
Di kediaman Algam, air mata menetes seketika. Tubuh tersandar pada dinding sementara tangan yang memegang ponsel gemetar usai mendengar kabar dari rumah sakit. Gelengan kepala rasa tak percaya membuatnya sulit menyadarkan diri dari rasa syok.
“Arika.” Tangis yang kian pecah menyebut nama sang anak satu-satunya.
Tanpa kata segera Anggi bergegas menuju mobil dan meminta sang supir mengantarnya. Sepanjang jalan tak hentinya ia mengusap air mata yang terus berjatuhan.
“Ayah, kemana sih? Ayolah angkat, Yah.” gumamnya beberapa kali menghubungi sang suami. Ingin mengirim pesan namun rasanya getaran tangannya tak bisa bergerak lancar di layar ponsel miliknya.
“Arika…kenapa bisa seperti ini, Nak. Semoga kamu baik-baik saja, Sayang.” ujar Anggi.
Dua puluh menit ia menempuh perjalanan pagi itu namun tak cukup memberi waktu untuk mendapat jawaban sang suami.
Algam yang di ruang meeting tengah berhadapan dengan banyaknya rekan bisnis tak sempat memeriksa ponsel. Ia fokus bekerja demi keberlangsungan kampus yang berdiri atas namanya.
__ADS_1
Satu orang yang di harapkan oleh Anggi adalah Prawira. Kembali tangannya menghubungi pria itu sembari berjalan cepat menuju ruangan di mana sang anak berada saat ini.
“Kemana sih? Kenapa semuanya tidak bisa di hubungi?” Rasanya ingin sekali Anggi berteriak. Kala sang suami dan menantu tak ada yang menjawab panggilannya.
Suasana saat ini sungguh membuatnya pusing. Tak bisa berpikir lebih tenang lagi. Arika sedang tidak baik-baik saja. Dan suami yang di pilihkan suaminya bahkan tak bisa di andalkan sama sekali.
Sama halnya dengan Yeni yang menunggu kehadiran sang boss di perusahaan tampak gelisah. Berapa kali wanita itu mondar mandir di ruang kerja Prawira menantikan kehadiran pria itu, namun tak kunjung melihat kehadirannya juga.
“Sejak kemarin aku di cuekin terus. Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Prawira harus kembali bertekuk padaku.” Yeni dengan kekeuh berniat untuk mengendalikan pria itu lagi.
Gelisah tanpa tahu arah, Yeni memilih untuk menghubungi sosok sang boss kembali. Ia mengumpat kesal saat panggilannya tampaknya bertabrakan dengan panggilan lainnya.
Di ruangan kamar inap, Arika baru saja membuka matanya. Ia melihat satu-satunya orang yang menunggu kesadarannya entah sejak kapan.
__ADS_1
“Ibu…” lirihnya meringis sakit. Kepala yang di perban terlihat jelas menjadi alasan Arika mengadu kesakitan.
“Arika…kamu sadar juga, Nak. Sudah berbaring saja jangan banyak bergerak dulu, Sayang.” tutur Anggi memegang lengan sang anak.
Arika mencari sosok yang tak ia lihat di sekeliling ruangan itu. Tak ada siapa pun selain sang ibu, air matanya pun kembali jatuh.
Kecelakaan yang menimpa dirinya bahkan di akibatkan oleh sang suami yang saat ini tak menampakkan batang hidungnya.
Sontak Anggi paham dengan tatapan mata sedih sang anak.
“Ibu sedang menghubungi Ayah dan Prawira. Mereka sepertinya sedang sibuk di kantor dan tidak melihat ponselnya. Sebentar lagi pasti mereka menghubungi Ibu. Kamu tenang saja yah? Mereka akan segera datang.” Anggi tak ingin membuat sang anak sedih dan tak ingin membuat suami dan menantunya terganggu kerjanya juga.
Setidaknya ia sudah memastikan keadaan Arika tak begitu parah.
__ADS_1
“Terimakasih, Bu.” ujar Arika terharu kini memiliki sosok ibu yang selalu ada untuknya.
Pelan wanita paruh baya itu memeluk tubuh sang anak. Melampiaskan kesedihannya yang terasa takut kehilangan sang anak.