Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Permintaan Arika


__ADS_3

Danau yang membentang indah di depan halaman villa di negara Swiss kala itu seolah ikut memancarkan senyumnya melihat kebahagiaan sepasang yang tengah duduk berdua di atas perahu kecil. Satu pria duduk di belakang sebagai pendayung, sementara wanita cantik itu duduk di depan menikmati pelan perjalanan perahu mereka. Tak terasa kebahagiaan terus menghujani sosok Arika yang menerima bertubi-tubi perlakuan manis dari Awan.


Air mata yang selama ini serasa seperti mengiringi setiap hari perjalanan hidupnya tiba-tiba berubah menjadi kebahagiaan. Hanya ada air mata kebahagiaan yang ia keluarkan saat ini, bukan lagi air mata kesedihan seperti yang Prawira torehkan padanya.


"Menghadaplah kemari, Arika." titah Awan yang merasa sulit jika ia di belakangi oleh wanita itu.


Arika pun takut-takut merubah duduknya menjadi menghadap Awan. "Aku takut jatuh." ujar Arika. Namun tubuhnya tetap saja bergerak mengikuti perintah.


"Will you marry me?" sebuah cincin berlian putih terlihat di sodorkan oleh Awan pada Arika. Berbinar mata wanita itu menatap dalam sebuah cincin yang begitu indah menurutnya.


Arika terdiam, matanya terus berjatuhan air mata. Pelan ia pun menggelengkan kepala. "Aku belum bisa melakukannya, Awan. Aku masih sah menjadi istri dari Prawira. Beri aku waktu..." tuturnya.


Awan yang merasa Arika menolak secara halus sebab masih ada status akhirnya menurunkan tangannya lalu kemudian ia tersenyum dan menaikkan tangannya lagi.


"Anggap saja aku menitipkan cincin ini dulu di tanganmu. Nanti saatnya tiba aku akan memintanya lagi dan memasangkan di tanganmu sendiri. Cincin ini sudah terlanjur aku beli di sini aku takut jika sampai hilang." ujar Awan yang beralasan dan membuat Arika mau tidak mau harus menerimanya.


Arika juga ikut tersenyum di buatnya.


Keduanya kembali menikmati waktu berdua dengan berlibur kesana kemari, sebisa mungkin Awan mengusahakan menghibur Arika. Apa pun akan ia lakukan demi wanita di depannya saat ini.

__ADS_1


Satu bulan waktu yang mereka habiskan dengan bersama selalu. Bahkan keduanya sama-sama mengajutan cuti dari pekerjaan demi menikmati negara indah ini.


Hari ini adalah hari kepulangan Arika bersama Awan. Mereka tiba di bandara indonesia dengan masing-masing membawa koper.


"Ayo kita pulang naik taksi ini saja." ajak Awan yang sudah memesan taksi bandara.


Sayangnya Arika menolak, "Tidak. Aku akan pulang sendiri. Biarkan aku menyelesaikan semua masalahku sendiri." tutur Arika.


Mendengar itu tentu saja Awan tak bisa berbuat apa pun lagi. Ia pun patuh membiarkan Arika pergi seorang diri dan ia pulang ke rumahnya sendiri.


Tak di sangka jika setibanya di rumah Arika justru di sambut dengan hangat pelukan sang ayah dan ibu yang mencemaskan keberadaannya. Bahkan ia begitu di khawatirkan oleh kedua orang tuanya.


"Arika, akhirnya kamu pulang juga. Kenapa tidak memberi kabar pada ayah dan ibu? ponselmu begitu sulit di hubungi. Ibu benar-benar cemas sama keadaan kamu. Kamu baik-baik saja kan? Kamu sehatkan?" Anggi memerika setiap bagian tubuh sang anak.


"Arika baik-baik saja, Bu. Arika sehat. Lagi pula penyakit Wira itu tidak akan mungkin terkena  oleh istri yang tidak dia sentuh." tutur Arika menatap tajam sang ayah yang tertunduk.


Hening keadaan rumah seketika. Dan semua pun duduk di sofa keluarga.


"Apa kau tahu jika pria itu sudah tiada?" tanya Algam menatap sang anak. Sedikit Arika terkejut namun ia berusaha menenangkan diri.

__ADS_1


"Aku belum tahu, tapi aku sudah menduga itu akan terjadi." jawab Arika tenang.


Entah mengapa rasa sedihnya sama sekali tak bisa ia rasakan. Sebab hati Arika rasanya seperti sudah mati rasa dengan sang mantan suaminya.


"Selesai masa iddah aku akan melangsungkan pernikahan ku dengan pria pilihaku, Ayah." tegas Arika memberi tahu. Sebab saat ini ia sama sekali tak ingin lagi jika kehidupannya di atur-atur oleh sang ayah yang akan berakibat buruk lagi seperti sebelumnya.


Ingin marah mendengar ucapan sang anak, Algam yakin akan banyak mulut yang membicarakan keluarga mereka. Namun, rasanya Algam sudah cukup malu dengan mempertahankan sosok Wira untuk anaknya justru begitu hina akibatnya.


"Apa itu tidak kecepatan, Arika? Perceraianmu dengan pria itu saja baru beberapa hari di sahkan." ujar Anggi menatap sang anak dengan teduh.


Arika sejenak terdiam. Namun, sekali lagi ia tidak ingin mengundur niat baik dari Awan. "Tidak, Bu. Aku sudah memikirkan semuanya. Sudah cukup selama ini aku memikirkan pandangan orang lain, dan sekarang saatnya aku memikirkan diri sendiri." ujarnya menatap kembali sang ayah yang hanya diam.


***


"Benarkah kita akan menikah? Kita butuh waktu setidaknya satu tahun mempersiapkan semuanya." tutur Awan yang kaget saat bertemu Arika di salah satu cafe malam itu.


Bukannya mendengar ucapan Awan, Arika justru melepas cincin di jarinya dan memberikan pada Awan.


"Arika, dengarkan penjelasanku dulu." ujar Awan gelagapan saat mengira Arika membatalkan pernikahan dengan mengembalikan cincin itu padanya.

__ADS_1


Namun, Arika justru berucap. "Pasangkan cincin ini lagi di jariku. Aku mau pernikahan kita di lakukan usai masa iddah. Buktikan kalau kau benar mencintaiku." Awan meneguk salivahnya kasar tak habis pikir dengan tuntutan sang calon istri. Patuh ia pun hanya bisa mengiyakan.


"Baiklah, aku akan usahakan yang terbaik untuk pernikahan kita." tutur Awan tersenyum.


__ADS_2