
Satu minggu sudah semua Arika lakukan seorang diri, kini saatnya bertemu dengan seseorang yang sudah membantunya. Pria yang sudah teruji kemampuannya dalam menyelidiki segala hal. Tak perduli lagi bagaimana sang Ayah akan murka padanya. Yang jelas Arika akan menegaskan pada sang suami jika dirinya adalah wanita yang tegas.
"Semoga semuanya berjalan lancar." gumam Arika menutup kembali map di tangannya. Satu amplop tebal pun ia serahkan pada sang anak buah.
"Terimakasih yah?" ujar Arika yang medapatkan anggukan langsung sebelum keduanya berpisah.
Satu hari ini Arika sangat sibuk mengurus segala keperluannya. Ia tak lupa menyerahkan bukti-bukti yang cukup banyak juga pada sang pengacara.
"Saya mau anda mengatur agar nama saya tidak akan jatuh meski perceraian ini terjadi." Arika pun kembali pergi. Bukan untuk bekerja, ia menuju bandara dimana dirinya akan memilih untuk berlibur seorang diri sembari menunggu kabar hasil gugatannya.
Swiss adalah salah satu negara yang Arika pilih untuk menenangkan pikirannya. Ia tak lagi perduli bagaimana nasib sang suami yang ia pikir tengah menghabiskan hari-harinya bersama sang wanita simpanan. Tanpa ia tahu jika Prawira saat ini justru tengah sakit di hotel sebab daya tahan tubuhnya menurun beberapa hari belakangan ini. Di tambah ia tak pernah berhenti mengkonsumsi alkohol hingga membuatnya drop.
"Ketty! Ketty!" teriaknya beberapa kali namun tak juga ia mendengar sahutan dari sang wanita.
Tanpa ia tahu justru Ketty saat ini tengah bersusah payah untuk menarik banyak uang dari buku tabungan Prawira yang ia tahu pinnya.
"Aku harus segera pergi dari sini. Aku harus menyelamatkan diriku." batinnya begitu tampak ketakutan.
__ADS_1
Prawira yang merasa tak kuat lagi berada di hotel akhirnya meminta pertolongan melalui telepon hotel itu. Ia susah payah bangkit dari tidur dan menelpon resepsionis.
Saat itu satu pun orang yang ia hubungi sama sekali tak ada yang mengangkatnya. Sungguh Prawira ingin sekali marah, sayangnya tak kuat untuk melampiaskan amarahnya.
"Tuan!" salah satu resepsionis membantu Prawira untuk duduk di sofa lalu menyandarkan pria itu dengan perlahan.
"Tolong, bantu saya pulang," pintah Prawira lirih. Tangannya yang gemetar pun menyodorkan sebuah kartu identitas untuk meminta orang di depannya membantunya pulang.
Tak lama kemudian taksi fasilitas dari hotel pun membawa Prawira menuju rumah yang ia tunjukkan. Tak ada yang menyambut kedatangannya selain sosok Lisa sang pelayan yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
Prawira menatapnya dengan tatapan nanar dan kabut. Pelan ia pun terjatuh di papahan sang supir lantaran tak kuat lagi menopang tubuhnya yang sangat lemas.
Lisa sangat panik, segera ia membantu Prawira masuk ke rumah dan menuju kamarnya. Kini tinggallah mereka berdua setelah kepulangan supir hotel itu. Lisa beberapa kali mencoba menghubungi Arika namun tak juga bisa di hubungi hingga ia berpikir untuk menghubungi Surya Winata yang tak lain adalah ayah dari Prawira.
Hal yang sama terjadi, pria paruh baya itu tak juga mengangkat telepon darinya. Dan terakhir harapan Lisa adalah keluarga Arika. Benar saja, satu kali menelpon panggilan itu segera terhubung.
"Apa, sakit? Oke saya segera ke sana. Persiapkan semuanya kita akan ke rumah sakit sekarang juga." titah Algam yang sangat syok mendengar sang menantu jatuh sakit.
__ADS_1
Ada rasa kesal di dadanya mendengar Arika yang sama sekali tidak bisa di hubungi. Bahkan saat dalam perjalanan Algam pun tak menyerah menghubungi sang anak namun tak juga ada jawaban.
"Kemana Arika? Bisa-bisanya dia menghilang seperti ini saat suaminya sakit." gerak Algam mengumpat kesal.
Singkat cerita kini Lisa dan Algam sudah berada di rumah sakit menunggu hasil pemeriksaan dari dokter. Di dalam Prawira masih belum juga sadarkan diri.
Sedangkan di sisi lain Ketty tampak tergesa-gesa menuju bandara hendak kembali ke negara asal. Wajahnya pucat ketakutan akan sesuatu di dalam pikirannya. Bahkan ia sampai tidak fokus berjalan menarik kopernya.
Langkah kaki yang bergerak cepat membuatnya tanpa sadar menjatuhkan koper miliknya.
"Auwh..." pekiknya.
"Mau kemana? Apa sudah selesai proyeknya di negara ini?" Sontak Ketty membulatkan mata kala melihat sosok Arika yang berdiri dengan kedua tangan bersedekap di depan dadanya.
Kasar Ketty meneguk salivahnya. Sumpah demi apa pun ia begitu takut kali ini jika sampai Arika membawanya kembali pada Prawira. Pelan Ketty menggelengkan kepala tidak percaya hingga segera wanita itu berlari meinggalkan Arika dengan menyeret kopernya.
Melihat itu tentu saja Arika sedikit penasaran namun ia memilih acuh dan segera pergi untuk menghindari keterlambatan jam keberangkatannya.
__ADS_1