Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Ketakutan Ketty


__ADS_3

Algam yang duduk di depan dokter kala itu menatap tak percaya mendengar penjelasan dokter tentang penyakit yang Prawira derita saat ini.


"Apa? AIDS, Dok? bagaimana mungkin menantu saya menderita penyakit memalukan itu? Tidak. Ini tidak benar anda pasti salah mendiagnosis." ujar Algam tak percaya.


Sayangnya sang dokter sudah mengatakan kebenarannya. Ia tidak menemukan penyakit lainnya selain penyakit menakutkan itu. Pada akhirnya Algam keluar dan menuju ruang rawat Prawira yang terbaring lemas.


Di tatapnya pria di depannya ini dengan tatapan sulit di artikan. Kini Algam tak bisa melakukan apa pun lagi selain membiarkan semuanya selesai. Meminta sang anak untuk tetap bersama Algam rasanya tidak akan mungkin terlebih ia tahu bagaimana sikap Prawira selama ini dengan sang anak.


"Aku harus menghubungi Surya. Wira harus di rawat olehnya. Aku sangat sibuk." tutur Algam dengan meraih ponselnya sendiri.


Mendengar kabar sang anak di rumah sakit serta penyakitnya sontak membuat Surya benar-benar tak percaya rasanya. Tanpa banyak berkata lagi, pria paruh baya itu segera menuju ke rumah sakit yang Algam sebutkan tadi.


Arika justru saat ini tengah menikmati liburannya di negara lain tentu tidak sendiri. Ia tengah menikmati mobil yang tanpa atap bersama seorang pria yang memang sudah berjanjian dengannya di negara itu.

__ADS_1


"Apa rasanya ini tidak sama buruknya? Aku mengikuti jejaknya dengan berstatus sebagai istri namun berjalan dengan pria lain?" tanya Arika pada pria di sampingnya yang fokus menyetir. Dia adalah Awan, pria yang beberapa hari belakangan ini diam-diam selalu masuk ke dalam bayangan indah Arika.


"Kita sama-sama menjaga kehormatanmu sebagai seorang istri. Dan anggap saja aku adalah guide pribadi untukmu selama di negara ini." seru Awan tersenyum tulus.


Arika pun melebarkan senyum. Hatinya sudah mantap memilih pria di sampingnya untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Mereka tentu akan sama-sama saling mengerti dengan profesi yang sama tentunya.


***


Saat sadar, Prawira meneteskan air mata melihat surat gugatan cerai yang sudah sampai di tangannya. Ia menggeleng tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Bahkan di rumah sakit dirinya hanya di temani oleh sang papah dan juga Lisa sebagai pelayannya.


Menunduk Lisa menggelengkan kepala tidak tahu.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu dimana Nyonya." jawabnya lirih.

__ADS_1


Prawira semakin menyesal saat ini. Semua orang di sekitarnya bahkan pergi tanpa tahu kemana tujuannya. Prawira benar-benar sakit ia seolah hanya menunggu usianya berakhir saat ini.


"Jangan bersedih, Tuan. Saya akan merawat anda semampu saya." lirih Lisa mengungkapkan niatnya itu.


Menilai Arika adalah istri yang buruk tentu saja ia tidak berhak sama sekali. Sebab selama ini Lisa sudah cukup melihat semua penderitaan yang Prawira berikan pada istrinya itu.


"Apa tujuanmu berkata begitu?" tanya Prawira menatap dalam mata Lisa.


Hingga beberapa waktu berlalu akhirnya pria itu pun keluar dari rumah sakit dan Lisa sudah menepati janjinya untuk ikut pulang ke rumah merawat sang majikan.


Benar, semua yang Prawira butuhkan dengan sabar Lisa menyediakannya.


Sementara Ketty di negaranya tampak berada di rumah sakit menunggu hasil pemeriksaan. Ia menunggu dengan wajah begitu takut dan cemas. Beberapa kali tangannya ia gigit kecil demi melampiaskan rasa gelisahnya dan takut.

__ADS_1


"Tidak, jangan sampai aku juga tertular. Tidak, aku tidak ingin itu terjadi padaku." ujarnya bergumam ketakutan.


__ADS_2