Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Memakai Milik Orang Lain


__ADS_3

Lisa yakin seyakin-yakinnya jika di dalam kamar sudah terjadi perang dunia ketiga. Wajah wanita yang berstatus pelayan itu kini tampak tersenyum puas. Bergetar bahunya tertawa membayangkan kehancuran sang majikan dan berharap secepatnya mereka akan pisah.


"Hahaha aku tidak sabar menjadi istri seorang Prawira Agasta. Tidak perlu bekerja dan bangun pagi, hidupku akan bahagia." ujarnya tertawa dengan banyaknya harapan yang akan segera berubah pikirnya.


Tanpa ia tahu jika di kamar, Arika tengah tersenyum melihat sang suami yang sudah berlutut di depannya. Prawira memohon ampun pada sang istri dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Bahkan sefatal ini kesalahannya, Arika dengan teguh tetap memaafkan sang suami meski ia tahu semua tak mudah untuk di lalui.


"Aku memaafkanmu demi pernikahan kita. Tapi jangan harap kejadian tadi akan mudah membuat hubungan kita baik-baik saja, Wir." tuturnya dan berlalu merebahkan tubuh di tempat tidur.


Arika meninggalkan Prawira yang posisinya masih berlutut di depannya. Ia tak perduli bagaimana sang suami saat ini, yang jelas Arika tak akan lagi mau di sentuh pria ini sampai ia benar-benar bisa lupa semua hal yang menyakitkan dan menerima kembali sang suami.


Kedua mata yang lelah itu terpejam, tidak. Arika tidak tidur saat ini. Ia hanya berusaha menenangkan dirinya. Meski bayangan demi bayangan semenjak kedatangan Lisa di rumah terus semakin mengusiknya.

__ADS_1


Prawira yang merasa gelisah kala sang istri tak mau menghadap padanya saat tidur, berusaha ia raih pundak itu. Pelan ia memegang dan ingin membalikkan posisi Arika. Namun, secepat kilat Arika menepis tangan yang terasa menjijikkan itu.


"Jangan menaruh kotoran wanita itu di tubuhku!" Tegas Arika berkata dan Prawira tak lagi menggapai tubuh sang istri.


Berpikir jika dengan keadaan seperti ini, Prawira akan berusaha sebisa mungkin meminta maaf, sayang Arika salah besar. Ia merasakan tempat tidur yang bergelombang dan menyadari itu pergerakan dari sang suami.


"Tenangkanlah pikiranmu dulu." Hanya kata itu yang Prawira katakan dan pria itu bergegas keluar kamar usai mengambil ponsel dan kunci mobilnya.


"Kemana dia?" tanya Arika pada diri sendiri saat melihat keluar kamar Prawira juga tidak ada.


Ia berjalan cepat menuju kamar Lisa. Di malam itu ia benar-benar geram dengan semua yang terjadi. Tangan Arika mengetuk pintu kamar Lisa berulang kali, hingga tak lama kemudian muncullah sosok Lisa di balik pintu.

__ADS_1


"Nyonya, ada apa?" tanyanya menguap seolah merasa kantuk. Bahkan Arika sangat marah melihat Lisa yang merasa tak bersalah sedikit pun. Ingin rasanya menendang wanita itu namun ia tak inginĀ  bertindak gegabah. Setidaknya jika terjadi sesuatu dengan Lisa dan sang suami ia masih bisa mudah melihat dari pada mereka bermain di luar sana dan itu sangat memalukan.


Bukannya reda amarah Arika, justru wanita itu semakin meradang. "Lisa, ini baju ku. Kenapa kau memakainya?" tanya Arika di buat tak habis pikir melihat lingerie yang Lisa kenakan. Meski tak hapa semuanya, namun Arika ingat pernah memakai lingerie model ini dan warna yang sama.


Wajah Arika benar-benar syok. Ia memperhatikan tubuh Lisa yang mengenakan lingerie itu dengan kedua mata melotot.


"Ups, maaf. Saya tidak tahu jika ini punya anda. Sebab Tuanlah yang memberikan pada saya." ujar Lisa dengan wajah seolah berdosa meski nada bicara wanita itu penuh ledekan.


Kini Arika mengalihkan fokusnya pada dalam kamar sang pelayan. Ia menyelonong masuk mencari keberadaan sang suami.


"Nyonya, sungguh saya minta maaf. Tuan yang memberikan pada saya. Sebab saya suka tidak tahu jika milik orang lain yang di berikan pada saya." Penuturan Lisa sungguh menginjak-injak harga diri Arika. Kata yang ia ucapkan tentu saja Arika paham bukan hanya bermaksud di tujukan pada lingerie melainkan juga dengan tubuh sang suami yang di berikan pada Lisa.

__ADS_1


"Seharusnya kamu malu, bukan bangga. Kamu seorang wanita dimana harga dirimu?" Arika berucap kian tegas lalu meninggalkan kamar Lisa tanpa bertanya. Ia tak ingin Lisa kembali mendapat celah untuk mengejeknya saat tidak mengetahui keberadaan Prawira.


__ADS_2