Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Rencana Prawira


__ADS_3

Pagi buta yang sunyi samar-samar Arika mendengar suara yang entah apa itu. Pelan ia membuka pintu, Prawira sudah tak ada di kamar. Ia lantas melangkah tanpa suara mencari sang suami. Ruang tengah tak ada siapa pun. Bahkan lampu rumah saja belum di matikan dan gorden jendela masih tertutup rapat.


Melangkah kembali menuju ke arah dapur yang satu-satunya tempat tidak ia datangi. Keningnya mengernyit heran kala mendengar tawa kecil.


Namun, di detik berikutnya tawa itu menghilang begitu saja. Dan terlihatlah sosok Lisa yang datang menyapa.


“Nyonya,” ujarnya dengan wajah di buat setunduk mungkin.


“Lisa, kamu di dapur? Mengapa rumah masih gelap?” tanya Arika menatap sekeliling rumah yang memang belum terkena sentuhan tangan wanita itu.


“Arika, ini aku mengambil minum untukmu.” Prawira pun juga keluar dari dapur mendekati sang istri.


Keberadaan mereka berdua membuat Arika menatap bingung. Jelas terlihat Lisa belum melakukan apa pun, tapi mereka berdua justru berada di tempat yang sama dengan keadaan yang masih tidak begitu terang.


“Tadi Tuan meminta saya membantu mengambilkan gelas, Nyonya.” ujar Lisa.


Arika masih diam memperhatikan keduanya. “Apa kamu tidak bisa mengambil gelas sendiri, Wir?” tanya Arika dengan pelan.

__ADS_1


Sebab bagaimana pun ia penasaran, Prawira tetaplah suami yang harus ia hargai.


“Tuan hanya tidak tahu gelas yang mana yang di gunakan, Nyonya. Sebab di dapur saya menata gelas dengan tempat yang sama.” Kini bukan Prawira yang bicara melainkan Lisa yang menjelaskan.


Arika lantas menatap sang suami yang hanya diam saja.


“Sudah adakan airnya? Ayo ke kamar.” Ajaknya berjalan lebih dulu.


Prawira hanya mengikuti langkah sang istri yang menuju ke arah kamar kembali meninggalkan Lisa yang menatap keduanya. Sekilas Prawira menoleh ia jelas melihat Lisa yang tersenyum menggoda.


Usai bersiap dan sarapan kini saatnya Arika dan Prawira berangkat. Dengan Prawira yang mengantar sang istri lebih dulu menuju ke kampus.


“Aku malam ini pulang terlambat yah? Ada beberapa kerjaan yang harus cepat di selesaikan minggu ini.” Di perjalanan pria itu membuka perbincangan.


Bukan langsung menjawab, Arika justru menatap sang suami sejenak. “Apa nggak bisa di kerjakan di rumah? Biasanya begitu kan?” ujarnya mencari jalan.


“Arika, ini sangat penting dan bukan aku sendiri di kantor. Ada beberapa karyawan juga yang membantuku. Bahkan Papah juga di sana.” ujarnya mencari alasan.

__ADS_1


Helaan napas keluar dari sosok Arika. Ia menganggukkan kepala. “Yasudah kalau begitu. Tapi, siang aku ke sana yah? Kita makan siang bareng. Ajak Papah sekalian.” dan Prawira pun menganggukkan kepalanya mengiyakan ajakan sang istri.


Keduanya pun berpisah dengan Arika yang turun dari mobil sang suami setelah mencium punggung tangan Prawira.


Memiliki pekerjaan masing-masing tentu saja membuat mereka tak bisa saling mengawasi. Hanya bermodal kepercayaan saja.


Tiga puluh menit melewati perjalanan yang macet, akhirnya Prawira tiba di kantor. Kedatangannya di dalam ruang kerja di sambut hangat oleh sosok wanita yang baru kemarin menjadi sekertarisnya.


“Tuan, akhirnya anda datang juga.” Lembut dan seksi suara itu mendayu di telinga Prawira.


Mengecup dan mendalamkan ciuman sekilas, hingga Prawira mengakhiri hal itu.


“Kita kerjakan pekerjaan pagi ini segera dan aku akan memakanmu sampai puas setelahnya. Siapkan hotel untuk sore nanti.” ujarnya yang mendapat persetujuan dari wanita bernama Yeni.


“Oke,” jawabnya.


Sungguh senyuman di wajah Yeni mengembang kian lebar kala mendengar perintah dari sang atasan. Sudah ia yakini jika hotel yang di minta Prawira adalah hotel untuk mereka sesuai janji pria itu kemarin.

__ADS_1


__ADS_2