Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Hilang Minat


__ADS_3

Waktu pagi sudah tiba, kini Arika dengan wajah dinginnya duduk di depan halaman rumah. Semalaman ia tak bisa tidur menunggu kabar sang suami yang tak kunjung ada hingga pagi menyapa ia masih menunggu juga. Kecemasan akan keberadaan Prawira membuatnya terus tak bisa melakukan apa pun selain memikirkan pria itu. Lima menit berlalu dari aksinya melihat ponsel yang tak kunjung ada kabar, kini mobil sang suami akhirnya memasuki halam rumah mereka.


Prawira turun dari mobil melihat sang istri yang duduk di kursi taman itu, bukannya berniat menghampiri sang istri ia justru acuh dan berlalu menuju ke dalam rumah.


"Wir," panggilan Arika sontak membuat langkah pria itu terhenti. Prawira membalikkan tubuh menunggu sang istri tiba di hadapannya.


"Dari mana saja kamu?" tanya Arika menatap sang suami yang berwajah bangun tidur.


Pikirannya semakin kesana kemari, melihat sang suami seperti ini Arika berpikir jika Prawira usai tidur di luar sana. Namun, pertanyaan Arika tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang suami.


"Apa kau masih ingin kita bertengkar, Arika? Aku lelah. Aku pulang ingin istirahat." tuturnya hendak menghindari sang istri yang seketika menatapnya heran.


Arika tersenyum kecil. "Bertengkar? Apa kamu pikir dengan waktu satu malam semua bisa aku lupakan dan semua baik-baik saja? Kamu pergi dari rumah entah kemana. Kesalahan yang kamu lakukan apa kamu pikir itu masalah kecil yang tidak patut aku permasalahkan?" Arika kembali meninggikan suaranya.


Prawira justru meninggalkannya begitu saja lantaran tubuhnya terasa begitu lelah. Tak tinggal diam Arika mengejar sang suami.


"Wir, tunggu!" cekalnya pada pergelangan tangan sang suami.


"Tuan, anda sudah pulang?" Lisa yang melihat ketegangan antara majikannya tanpa tahu malu segera mendekat. Ia begitu penasaran kemana Prawira pergi semalam.


Bukannya meredakan amarah, kemunculan sang pelayan itu justru membuat darah Arika mendidih. Ia merasa mereka bersalah, mengapa tak ada rasa bersalah sedikit pun atau rasa malu?


"Minggir kamu! Lisa, saya minta kamu masuk ke kamar kamu sekarang." pintahnya dengan berteriak lantang.


"Tidak, Nyonya. Saya mencemaskan Tuan." jawab Lisa dengan bantahannya yang lemah namun terdengar sangat menyebalkan.

__ADS_1


Arika yang tak kuasa menahan amarah sejak malam tadi akhirnya mendorong Lisa untuk menjauh, namun bukannya menurut. Lisa justru melawan dan menyerang Arika balik. Prawira kesal sekali, ia melihat dua wanita di depannya bertengkar.


"Arika, hentikan!" bentaknya pada sang istri.


"Apa katamu, Wir? Hentikan? Aku meminta pelayan ini masuk ke kamarnya. Aku ingin menyelesaikan masalah rumah tanggaku tanpa ada orang asing ini." tunjuk Arika pada Lisa dengan mata yang berair menggenang air mata.


Bukannya simpati pada sang istri, Prawira justru kembali bersuara. "Aku bilang cukup, Arika. Tidak ada yang perlu di selesaikan karena semua baik-baik saja. Sebaiknya kau pergi saja. Aku lelah ingin istirahat." tutur Prawira justru meninggalkan Arika menuju kamar.


Mendengar kata perintah dari Prawira, sontak Lisa mengembangkan senyumannya begitu saja. Ia berpikir jika hari ini Prawira pasti membutuhkan kehangatan darinya. Itu sebabnya ia meminta sang istri untuk bekerja sementara dirinya akan istirahat di rumah.


Sama halnya dengan pikiran Arika yang menerka jika sang suami menginginkan waktunya dengan sang pelayan. Sungguh Arika tak bisa menerima ini semua. Ia tak tinggal diam lalu mengejar sang suami setelah menatap tajam wanita yang justru membalas dengan senyum puas.


