
Siang hari menyapa begitu terik, dimana Arika baru saja tiba di depan kantor sang suami di antar dengan supir. Berjalan elegan menuju ruang kerja Prawira. Beberapa pekerja ada yang sibuk menyapa dengan senyum ada juga yang saling berbisik mengagumi kecantikan istri bos besar mereka.
“Wah menantu Tuan Surya benar-benar orang pilihan yah? Nyonya muda sangat berkelas. Bahkan pendidikannya saja sangat tinggi.” ujar salah satu pekerja di sana.
“Benar. Pantas saja Tuan Prawira mau menikah dengannya. Memang wanita pilihan kelas atas.”
Langkah terus Arika ayunkan menuju lift hingga tiba di depan ruang kerja sang suami.
“Selamat siang, Nyonya.” Sapaan hangat dan senyum lebar di berikan wanita yang menurut Arika asing. Sebab meski pertama kali berkunjung ke perusahaan, Arika tahu siapa saja yang memiliki jajaran tinggi di perusahaan sang suami.
“Maaf, anda siapa?” tanya Arika sopan.
“Perkenalkan,” wanita itu mengulurkan tangan pada Arika.
“Saya sekertaris Tuan Prawira, nama saya Yeni, Nyonya.” Kening Arika mengernyit heran mendengar kata sekertaris.
__ADS_1
“Sekertaris? Bukankah seorang laki-laki sekertaris suami saya?” tanyanya dengan penuh selidik.
Yeni lagi mengangguk. “Iya benar, Nyonya. Itu sekertaris Tuan yang sebelumnya. Saya baru kemarin di terima kerja di sini oleh Tuan Prawira.” Merasa ada yang aneh, Arika lantas melangkah masuk ke ruang kerja sang suami.
Meninggalkan Yeni seorang diri yang hanya tersenyum devil. Sembari tak lupa ia menaikkan sebelah alis.
“Sekertaris di atas ranjang suami anda lebih tepatnya. Dan sebentar lagi saya akan menjadi sekertaris di kamar utama Wira.” gumam Yeni dengan rencana jahat.
Merasa berhasil membuat Prawira jatuh di dekapannya, membuat wanita bernama Yeni seolah merasa masih belum puas dengan pencapaiannya. Ia ingin semakin berbuat jauh dan lebih.
“Yah, atas nama Prawira Agasta. Kamar vip dan jangan lupa berikan pelayanan honeymoon khusus kamar ini.” ujarnya melalui telepon.
Yeni tak ingin tanggung-tanggung memberikan kepuasan ranjang pada sosok Prawira. Sang boss yang ia harapkan dapat mensejahterahkan hidupnya ke depan.
“Arika, sudah datang saja kamu.” Sambutan hangat dari Prawira kala melihat sang istri menutup pintu ruang kerjanya.
__ADS_1
“Katanya sibuk, kok meja kamu hanya sedikit berkasnya, Wir?” tanya Arika yang melihat pekerjaan sang suami tidak seperti yang Wira katakan sebelumnya.
“Iya, sebagian sudah aku serahkan pada sekertarisku. Dan sebentar lagi akan ada dokumen yang menyusul untuk ku kerjakan sampai malam.” ujarnya membohongi sang istri.
Cepat ia bergegas berdiri. Memeluk sang istri dan membawanya keluar ruang kerja.
“Kita makan di restauran, apa kamu ada rekomendasi?” tanyanya menatap Arika yang berjalan di sampingnya.
Keduanya begitu nampak serasi dan mesra. Bahkan Arika tersenyum menjawab pertanyaan suaminya.
“Maunya kamu saja yang mana dan yang lebih dekat. Biar waktumu tidak banyak terbuang.” jawab Arika.
“Terimakasih istriku.” tutur Prawira mencium sekilas pipi Arika.
Semua tingkah keduanya tentu saja di perhatikan oleh para karyawan. Bahkan ada yang beberapa kali berdecak kagum dan gemas, berbeda sekali dengan tatapan Yeni yang memperhatikan dari kejauhan. Ia terasa terbakar melihat kemesraan di depannya.
__ADS_1
“Tenang, Yen. Tenang, dia akan bertekuk lutut denganmu dalam hitungan jam. Biarkan istrinya di taklukkan dahulu.” ujarnya menenangkan diri.