
Seminggu sudah berlalu, keadaan rumah tangga Arika justru bukannya membaik. Kini semakin memburuk. Ketty semakin menguasai isi rumah itu. Hingga Lisa pun tampak benar-benar tak habis pikir. Seperti yang terjadi pagi ini.
Di meja makan, Arika justru menikmati sarapannya sendiri tanpa melayani sang suami. Kedua matanya menyaksikan bagaimana Ketty meletakkan roti di piring dengan hasil tangannya sendiri yang mengoleskan selai untuk Prawira.
“Ya Tuhan, ini mataku sakit atau katarak sih? Ini benar kan bukan istrinya yang siapin sarapan? Perempuan itu benar-benar keterlaluan sekali.” Lisa di ujung lorong tampak mengumpat kesal.
Bukan cemburu, justru rasa prihatin di dirinya kian membesar pada sosok Arika yang tak pernah bersikap kasar padanya.
“Ket, sudah cukup.” Prawira menolak saat melihat wanita itu hendak menyuapkan sendok pada mulut sang pria.
Meski terlihat memalukan di wajah Ketty, namun Arika masa bodoh. Ia terus menikmati makan paginya dengan perasaan hambar sekali. Sesekali tangannya terdengar mendorong segelas air untuk ia teguk agar bisa menelan makanan.
Suasana yang sangat aneh di meja makan pun berakhir. Kini mereka bertiga berpindah ke arah depan rumah. Ketty membawakan tas kerja Prawira, sementara Arika memegang tas miliknya sendiri.
__ADS_1
“Arika,” Prawiran memanggil dengan kening yang mengernyit.
Arika menoleh acuh, ia menatap wajah sang suami dengan ketus. “Ada apa?” tanyanya.
“Kita berangkat bersama.” ujar Prawira tegas.
Bukannya jawaban iya yang di dapatkan. Justru Arika terkekeh kecil dan menoleh ke arah lain dimana sebuah mobil sudah datang menjemputnya.
“Aku pergi dulu. Bekerjalah dengan baik. Kebutuhan wanita di luar sana berbeda dengan kebutuhanku.”
“Mulutnya terlalu lancang!” gumam Ketty yang sengaja ia perdengarkan pada Prawira.
Bukannya mendapat jawaban pembelaan. Pria itu justru diam menatap kepergian sang istri. Jelas ia tahu siapa pria yang menjemput Arika saat ini. Dia adalah Awan. Teman sang istri yang baru beberapa saat ia lihat.
__ADS_1
“Apa-apaan Arika? Ini sama saja merendahkan harga diriku sebagai suami!” geram Prawira dalam hatinya.
Wajah tampan yang mendadak galak itu bergerak mengikuti laju mobil yang kian menjauh membawa sang istri.
“Wir, mau kemana?” Ketty berteriak saat melihat Prawira melangkah cepat dan melajukan mobil usai menarik kasar tas kerjanya.
Tak ada ucapan perpisahan pagi itu untuk sang kekasih. Prawira kacau hatinya kala merasakan dadanya seperti terbakar. Sepanjang menyetir mobil pun ia beberapa kali memukul stir mobil demi melampiaskan kemarahan di hatinya.
“Tidak, aku baik-baik saja. Yah, aku baik-baik saja. Arika adalah istri yang baik. Dia tidak akan mempermalukan aku sebagai suaminya. Dia wanita berpendidikan. Bagaimana mungkin melakukan hal rendahan seperti itu?”
Berbeda dengan yang di pikirkan. Arika justru pergi ke kampus bersama dengan Awan. Sesuai janji ia akan membawa Awan untuk bertukar tempat mengajar beberapa waktu. Setidaknya mereka bisa saling bertukar pendapat selanjutnya.
Di kelas Arika memperkenalkan Awan dengan seisi kelas itu. Bahkan ide dari Arika mendapat sambutan baik dari para mahasiswa di kelas mengajarnya.
__ADS_1
Singkat cerita, waktu kelas pun usai. Arika keluar kelas bersama Awan menuju lorong kampus.
“Arika! Apa-apaan ini!” Suara bariton mendadak mengejutkan keduanya yang saling berjalan dan tertawa.