"Awas saja kamu melakukan hal memalukan lagi, Lisa." ancamnya berlalu pergi. Sayang kata-kata ancaman dan peringatan itu sama sekali tak ada artinya bagi sosok wanita seperti Lisa.


Arika membuka pintu dan melihat sang suami memejamkan mata di atas tempat tidur. Arika memejamkan matanya menahan sakit yang teramat di dadanya. Pelan ia melangkahkan kakinya mendekati Prawira yang tak perduli dengan kedatangannya.


Santai Prawira mendengar ucapan sang istri. Tanpa berniat bangun ia berbicara. "Tidak ada yang perlu bersaing. Kamu sudah pemenangnya, Arika. Sudah sebaiknya fokuslah dengan karirmu. Itu akan jauh lebih penting. Pernikahan ini sudah menjadi penilaian untukmu. Jika wanita mana pun tidak bisa kau kalahkan."


Menggelengkan kepala Arika mendengar penuturan sang suami yang begitu mudah mengatakan hal menyakitkan itu. Seolah Prawira sebagai pria begitu tak berperasaan sama sekali padanya.


Mendengar semua ucapan dan reaksi sang suami, kini Arika sadar Prawira bukanlah pria yang seperti bayangannya. Pria yang memiliki sikap setia, pria yang menjadi suaminya merupakan pria seorang player. Jika benar demikian, tak ada lagi yang bisa ia harapkan untuk merubah sang suami.


Dengan pikiran bercampur aduk, Arika memilih bersiap untuk bekerja sesuai dengan perintah sang suami. Ia memilih mencari suasana  yang bisa menenangkan dirinya. Sebab di rumah pun rasanya tak ada gunanya sama sekali. Prawira tidak ada usaha untuk memperbaiki semuanya yang artinya ia memang menyukai hidup seperti saat ini dengan keributan di pernikahannya asal ia mendapatkan kepuasan dari para wanita.


Arika pergi meninggalkan rumah usai ia memakan sarapannya yang sudah di siapkan oleh Lisa, tanpa sadar kepergiannya kali ini begitu membuat Lisa berjingkrak senang dan bahagia. Wanita itu bergegas menutup pintu rumah dengan cepat lalu menuju kamar. Bukan kamar milik sang majikan, namun Lisa bergegas menuju kamarnya sendiri untuk membersihkan badan dan memastikan tubuhnya bersih tanpa satu kotoran pun yang tertinggal.

__ADS_1


"Aku akan pastikan hari ini menjadi hari yang paling panas." gumamnya seraya menatap tubuh indah itu di balik balutan lingerie yang baru ia ambil lagi entah kapan di kamar Arika.


Memoles wajah dengan make up tipis serta lipstik yang merah menggoda, Lisa berjalan menuju kamar dimana Prawira sedang tertidur. Aroma parfum seolah menyebar kemana-mana dari tubuh Lisa yang baru saja mandi.


Tok tok tok


Ketukan pintu ia berikan di daun pintu kamar utama.


"Tuan, boleh saya masuk?" tanyanya dengan lirih.


Beberapa detik menunggu tak ada suara sahutan dari dalam. Lisa dengan lancang membuka pintu yang ia yakini tak terkunci. Dan benar pintu tersebut langsung terbuka dengan mudahnya.


Senyuman puas Lisa mengembang melihat Prawira yang tidur dengan lelap di atas tempat tidurnya. Pelan namun pasti wanita itu mendekat dan mengusap rahang tegas milik pria idamannya.


Harapan akan kepuasan hari ini ia dapatkan masih berusaha Lisa jangkau.


"Lisa?" Prawira membuka matanya menyadari ada tangan yang mengusik tidurnya pagi itu.


Kedua mata Prawira menatap malas penampilan wanita di depannya ini. Tatapan yang seolah bosan tertangkap jelas oleh Lisa. Wanita itu mengernyitkan kening melihat Prawira mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Ada apa?" tanya Prawira dingin sembari menutup matanya kembali.


"Wir, apa yang kau lakukan?" suara bernada kecewa Lisa terdengar kala melihat pria di depannya seperti hilang minat padanya.


"Pergilah. Aku sedang sangat lelah hari ini." pintahnya tanpa berpikir bagaimana perasaan wanita di depannya saat ini.

__ADS_1


Bagaimana bisa memikirkan perasaan Lisa, sang istri yang nyatanya wanita terbaik di matanya saja tak bisa ia pikirkan perasaannya.


__ADS_2