Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Keributan Pagi Hari


__ADS_3

Di pagi hari kediaman Prawira sudah terdengar heboh. Salah satu kamar yang terbuka merupakan kamar tamu membuat Arika dan Prawira yang baru keluar dari kamar utama langsung mendekat ke sumber suara.


“Ayo, Sayang.” ajak Prawira yang berusaha baik dengan sang istri. Sebelum melangkah Arika masih sempatnya menepis tangan sang suami.


Keduanya melangkah menuju kamar yang terbuka pintunya lebar. Beberapa makanan berhambur di lantai kamar itu. Terlihat juga Lisa yang sudah basah sebagian bajunya.


Tentu saja Arika marah melihat makanan yang seharusnya di makan justru berhamburan di lantai.


“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya menatap dua wanita yang saling bersitegang itu.


Tak ingin di salahkan, Lisa secepat mungkin mendekati Arika.


“Nyonya, saya hanya membawakan apa yang di perintahkan. Makanan ini sudah saya sajikan di meja makan, tapi Nona ini justru menyiram ke tubuh saya.” Lisa menampakkan tubuhnya yang basah seolah meminta belas kasih saat ini.


Prawira masih bungkam melihat keributan tersebut. Dan hal itu secepat mungkin di buat Ketty mencari kesempatan.

__ADS_1


Segera wanita itu mendekati tubuh Prawira dan melingkarkan tangannya pada lengan pria di depannya.


“Wir, perutku tidak enak. Aku sudah memberi tahunya lebih dulu untuk tidak menambahkan pemanis di sayuran itu. Tapi masakannya sangat manis. Aku mau muntah lagi karena makanannya. Tubuhku lemas sekali, Wir.” Panjang lebar Ketty mengeluhkan pada Prawira.


Hingga Lisa yang mendengar menggelengkan kepalanya cepat tak membenarkan ucapan Ketty.


“Tidak. Tuan, Nyonya, itu tidak benar.” Lisa segera bersuara menimpali hingga Arika yang melihat sikap sang suami yang tidak bisa tegas semakin kesal.


“Yah kau benar. Makanan di sini memang memakai pemanis. Saya yang meminta Lisa membuat seperti itu dan setiap hari kami makan dengan rasa manis di masakan Lisa. Jadi, jika ada yang tidak suka dengan rasa masakan yang sudah saya tetapkan di rumah ini silahkan masak sendiri. Lisa bekerja hanya untuk orang yang memperkerjakannnya.”


“Lisa, buatkan saya susu hangat. Saya butuh yang manis-manis.” pintah Arika dan Lisa bergegas membuatkannya.


Sementara Prawira yang melihat kepergian Lisa dan juga Arika berniat ingin pergi.


“Wir, kemana?” tanya Ketty manja.

__ADS_1


“Aku harus sarapan dan ke kantor. Sebaiknya kamu istirahat. Biarkan ini Lisa yang membereskannya.” Tak memiliki waktu lagi, Prawira segera meninggalkan sang wanita di kamar yang berantakan itu.


Ketty dengan wajah kesal meninggalkan kamarnya menuju ruang keluarga. Sumpah ia merasa kesal pagi ini dengan Prawira yang tak bisa membela dirinya dari dua wanita itu.


“Makanlah seadanya. Jangan minta macam-macam. Kalau tidak sebaiknya aku bawa kau ke rumah sakit saja.” Arika yang sadar akan kehadiran Ketty di dekatnya segera memerintah dengan wajah tetap fokus pada makanan.


Tak ingin selali ribut, Arika masih berusaha setenang mungkin menghadapi para wanita liar ini. Bukannya menjawab, Arika justru menjawab dengan acuh. Ia tak duduk di kursi meja makan dan memilih untuk menyalakan televisi.


“Arika, aku berangkat kerja dulu.” Pria yang baru saja usai sarapan bersama sang istri tampak mengecup kening Arika tanpa mendapat balasan apa pun.


Hening hingga Prawira melewati sosok Ketty.


“Wir, sudah mau kerja?” tanya Ketty dengan wajah tersenyum lebar berdiri di hadapan pria itu.


“Apa kau sudah jauh lebih baik?” Prawira justru tak menjawab. Ia bertanya balik pada Ketty yang tampak segar dari pada yang semalam.

__ADS_1


Gugup, Ketty segera merubah raut wajah cerahnya menjadi sendu.


__ADS_2