah kedua orangtuanya yang mendengarkan dengan seksama.
“Aku tinggal bersama para wanita yang juga memiliki suamiku, Ayah. Apa pernikahan itu masih harus ku pertahankan? Aku tidak sanggup. Bukan pernikahan seperti itu yang aku impikan.” Anggi mendekat dan memeluk tubuh sang istri.
Dimana ia merasakan sakit yang mendalam mendengar pengakuan sang anak.
“Yah. Harus tetap di pertahankan. Kamu seorang Dr, gelarmu akan di pandang tinggi semua orang. Jangan merendahkan dirimu dengan perceraian yang akan menambah gelarmu itu, Arika.”
Arika sontak menjatuhkan air matanya deras dan terduduk di kursi melihat respon sang ayah.
Sungguh tak menyangka jika orang yang paling menyayangi dirinya justru bertindak masa bodoh dengan perasaannya saat ini.
Menceritakan tentang kenyataan pahit yang ia alami berhadap akan mendapat pembelaan, ketenangan serta perlindungan. Nyatanya semua harapan tak sesuai dengan kenyataan. Sang ayah menegaskan jika apa pun yang terjadi tak akan ada kata cerai.
Melihat sang ayah yang sudah duduk menikmati makannya, Arika hilang selera untuk makan bersama. Ia berlari keluar ruangan tanpa mengatakan apapun sembari menangis.
__ADS_1
Arika tersedu-sedu berjalan menuju mobil. Bahkan teriakan sang ibu tak lagi ia perdulikan saat ini.