Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Memutar Balikkan Fakta


__ADS_3

Setelah tenang beberapa saat barulah Arika di antar pulang oleh Awan. Meski beberapa kali wanita itu menolak untuk di antar, namun Awan tetap bersikeras untuk mengantarnya pulang. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan Arika. Keduanya tidak sadar kala berbicara di dalam mobil depan halaman rumah Arika, tampak sepasang mata yang menatap ke arah mobil itu.


“Aku pulang dulu. Terimakasih banyak tumpangannya.” Arika keluar dari mobil tanpa berkata apa pun lagi. Ia tak nyaman berlama-lama di dalam mobil dengan pria lain.


Awan menatap sendu kepergian Arika. Hingga tatapan matanya berakhir pada langkah Arika yang terhenti kala berhadapan dengan pria yang tak lain adalah sang suami.


“Mereka sepertinya sedang tidak baik-baik saja.” gumam Awan yang bisa mengartikan bagaimana Arika melangkah masuk meninggalkan suaminya begitu saja.


Mobil pun berputar untuk kembali keluar dari halaman rumah itu, namun tanpa sengaja Awan melihat wanita keluar jelas itu bukanlah Arika.


“Wanita? Siapa dia?” tanyanya lirih pada siri sendiri.


Betapa syok Awan melihat sosok wanita yang bergelayut manja di lengan pria itu. Bahkan Prawira dengan tenang menggandeng tangan wanita itu masuk ke dalam rumah.


Sadar Awan bukanlah orang di rumah itu yang tidak memiliki hak sama sekali. Ia hanya orang asing tak mungkin ikut campur.

__ADS_1


“Kasihan Arika. Ternyata ini masalahnya.” ujarnya tak habis pikir. Mungkin jika ia tahu semua kebenarannya, Awan akan sangat syok.


Satu wanita saja yang ia lihat kepalanya sudah mendadak pusing. Apalagi dengan wanita-wanita lain yang ada di hidup Prawira.


Hal yang berbeda terjadi di dalam rumah.


“Lisa, apa-apaan ini? Kenapa kamarku berantakan seperti ini?” Arika yang hendak istirahat sesampainya di kamar justru terkejut dengan kamar yang acak-acakan. Sprei berantakan serta beberapa cemilan juga berantakan di atas nakasnya.


Arika keluar mencari sang pelayan yang ia pikir menjadi dalangnya. Sebab terakhir kali ia tahu Lisa mengambil baju tidurnya.


“Iya, Nyonya. Ada apa?” Lisa datang dengan kepala menunduk layaknya pelayan yang begitu patuh.


“Apa yang terjadi? Lihat kamarku berantakan. Dan wajahmu kenapa?” tanya Arika.


Lantas Lisa tak membuang kesempatan untuk mengadu. “Wanita itu memaksa untuk tidur di kamar ini, Nyonya. Saya sudah melarangnya. Tapi saya justru di cakar dan di tampar seperti ini. Tapi, ketika Tuan datang dia malah bersikap seolah saya yang melakukan semuanya dan Tuan jadi mengusir saya keluar dari kamar.”

__ADS_1


Sungguh Arika tak habis pikir mendengar aduan pelayannya. Ketty benar-benar keterlaluan.


Arika keluar dengan wajah marah. Ia berniat menghampiri sang suami yang justru membela wanita itu.


“Apa-apaan ini, Wira?” tanyanya tanpa basa basi. Manik mata Arika menatap tajam sosok Ketty yang menampakkan wajah sedih padahal jelas tak ada luka sedikit pun di wajahnya.


“Arika, ayo kita istirahat.” Prawira dengan wajah tanpa dosa justru mengajak sang istri ke kamar. Segera Arika menghempaskan kasar tangan sang suami.


“Hentikan, Wir. Istirahat katamu? Istirahat dimana? Dikamar bekas wanita kotor ini?” Tatapan mata Arika begitu menyiratkan kemarahan.


Bukannya meminta maaf, Prawira justru menghela napas kasar dan memijat kepalanya.


“Pelayan itu tidak pantas kamu percaya. Sebaiknya Lisa kita pecat saja.” Dengan mudahnya Prawira berucap.


Sumpah demi apa pun Arika tak habis pikir bisa menikah dengan pria seperti ini. Kepala Arika gelengkan tak tahu lagi menghadapi sang suami seperti apa.

__ADS_1


“Kenapa Lisa yang mau di pecat? Kenapa bukan wanita itu saja yang keluar dari rumah ini?” Tunjuk tangan Arika pada Ketty.


“Arika, dia belum begitu sehat. Tubuhnya masih sakit.” Bukan simpatik, Arika justru terkekeh mendengar ucapan sang suami.


__ADS_2