Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Permintaan Ketty


__ADS_3

Tepat dengan dugaan, Prawira yang menutup panggilan dengan wajah cemas ia menatap sang istri yang juga menatapnya. Arika menunggu apa yang akan Prawira katakan saat ini. Dalam hitungan beberapa detik, kata yang ia tunggu pun akhirnya terdengar juga.


“Arika, aku harus pergi.” ujar Prawira berusaha setenang mungkin bicara dengan Arika.


Meski ia melihat jelas saat ini wajah Arika begitu menahan amarah, matanya bahkan sudah berkaca-kaca menatap wajah pria itu.


“Arika,” Prawira menarik napas dalam lalu menghembus pelan. Ia memegang lengan Arika dan mendekatkan tatapan mata mereka.


“Teman aku dalam kondisi memprihatinkan. Dia pingsan dan seseorang menghubungiku. Secepatnya aku akan segera kembali,” Tak ada jawaban yang Arika berikan, Prawira bergegas pergi usai mencium kening sang istri.


Pria itu menutup rapat pintu ruangan dan segera melajukan mobil menuju ke sebuah apartemen. Bukan apartemen milik Yeni, melainkan apartemen milik Ketty.


Sepanjang jalan rasa cemas terus menyergap isi pikiran pria itu, sementara tanpa ia ketahui jika Arika sudah melepas paksa infus di tangannya. Tak perduli jika darah keluar menetes dari tangan wanita itu. Arika menahan sakit yang tak seberapa menurutnya.


Pusing di kepala ia acuhkan saat ini. Arika memilih keluar rumah sakit dan meminta orangnya untuk menyelesaikan administrasi esok harinya.


Sepanjang jalan Arika berusaha kuat tiba di rumah. Pikirannya jika Prawira kembali ke rumah dan menghabiskan waktu bersama sosok Lisa. Sayang, dua puluh menit menempuh perjalanan, Arika tiba di rumah tanpa melihat keberadaan sang suami.

__ADS_1


Pandangannya mengedar mencari keberadaan Prawira, hingga suara dari Lisa membuatnya menoleh.


“Nyonya, anda sudah pulang?” tanya Lisa dengan antusias. Bukan fokus pada Arika, Lisa justru menatap ke arah belakang tubuh Arika mencari sosok yang tidak ia lihat keberadaannya.


“Dia tidak bersamaku pulang ke rumah.” Mengerti akan tatapan sang pelayan, Arika sontak berucap yang membuat Lisa kikuk.


Ketahuan jika ia sedang mencari suami orang lain.


Melihat kelakuan Lisa yang begitu memuakkan, Arika hanya menggeleng pelan lalu menuju ke kamarnya. Berhadapan dengan Lisa sungguh membuat kepalanya semakin pusing rasanya.


“Jika Lisa di rumah sendiri, dimana dia sekarang? Siapa teman yang ia maksud itu?” gumam Arika bertanya. Sosok sang suami yang tak menampakkan batang hidungnya di rumah itu.


Tanpa kedua wanita itu sangka jika pria yang tengah mereka pikirkan kini justru sibuk mengurus wanita lain.


Yah, Prawira mengurus Ketty yang tampak memuntahkan isi perutnya di wastafel apartemennya.


“Kita ke rumah sakit saja, Ket. Kamu sangat parah muntahnya.” ajak Prawira begitu perhatian.

__ADS_1


Wajah cantik seksi dan menggoda yang biasa ia lihat kini begitu pucat. Ketty tak hentinya memuntahkan isi perutnya.


“Nggak, aku sudah periksa tadi. Obat juga sudah di kasih sama dokter. Katanya asam lambungku naik, Wir.” Lemah Ketty menjelaskan.


Prawira berpikir sejenak, “Kamu sering telat makan, dan makanan yang kamu konsumsi pasti sembarangan.” ujarnya membuat Ketty hanya bisa mengangguk.


“Aku tinggal sendirian, siapa yang perhatikan makananku, aku mau kamu tinggal sama aku, Wir. Di sini aku kesepian, selera makanku juga begitu buruk.” Ketty mengeluhkan kesendiriannya di apartemen mewah itu.


Meski sebenarnya ia tak pantas mengeluh dengan semua yang sudah Prawira berikan untuknya.


“Aku ingin tinggal di rumahmu saja, Wir.” Lirih ia berucap dengan menampakkan wajah sedihnya. Sontak kedua mata Prawira membulat sempurna mendengarnya. Ia menengadah kaget mendengar ucapan Ketty.


Sempat terkekeh mendengarnya, Prawira merasa Ketty sedang bercanda saat ini.


“Hah kamu ada-ada saja kalau bercanda, Ket. Jangan mengada-ngada yah? Itu bukan hal yang lucu sama sekali.” kekehnya menggeleng tak percaya.


Namun Ketty justru menampakkan wajah yang serius. “Aku nggak mengada-ngada, Wir. Aku serius. Aku mau tinggal di rumah kamu saja. Dengan begitu aku ada teman dan bisa makan dengan teratur bersama kalian. Boleh kan?”

__ADS_1


Susah payah Prawira menelan ludah paksa.


__ADS_2