Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Menikmati Sekretaris


__ADS_3

Di rumah sakit seorang pria tampan tengah mondar mandir memijat kepalanya yang terasa pusing lantaran tidak bisa tenang memikirkan sang teman yang tiba-tiba saja pingsan. Yah, Arika pingsan di dalam tangkapan tangan sosok Awan. Pria yang tak sengaja pernah bertemu dengannya saat bersama Prawira. Dokter di dalam ruang UGD memeriksa keadaan Arika, sementara Awan menunggu dengan cemas di depan. Ia tidak tahu harus menghubungi siapa sebab menelpon keluarga Arika pun ia tidak tahu bagaimana. Tak ada nomor yang bisa ia hubungi. Keluarga Algam bukanlah keluarga sembarangan yang bisa mengangkat panggilan dari nomor asing.


Hingga tak lama kemdian, Awan melihat seorang dokter baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan. Segera ia berjalan cepat mendekati dokter itu.


"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Awan.


"Keadaan pasien tidak begitu parah. Saya sudah memberikan penurun demam. Nona Arika adalah orang yang rentan sakit jika lelah sedikit saja atau memiliki pikiran yang cukup berat. Sepertinya salah satu dari itu penyebab tubuhnya drop. Sebab ini bukan pertama kalinya beliau kemari." Sang dokter bahkan sampai hapal penyakit wanita cantik itu.


Awan yang mendengar penuturan dokter akhirnya bisa menghela napas lega. Setidaknya Arika tak menderita penyakit serius dan lagi pula dokter di depannya sudah biasa menangani Arika.


"Anda bisa menjenguknya sekarang juga. Silahkan." pintah sang dokter yang langsung Awan lakukan.


Ia masuk ke ruangan di mana Arika ternyata sudah sadar namun masih tampak lemas. Bahkan satu botol infus sudah terpasang di pergelangan tangannya.


"Arika,"


"Awan?" Arika begitu kaget melihat sang teman yang ada di depannya.

__ADS_1


"Kamu yang membawaku kemari? Aku pikir Ayahku." ujarnya.


Awan tampak tersenyum tanpa berkata apa pun juga. Ia paham jika kehadirannya pun juga tentu tak di harapkan oleh Arika.


Berada di dalam ruangan yang sama hanya berdua tanpa ada satu orang pun membuat Arika merasa canggung begitu pun dengan Awan. Keduanya hanya saling bertatap mata dan sekilas kembali mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Aku akan hubungi suamiku dulu." ujarnya.


***


"Tuan, ponsel anda bergetar." tutur Yeni yang di seberang sini tampak memegang ponsel sang tuan saat ada meeting.


"Halo," suara yang di buat selembut mungkin sontak membuat Arika membulatkan matanya. Gemetar tanganya menjauhkan ponsel itu dan melihat siapa nama yang ia telepon saat ini.


Memastikan dengan benar, Arika melihat jelas jika nomor yang ia hubungi adalah nomor sang suami. Ia pun mematikan panggilan itu sepihak dan semakinĀ  membuat Yeni tersenyum begitu puas. Wanita itu terkekeh dalam hati namun secepat mungkin ia merubah wajah seriusnya kembali.


Satu jam berlangsung, kini waktunya meeting pun berakhir. Prawira merasa puas dengan hasil kerja hari ini dan ia pun mengajak sang sekertaris untuk makan siang. Keduanya makan di restaurant dekat dengan kantor.

__ADS_1


"Aku ingin duduk di sini." Manja Yeni menunjuk kursi di samping sang tuan. Ia berniat menempel dengan pria yang tak lain suami orang itu.


Melihat keadaan sekitar, Prawira memastikan tak ada orang terdekat atau yang memperhatikan mereka. Ia pun hanya bisa mengangguk.


"Duduklah." ujarnya di sambut senyuman puas oleh Yeni.


Makan berdua dengan jarak yang begitu intim, tak puas sampai di situ. Yeni berusaha menyuapi dan mengusap bibir sang tuan. Ia benar-benar suda memerankan sebagai istri dari Prawira.


"Setelah ini apa jadwal kita selanjutnya, Yen?" tanya Prawira dengan santai menikmati makannya.


Yeni yang beberapa kali mengusap paha sang tuan di bawah meja mendekatkan wajahnya. "Kosong, hanya besok pagi ada pemilihan untuk pemegang proyek kita yang di luar kota, Tuan. Apa anda akan langsung pulang?" tanyanya yang justru di artikan oleh Prawira adalah sebuah kode.


Pria itu pun menatap kedua mata Yeni dan beralih menatap bibir yang sangat menggodanya itu. "Kau yang membuat tanda di dadaku? Apa kau juga yang mematikan telepon dari Arika?" tanyanya dengan wajah yang sama sekali tak menunjukkan marah pada sang sekertaris.


Bukannya takut ketahuan oleh Prawira, Yeni justru meliukkan tubuhnya demi menyentuhkan bagian dada pada lengan sang tuan.


"Aku hanya tidak sengajak menekan tombol di ponsel anda, Tuan. Saya saat itu sedang mengganti nama kontak saya di ponsel anda." Ia meraih ponsel Prawira yang sejak tadi belum ia berikan. Melihatkan nama yang sudah ia rubah di sana dari yeni menjadi Wanitaku.

__ADS_1


Melihat itu tampaknya Prawira acuh. Ia menikmati apa pun yang Yeni sentuh di tubuhnya. Hingga tanpa ia sadari jika dari arah lain ada sepasang mata yang memperhatikan hal itu dengan samar-samar sebab lumayan jauh dan terlindung oleh bunga hias yang besar.


"Kenapa itu seperti...Ah apa iya itu, Prawira?" tanyanya dengan wajah penasaran dan ingin semakin mendekati sosok yang ia pikir adalah orang yang sama dengan pemikirannya. Meski itu benar adanya.


__ADS_2