
Tepat jam tujuh malam, Arika selesai sarapan sendiri dan menuju ke kamar kembali. Ia mengecek ponselnya namun pesan atau panggilan dari sang suami tak juga ia dapatkan. Kini ia mencoba mengirim pesan pada suaminya.
"Dimana? aku sangat khawatir. Di kantor kamu tidak ada, Wir? Apa kamu pergi keluar?" pesan itu ingin ia kirim namun sedetik kemudian Arika menghapus pesannya itu. Ia memilih duduk di sisi tempat tidur dengan pandangan yang sendu.
Pintu kamar yang tidak ia tutup membuat sepasang mata dari luar sana menatap curiga. Lisa yang jiwa keponya meronta-ronta pun segera bersuara.
"Permisi, Nyonya. Apa Tuan belum pulang? Kenapa anda makan sendirian?" tanyanya dengan wajah yang antusias mendengar jawaban apa yang akan Arika ucapkan.
Melihat sosok Lisa, Arika yang sedang kondisinya tidak baik-baik saja segera berjalan mendekat. Lisa pikir ia akan mendengar curhatan wanita di depannya ini. Namun, justru yang Arika lakukan adalah menutup pintu kamar rapat dan menguncinya dari dalam.
Ia merasa tak suka dengan sikap Lisa yang terlalu ingin ikut campur dalam urusannya dan sang suami. Bahkan sejak pertama wanita itu datang Arika merasa ada yang tidak beres dengan sosok Lisa.
Bukannya malu mendapat sikap acuh dari sang nyonya, Lisa justru mengumpat kesal. "Huh untung anda majikan. Kalau tidak. Tapi, kemana yah dia? Ini sudah malam kenapa belum pulang juga? Seharusnya aku tahu dong. Kenapa Wira tidak mengatakan apa pun padaku? Mengapa tidak ada pamitan ingin pergi kemana?" Dengan tidak tahu malunya Lisa bergumam sendiri di depan pintu kamar Arika.
__ADS_1
Di dalam kamar Arika hanya duduk meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya ia begitu merasa khawatir dengan seorang pria sampai menjatuhkan air mata. Sungguh rasanya sangat tidak mungkin bagi Arika. Selama ini hidupnya tampak baik-baik saja. Dan Prawira bisa membuatnya gundah seperti ini.
Kegelisahan dan kesedihan yang di rasakan seorang Arika bukan serta merta kecemasan, melainkan insting seorang istri yang begitu kuat kala sang suami melakukan hal yang tidak sepantasnya di luar sana.
Pergerakan jarum jam yang mengiringi perjalanan bulan malam itu hingga tiba di pukul sepuluh malam. Sesuai janji, barulah Prawira bergegas pulang.
Pria itu berdiri dari tempat tidur dan hendak memakai pakaiannya.
"Aturlah waktu yang kau mau. Aku akan menuruti tapi tidak bisa jika tidak pulang ke rumah di malam hari. Kau mengerti kan?" tutur Prawira sontak membuat wajah Yeni kegirangan mendengarnya.
Rasanya seperti mendapat durian runtuh di malam hari. Ia memeluk erat tubuh kekar sang pria dan menengadahkan wajahnya ke wajah Prawira yang cukup tinggi.
"Kau akan memberikan waktu kapan pun aku mau? Apa itu berlaku selamanya?" tanyanya dengan antusias dan Prawira menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak hanya kau yang menyukainya. Aku juga sangat menyukainya. Permainanmu sangat membuatku candu." Prawira mengecup sekilas bibir ranum Yeni dan mereka pun keluar dari kamar itu tanpa pria itu sadari ada jejak yang ia bawa pulang saat ini.
Berpisah dengan Yeni di apartemen, lantas Prawira melajukan mobilnya ke rumah di mana sang istri sudah tertidur lelap dengan mata yang sembab.
Suara mobil yang berhenti sontak membuat Lisa langsung cepat berlari keluar kamar. Ia berniat menyambut Prawira lebih dulu dari sang nyonya. Bukan untuk menyambut kepulangan dengan wajah ramah, namun ia ingin protes sebab Prawira tak memberi tahu dirinya kemana pergi satu hari ini.
"Lisa, dimana..."
"Dari mana saja kamu, Wira? Seharian tidak pulang ke rumah. Lihat sudah jam berapa ini?" cecar Lisa yang merajuk melihat Prawira pulang malam dan membuatnya menunggu satu hari ini.
Bukannya menjawab, pria itu justu menghela napas kasar. "Lisa, dimana Arika?" tanyanya yang mencari sang istri tanpa menghiraukan sosok sang mantan yang ngambek.
"Wir, kamu tidak tahu aku sedang kesal? Kamu belum menjawab pertanyaanku." Lagi Prawira tak menjawab dan memilih pergi meninggalkan wanita itu. Ia berjalan cepat menuju kamar sembari menggelengkan kepala melihat tingkah Lisa yang tak pernah berubah.
__ADS_1