
Sore harinya terasa langit yang teduh begitu hangat menyapa kehadiran sosok wanita yang memakai pakaian serba hitam serta kaca mata hitam yang baru saja ia buka. Kulit putih miliknya begitu kontras terlihat kala turun dari mobil.
Arika melangkah menyusuri setiap makam yang ia lewati dengan tatapan terus tertuju pada satu nisan yang di tunjukkan oleh penjaga kuburan.
Prawira Agasta, nama yang terukir rapi di papan nisan. Arika tampak memandang nisan itu dengan tatapan nanar. Matanya berkaca-kaca sembari memegang gundukan tanah di depannya yang bertabur bunga.
"Maaf jika selama menikah aku belum bisa menjadi yang terbaik seperti yang kamu inginkan. Dan untuk semuanya aku sudah memaafkan kamu, Wir. Saat ini aku benar-benar sangat ingin bahagia. Ku mohon biarkan aku memulai hidupku yang baru dengannya. Dan begitu juga denganmu yang bahagia di atas sana." Arika sejenak memejamkan matanya berdoa dan setelahnya ia mulai menyiram air serta menabur bunga-bunga yang indah.
Baru saja hendak meninggalkan makam usai mengusap nisan itu kembali, tiba-tiba saja Arika di kejutkan dengan sosok Lisa.
"Nyonya," ujarnya juga tak kalah terkejut.
"Lisa," Arika juga sama terkejutnya.
Arika pun urung meninggalkan makam usai bertemu dengan Lisa. Ia menemani Lisa menabur bunga serta air hingga akhirnya Lisa pun bercerita.
__ADS_1
"Tuan bertitip pesan dengan saya, Nyonya. Di detik terakhir ia menghembuskan napas ia meminta saya untuk menyampaikan maafnya yang sangat besar pada anda. Serta ada beberapa berkas yang Tuan titip untuk anda di rumah. Apa Nyonya tidak keberatan ke rumah bersama saya?" tanya Lisa.
Arika pun mengangguk sebab penasaran dengan semuanya. Satu bulan waktu yang ia tinggalkan untuk Wira membuatnya banyak tidak tahu apa yang terjadi.
Singkat cerita Lisa pun sampai di rumah bersama Arika. Pertama ia membawa Arika masuk ke kamarnya dulu. Ia bergerak membawa beberapa map dan menyerahkan pada Arika.
"Lisa, ini..." Arika tak bisa bicara apa pun lagi saat kedua matanya menatap surat pengalihan warisan semua yang atas nama Prawira ia berikan pada sang mantan istri.
Sumpah demi apa pun hal yang tak pernah Arika harapakan selama ini tiba-tiba ia dapatkan. "Kenapa harus memberikan semuanya padaku?" gumam Arika merasa sulit percaya.
"Tuan sudah mengatakan ini semua masih belum cukup untuk menebus kesalahan Tuan pada Nyonya. Terlalu banyak kesedihan yang anda rasakan dari Tuan." tutur Lisa juga turut meneteskan air mata.
"Tidak, Lisa. Ini hak mu. Alm sudah memberikan rumah ini untukmu bahkan mengganti namamu. Aku sudah sangat berterimakasih atas bantuanmu untuk Wira. Aku harus segera pulang. Selesai masa iddah aku akan menikah. Aku harap kau akan datang." tuturnya beranjak pergi meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan pahit.
Lisa terdiam melihat kepergian Arika dari rumah itu. Ada penyesalan mendalam juga di hatinya sebab sudah ikut menjadi sebab luka di pernikahan sang majikan.
__ADS_1
"Maafkan saya, Nyonya." gumamnya lirih. Lisa meneteskan air matanya mengingat detik detik akhir merawat Prawira kala itu.
Singkat cerita waktu pun telah berlalu. Pernikahan pun akan di laksanakan usai Arika telah di nyatakan lepas dari masa iddah. Haru ini semua tamu undangan pun hadir untuk menyaksikan acara pernikahan Arika dan juga Awan. Keduanya sama-sama saling berjalan menuju tempat di langsungkan akad nikah.
Algam yang melihat pancaran kebahagiaan sang anak sampai tidak sadar menjatuhkan air matanya. Rasa bahagia dan rasa sesal bercampur menjadi satu. Seharusnya ia tak merenggut kebahagiaan sang anak pada saat itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arika Melinda binti Algam dengan mas kawinnya delapan ratus gram emas tersebut, tunai."
Kata sah pun sontak menggema di ruangan masjid indah itu di tengah kota. Arika tersenyum begitu lebar setelah mendengar suara sang suami lancar tanpa hambatan.
Kini keduanya pun sah menjadi suami dan istri. Arika mencium punggung tangan Awan dan Awan mencium kening Arika. Air mata keduanya sama-sama menggenang di kelopak mata mereka.
***
Bersabarlah akan setiap ujian, seperti Arika yang begitu menikmati perannya sebagai istri yang tak di anggap. Kini ia bisa bahagia menemukan cinta yang menyelimutinya dengan kebahagaiaan.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika air mataku yang berjatuhan dengan laju seperti hujan setiap saat justru kini di selimuti kebahagiaan dari pria yang begitu hangat. Dia adalah Awan Mahesa, pria yang begitu membuatku menjadi wanita yang sangat beryukur. Mampu melindungiku dan mampu menghormati aku sebagai wanita berstatus janda.
TAMAT