
Perjalanan yang tidak begitu padat membuat Arika hari ini yang memutuskan mengemudi mobil sendiri terus berpikir hal buruk. Ia membayangkan di rumah saat ini sang suami tengah mengulangi hal semalam yang ia lihat. Keberadaan Lisa di rumah dan Prawira hari ini sungguh membuat Arika berpikir yang tidak-tidak. Setetes air matanya jatuh kala merasakan sesak di dada yang kian menghimpit.
Pelan pelan kakinya mulai menaikkan laju mobil hingga Arika tak sadar jika saat ini ia sudah melewati lampu merah dan...
"Aaaaaaa!!!" teriakan di dalam mobil pagi seiring mobil yang terseret jauh akibat dorongan mobil dari arah lain membuat Arika tak sadarkan diri.
Mobil miliknya mengalami rusak yang lumayan parah, bahkan di sisa kesadarannya wanita itu sempat menyebut satu nama.
"Wir, sakit." rintihnya dan kemudian Arika memejamkan mata. Air mata yang menetes menyentuh tetesan darah berlebur menjadi satu saat ini. Arika tidak sadarkan diri setelah mengingat semua yang terjadi padanya.
__ADS_1
Pagi itu di jalan raya sangat ramai para pengguna jalan menyaksikan keadaan kecelakaan hingga ambulance datang dengan sangat cepat. Beberapa anggota kepolisian turut membantu mengamankan keadaan.
Meski sebenarnya sakit yang Arika bayangkan sebenarnya tidak terjadi. Di sini Lisa mendapat penolakan kasar dari Prawira tanpa ia tahu.
"Wir, apa-apaan sih? Aku kangen." Lisa menampakkan wajah ambisinya ingin menyentuh pria yang saat ini sedang bermalas-malasan di atas tempat tidurnya.
"Lisa, aku bilang pergi sekarang!" teriakan menggema di kamar itu dari suara Prawira membuat Lisa tak gentar sama sekali.
"Bawa pakaianmu ini keluar atau kau mau aku yang menyeretmu?" Sontak Lisa tertegun melihat Prawira memungut lingerie set itu di lantai dan memberikan ke dadanya lalu mendorong tubuh Lisa keluar kamar.
__ADS_1
Mendapat penolakan sungguh membuat Lisa terhina. Ia begitu marah melihat reaksi Prawira yang acuh padanya. Tidak, Lisa tidak bisa terima begitu saja.
"Wir, hentikan. Jangan mengusirku seperti ini." ucapnya namun tak juga di gubris justru pria itu menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.
Beberapa kali Lisa menggedor pintu itu hingga menyerah akibat tak ada respon apa pun. Lisa sungguh tak habis pikir jika hari ini ia akan menganggur di sentuh oleh sang pria. Dengan rasa amarah Lisa berjalan menuju kamarnya. Beberapa kali wanita itu bahkan mengumpat kesal sikap Prawira padanya barusan.
"Huh...tenang. Sebaiknya aku harus tenang. Wira sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Iya dia sedang ada masalah saat ini. Itu bukan karena aku tidak menggoda lagi di matanya. Yah, Lisa adalah penakluknya namun tidak untuk hari ini. Baiklah, Wir jika itu maumu. Aku akan memaklumi ini. Kau menolakku karena sedang banyak masalah." Tak terima dengan kenyataan Lisa berusaha meyakinkan dirinya jika Prawira masih menyukainya dan kini hanya terkendala dengan masalah saja.
Tak berbeda di dalam kamar, Prawira yang mengumpat kesal akibat aksi Lisa sungguh mengganggu tidurnya. Ia terus menggerutu hingga kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Ada-ada saja. Wanita tidak tahu malu. Beraninya menggodaku di kamar ini. Cih...Ketty sudah lebih dari cukup untuk saat ini dan juga Yeni. Ah...tapi mengapa rasanya ada yang kurang jika bukan bersama Arika? Ah sudahlah dia hanya butuh waktu saja. Dan aku akan berusaha mengendalikan istriku yang cantik itu." ujarnya membayangkan sosok Arika yang akan sulit untuk ia raih saat ini.
Senyum mengembang sinis kala pikiran Prawira membayangkan cara untuk ia merebut hati sang istri kembali. Bagaimana pun ia ingin hubungannya dengan Arika tetap baik-baik saja.