Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Serangan Bertubi-Tubi


__ADS_3

Di depan loby apartemen, Yeni begitu bahagia. Senyum mengembang lebar di wajahnya kala memasuki gedung tinggi tempat tinggalnya saat ini. Puas berkencan dengan sang boss rasanya seperti memenangkan lotre ratusan juta untuk wanita itu. Ia tidak sadar jika ada sepasang mata yang menatapnya sedari tadi dan kini sudah berjalan mendekatinya.


"Maaf, apa boleh saya tanya?" Seorang pria datang menghampirinya dengan sopan.


Yeni yang suasana hatinya sedang bahagia tampak menjawab dengan anggun. Terlebih yang ia lihat pria ini sangat tampan. "Iya, ada apa?" jawabnya bertanya balik pada pria asing itu.


"Em...tadi pria yang mengantar anda itu...apakah dia Tuan Prawira?" tanyanya dengan sedikit mengingat nama yang pernah ia dengar.


Tak ingin menutupi, tentu saja Yeni dengan senang hati menjawab. "Iya dia Tuan Prawira Agasta."


Pria itu tak lagi bertanya dan ia hanya menganggukkan kepala. Jelas dalam ingatannya bagaimana wanita ini bercium mesra di dalam mobil sebelum turun ke apartemen.


"Baiklah, terimakasih." jawab pria itu dengan wajah datarnya.


Sementara Yeni dengan bangganya telah memperkenalkan sosok pria yang bersamanya. Itu artinya ia akan perlahan demi perlahan menyingkirkan sosok Arika dari posisi istri Prawira. Masa bodoh, Yeni pun berjalan menuju apartemen miliknya dan mengistirahatkan diri.

__ADS_1


Sementara suasana yang mencekam terjadi di kamar milik Arika. Mendapati sang suami baru pulang Arika memilih menunggu Prawira mandi lebih dulu. Meski sudah mandi di hotel, Prawira merasa tubuhnya perlu di bersihkan lagi sebab ia kembali melakukan hubungan itu dengan Yeni sebelum pulang.


Keluar dari pintu kamar mandi berlilitkan handuk di pinggang, Arika menyipitkan mata kala melihat sebuah tanda yang membuatnya penasaran.


"Arika." ucap Prawira yang tidak tahu sang istri sudah terbangun dari tidurnya.


Namun Arika hanya diam, ia terus mendekatkan langkahnya pada sang suami dimana matanya tertuju pada dada bidang Prawira yang masih sedikit basah.


"Bekas apa ini, Wir?" tanyanya lirih. Arika berusaha sekuat mungkin menahan amarahnya kala melihat tanda yang tentu ia tahu apa itu. Meski tak pernah berhubungan dengan pria lain, ia tetaplah berada di lingkungan yang setara usianya dengannya. Tentu saja hal seperti itu tidak bisa di bohongi lagi.


"Apa yang kamu lakukan? Jawab aku, Wir? Apa yang kamu lakukan?" Arika sudah bergetar bertanya dengan nada bicara yang di buat serendah mungkin. Ia tetap berusaha tenang meski dadanya begitu bergemuruh.


Satu harian menunggu kabar sang suami yang tak kunjung menghubungi, kini Prawira pulang dengan tubuh yang sudah bernoda.


"Arika, biar aku jelaskan. Oke. Aku jelaskan tolong tenang dulu." Prawira terdiam beberapa saat berusaha merangkai kata untuk menjelaskan pada sang istri sesuai dengan versi amannya.

__ADS_1


Air mata Arika terus menetes menatap dada sang suami yang begitu melukai hatinya. Ia memejamkan mata sejenak berusaha berpikir jerni dan positif. Tak ingin pernikahan yang belum berusia satu bulan itu harus bubar karena emosinya sesaat.


"Arika, tolong jangan menangis. Ini bukan karena apa-apa. Tadi aku di kantor terjatuh gelas. Yah gelas. sekertarisku menjatuhkan gelas di dadaku saat ingin meletakkan di meja. Dan klienku pun terkena siraman air itu juga." ujarnya dengan terbata-bata.


Kening Arika mengernyit heran mendengar ucapan sang suami yang terdengar tidak masuk akal. Belum lagi ia ingat tentang kantor.


"Kantor? Jam berapa, Wira? Aku di kantor sampai sore dan kamu tidak ada di ruangan kamu. Bahkan seluruh karyawan tidak ada yang tahu kamu dan sekretaris kamu kemana." Semakin syok Prawira mendengar penuturan sang istri.


"Dan kemana kamu sebenarnya? Teleponku beberapa kali tidak ada kamu angkat dan terakhir kali kamu mematikan panggilanku." Lagi Wira di buat menganga tak percaya. Sejenak ia terdiam mengingat jika sebelum pulang bahkan ia sempat memeriksa ponsel dan sama sekali tak ada panggilan yang tidak ia jawab ataupun ia tolak.


Melihat gelagat suami, kini Arika merasa semakin janggal. Ia menjauh dari sang suami dan bersedekap dada membelakangi Prawira.


"Pernikahan kita memang perjodohan. Tapi kamu sama sekali tidak menerima kekuranganku. Semua aku bisa lakukan untuk kamu, Wir. Bahkan aku ikhlas menerima pernikahan ini dan akan mengabdikan hidupku sebagai istri untuk kamu suamiku. Pernikahan kita belum ada satu bulan, tolong jangan nodai pernikahan suci ini. Aku mohon katakan apa pun yang menurutmu kurang di aku." Mendengar ucapan sang istri Prawira bergegas mendekat dan memeluk istrinya erat.


Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Arika. "Arika, percaya semuanya baik-baik saja sampai ke depannya. Aku mencintaimu. Kamu satu-satunya wanita yang begitu aku inginkan. Tenanglah percaya padaku jangan berpikir hal yang bisa merusak pernikahan kita. Sungguh aku benar-benar sibuk hari ini. Bahkan beberapa kali aku menghubungi klien hingga harus datang ke perusahaannya."

__ADS_1


__ADS_2