Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Menaklukkan Prawira


__ADS_3

Kepergian sang suami membuat Arika begitu gelisah. Lisa sudah di pastikan seorang diri di kamar tanpa ada Prawira. Lalu kemana pria itu perginya? Pusing menerka-nerka, Arika memilih menelpon sang suami.


Beberapa kali menelpon sayangnya ia tak kunjung mendapatkan jawaban. Hingga rasa kantuk di kedua matanya pun kini tak lagi ia rasakan.


“Kemana kamu, Wir? Ini sudah malam.” gumamnya yang memperhatikan ponsel seolah menunggu kabar sang suami. Pesan yang ia kirim bahkan tak mendapatkan balasan dari Prawira. Panggilan yang ia lakukan bahkan kini sudah di tolak pria itu.


Hanya duduk di sisi tempat tidur, Arika menundukkan kepala. Semua terasa seperti mimpi yang sulit membuatnya sadar. Kejadian yang begitu cepat tanpa ia duga. Selama ini berusaha berpikir positif pada sang suami, nyatanya tak sesuai dengan kenyataannya.


Sungguh pilu nasib Arika, seorang wanita cantik, baik serta penurut pada kedua orangtuanya justru mengalami takdir pernikahan semenyedihkan ini. Memiliki suami yang sangat suka menjajahkan tubuhnya pada banyak pria, tentu saja sangat menyakitkan. Namun, yang Arika tahu saat ini Prawira hanya bermain belakang dengan Lisa saja.


Andai saja ia tahu jika saat ini sang suami yang tengah ia pikirkan sudah beradu di atas ranjang.


“Wir,” suara lembut seorang wanita dari luar pintu nampak membuat wajah Prawira menengadah.


Pria itu duduk dengan menunduk menahan emosinya. Matanya kini menatap tajam sosok Ketty yang baru saja tiba usai mendapat telepon dari pria di depannya kini.


“Honey…maafkan aku. Aku habis ke club tadi. Aku bosan di sini sendirian.” Merangkul manja leher Prawira, Ketty berusaha selembut mungkin mencuri hati pria di depannya kini.


Meski dalam hati sungguh ia merasa deg-degan melihat tatapan Prawira yang tidak seperti biasanya.


“Puaskan aku.” Kalimat itu di sambut dengan senyum mengembang di wajah cantik Ketty.


Tanpa ia tahu jika kalimat itu bukanlah sebuah perintah. Melainkan maut yang akan menimpa dirinya.

__ADS_1


Berdiri dari pangkuan Prawira, Ketty tersentak kaget usai mendapat dorongan kuat dari pria itu hingga menempelkan pipinya pada dinding ruangan itu.


Tangan Prawira menggenggam erat kedua pergelangan tangan Ketty yang ia bawa ke belakang tubuh wanita itu.


“Wir, aw sakit.” Rintihan Ketty tak mendapat respon dari Prawira.


Baju cantik yang baru saja di pakai sekali oleh Ketty di sobek kuat oleh pria itu. Kelembutan yang siang tadi mereka nikmati kini tak lagi Ketty dapatkan.


Ia takut dengan sikap kasar Prawira. Namun, sebisa mungkin ia harus bisa mengendalikan pria ini.


“Wir, aku mohon tenanglah. Biarkan aku yang melakukannya. Tolong.” ucapnya sekali lagi.


Prawira masih hening tak bicara apa pun. Hanya napas yang memburu, entah lantaran gairah atau karena emosinya saat ini.


“Hiks…” ia merintih sementara Prawira di belakang tampak memejamkan mata menikmati permainan penuh emosi itu.


Untuk pertama kalinya Prawira melakukan hal seperti ini. Kemarahannya dengan Arika justru membuatnya ingin melakukan hal yang berbeda. Menikmati permainan tanpa pemanasan ternyata mampu membuat pria puas untuk sejenak.


Tak perduli bagaimana Ketty yang tersiksa saat ini karena permainannya.


“Menurut saja, setelah ini kau akan dengan puas menikmati uangku, Sayang.” ujar Prawira berbisik sembari menghantam tubuh Ketty kasar.


Hingga beberapa menit ia menikmati permainan itu, kini Ketty luruh ke lantai. Bagian selangka**nnya terasa nyeri sebab tak ada permainan halus, namun ingin protes ia sendiri tak berani melihat bagaimana Prawira yang diam duduk di sofa depan jendela menatap pemandangan di luar sana.

__ADS_1


“Honey…maafkan aku. Apa kau ada masalah?” Meski sakit dan ingin marah, Ketty berusaha melembutkan hati Prawira. Ia duduk di pangkuan pria itu lagi dengan tubuh polosnya sembari menahan sakit di tubuhnya.


Tangan lentiknya pun meliuk di dada bidang Prawira saat ini.


Namun, pertanyaan itu sama sekali tak di respon oleh Prawira.


Hingga keduanya terfokus pada ponsel milik Prawira yang berdering. Nama kontak wanitaku yang Ketty pikir itu adalah Arika, ternyata bukan. Sang pemanggil itu adalah sosok sekertaris yang merasa kesepian.


Dering pertama terhenti hingga dering kedua kembali terdengar.


“Berisik!” umpat Prawira kesal tanpa pikir panjang pria itu mematikan panggilan yang belum sempat ia jawab.


Senyuman mengembang di wajah Ketty seketika. Entah mengapa ia merasa menang malam ini. Tak berhenti sampai di situ, ia kembali memancing gairah Prawira. Bibirnya bermain lincah di dada bidang Prawira, sesekali tangannya memutar ujung dada pria itu.


Sentuhan nakal lainnya yang Ketty lakukan nyatanya begitu terasa memabukkan hingga kedua mata Prawira beberapa kali terpejam samar menikmatinya.


Limat menit berjalan, kini Ketty mendapatkan kepuasan yang ia inginkan. Prawira tengah berpacu di atas tubuhnya sesuai dengan keinginan wanita itu hingga durasi yang mereka lakukan cukup lama. Dan senyum puas tercipta di wajah Ketty sementara Prawira tumbang di sampingnya dengan dengkuran napas yang terdengar sangat halus.


“Mudah untukku menaklukkan sepertimu, Prawira Agasta.” batin Ketty tersenyum licik menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selepas beradu ranjang, Prawira benar-benar menikmati malam panjang itu dengan memeluk tubuh polos Ketty, berbeda halnya dengan apartemen yang berbeda.


Di sini Yeni tengah mengumpat kesal sebab panggilannya di tolak dengan sang boss. Bahkan sejak siang ia sudah di tinggalkan seorang diri tanpa pesan hangat atau pun kecupan sayang seperti biasanya

__ADS_1


__ADS_2