Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Mengumpulkan Tiga Wanita


__ADS_3

Apa pun yang terjadi, malam ini juga Ketty harus bisa pindah dari apartemen. Ia ingin bergerak cepat bisa menguasai Prawira secepatnya. Sementara Prawira yang mendengarnya masih saja diam tak segera memberi keputusan. Ia berpikir dengan banyak pertimbangan, sayang keterdiaman pria itu justru membuat Ketty bergegas membawa barang yang ternyata sudah di siapkan lebih dulu.


“Ayo, aku tidak kuat lagi di sini lama-lama.” Tubuh yang mematung di tempat sontak hanya bisa menurut saja gerakan tarikan yang di lakukan sang wanita.


Hingga tanpa sadar keduanya memasuki mobil. Sedikit lagi kemenangan akan di dapatkan oleh Ketty. Wanita itu terus tersenyum puas selama perjalanan. Tak perlu menunggu waktu untuk Prawira mengunjunginya, mereka malam ini akan tinggal di tempat yang sama.


Hanya Ketty saja tang tersenyum. Tidak dengan Prawira. Pria itu beberapa kali menggigit bibir bawahnya serta bergantian dengan ujung kukunya.


Di rumah ada wanita yang tetap ingin ia pertahankan. Bagaimana mungkin dirinya menyatukan dua wanita ini, tidak lebih tepatnya tiga wanita sebab Lisa juga termasuk dalam hitungan wanitanya.


Selang dua puluh menit mereka mengendarai mobil, akhirnya mobil itu tiba di halaman rumah milik sang pria. Dimana kedatangan mereka di sambut antusias oleh wanita yang sudah memakai lingerie. Yah, Lisa yang mencari keberadaan Prawira di kejutkan dengan kedatangan pria dan wanita di depannya.

__ADS_1


“Wira, em maaf. Tuan, siapa dia?” tanyanya menatap tak suka pada Ketty yang kini tengah di papah oleh pria itu.


“Tidak perlu bertanya. Sekarang siapkan kamar untuknya.” Titah dari Prawira membuat Lisa menganga lebar. Wanita itu sama sekali tak suka apalagi melihat bagaimana Ketty tersenyum mengejek padanya.


“Lisa, dengar apa kataku?” tutur Prawira menegaskan lagi perintahnya yang tak mendapat respon dari Lisa.


Hingga wanita berpakaian lingerie itu akhirnya menghentakkan kakinya kesal dan berjalan menuju kamar tamu yang ada di rumah itu.


“Sebaiknya pergi dan ikuti dia.” ujar Prawira pada Ketty tanpa mau mengantar ke kamar.


Hingga baru saja keduanya akan melangkah, tiba-tiba ada suara wanita yang menyapa dan menghentikan langkah mereka.

__ADS_1


“Apa-apaan ini? Siapa lagi wanita ini, Wir?” Sontak Ketty menoleh. Melihat kehadiran salah satu wanita yang tak lain adalah sang nyonya di rumah besar ini.


“Dia teman yang aku bilang tadi. Sekarang dia tinggal di sini untuk sementara selama sakit. Setelah membaik dia akan kembali lagi.” Sungguh Arika tak percaya dengan ucapan sang suami yang terkesan begitu mudah.


“Apa kamu pikir rumah ini tempat orang sakit? Biar aku suruh orang Ayah membawanya ke rumah sakit dan menjaganya di sana.” pintah Arika yang mendapat respon Ketty menggeleng menatap Prawira.


Wajah yang di buat sesedih mungkin tentu saja membuat Prawira iba.


“Arika, sebaiknya kamu ke kamar. Istirahatlah. Aku akan segera menyusul. Tolong jangan mencari ribut dengannya. Aku bertanggung jawab atasnya.” Malu rasanya Arika mendapat teguran dari sang suami di depan wanita lain.


Kesal Arika memilih untuk masuk ke kamar. Ia tak ingin semakin di injak harga dirinya di depan wanita yang ia sendiri tidak tahu siapa itu.

__ADS_1


“Terimakasih, yah? Aku senang saat sakit kamu ada bersamaku.” ujar Ketty bergelayut manja di lengan Prawira.


“Ayo aku antar. Arika juga sedang sakit. Jadi, aku harus segera kembali ke kamar.”


__ADS_2