
Prawira yang berdiri sedang bicara dengan Ketty terpaksa mengalihkan fokus pada sang istri yang melewati tubuhnya. Arika bergegas menuju keluar hendak ke kampus, dan itu membuat Prawira mengerjarnya.
“Arika, Arika!” Prawira memanggil seraya menarik tangan sang istri.
Di mana Arika secepat mungkin menepis kasar tangan itu. “Jangan sentuh tubuhku sedikit pun. Sebaiknya kau mengurusi para wanita itu saja.” Arika masuk ke mobil tanpa perduli dengan tubuhnya yang lemah.
Niat ingin istirahat di rumah untuk memulihkan tubuh rasanya percuma jika ia harus berada satu rumah dengan dua wanita yang menjijikkan. Hingga Arika memutuskan tetap bekerja dan bertemu dengan banyak orang di luar sana. Tentu itu akan sedikit menghiburnya.
Prawira yang tidak bisa mencegah kepergian sang istri akhirnya memilih ikut meninggalkan rumah dan pergi ke perusahaan. Hingga dua wanita yang memiliki hobi sama-sama berdiam diri di rumah itu.
“Huh kenapa Wira juga harus pergi sih? Seharusnya dia merawatku di sini.” Ketty menggerutu sembari bersedekap tangan di depan dada.
Sayang, gerutuan itu terdengar oleh telinga Lisa. Dimana ia pun terkekeh dan mendekati Ketty.
“Wah wah wah ternyata ada yang memakai sakit sebagai senjatanya yah? Ternyata kamu wanita sangat licik.” sindirnya seraya menyenggol keras lengan Ketty.
Berniat hanya ingin mengejek, perilaku Lisa sontak membuat Ketty panas. Ia segera mendoro balik tubuh Lisa yang membelakanginya hingga wanita itu terjerembab pada belakang sofa.
“Aw! Berani sekali kamu.” Teriak Lisa meradang.
__ADS_1
Ia membalikkan tubuh hendak menyerang Ketty. Segera Ketty melayangkan tamparan keras di pipi Lisa.
“Kamu yang berani! Saya bisa meminta Wira mengusi kamu tanpa satu benangpun dari rumah ini. Jadi,” Tangan Ketty mencengkram kuat rahang tegas milik Lisa.
“Jangan pernah macam-macam dengan saya.” lanjutnya.
Bukannya takut, Lisa justru balik menendang perut Ketty yang semula memang sudah tak enak rasanya.
“Rasakan itu! Berani melawan saya tinggal pilih mau muntah isi perut atau muntah darah. Jangan kira saya akan takut dengan wanita memalukan sepertimu!” Melihat sang lawan yang lemas menahan sakit di perutnya, Lisa sontak berjalan berlenggak lenggok menuju kamar.
Satu hari ini akan ia gunakan untuk memanjakan tubuh, bukan untuk membereskan rumah sang mantan.
“Sialan! Pelayan tidak tahu malu!” Makinya berteriak lantas membuat langkah Lisa kembali padanya.
Lisa tersenyum sinis padanya. Ia menunduk guna mendekatkan wajahnya pada Ketty.
“Pelayan apa? Sialan? Setidaknya itu jauh lebih terhormat dari pada pelakor sialan. Pelayan sialan akan jauh lebih terhormat hahaha…” tawa puas itu terus menggema mengiringi kepergian Lisa yang justru sudah memesan taksi online.
Ketty sungguh tak habis pikir melihat pelayan seperti Lisa. Bahkan ia berpikir di rumah ini hidupnya akan di layani seperti seorang ratu. Sayang semua angannya hanya harapan belaka.
__ADS_1
Tinggal di rumah atau pun di apartemen sama saja tetap sendiri.
Rumah yang luas dan megah membuat Ketty menatap sekeliling. Tak ada hal yang menarik hingga pandangannya jatuh pada satu pintu kamar di mana Prawira dan Arika keluar dari sana pagi tadi.
“Menarik.” ujarnya lirih sembari melangkah menuju kamar yang ia tatap sedari tadi pintunya.
***
Singkat cerita usai mengajar, Arika duduk di ruang kerja sang ayah. Dimana ia berdua saling berhadapan dengan serius.
“Ibu kamu sebentar lagi juga tiba. Tunggulah sebentar untuk makan siang bersama.” pintah Algam pada Arika.
Keduanya duduk dengan keadaan hening. Lalu tiba-tiba tak lama dari itu Arika bersuara dengan hati-hati.
“Ayah, apa perceraian itu bukanlah hal yang Ayah anggap aib?” tanyanya dengan penuh kewaspadaan. Takut jika sampai sang ayah mendadak marah atau terkena serangan jantung.
Sontak mendengar itu raut wajah Algam berubah. “Apa itu, Arika? Perceraian tentu saja adalah aib yang sangat memalukan.” jawabnya dengan nada sedikit meninggi.
Ketegangan pun terjadi. Arika beberapa kali menggenggam tangannya sendiri memberanikan diri untuk bicara sejujurnya pada sang ayah.
__ADS_1
Hingga pembicaraan yang hendak ia mulai kembali harus terhenti dengan suara ketukan pintu di luar sana.