Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Putus Asa Arika


__ADS_3

Di perjalanan yang tidak begitu padat siang itu membuat Arika dengan sembarangan mengemudikan mobil. Sesuka hati wanita itu menambah kecepatan mobil tanpa perduli akan keselamatan dirinya. Tangisan tak hentinya terus mengeluarkan air mata di kedua pipinya.


"Gelar, gelar dan gelar. Kenapa harus membawa kata itu dengan semua masalah di hidupku? Kenapa, Tuhan!" Arika menangis histeris berteriak bahkan ia memukul stir mobil.


Sakit sekali rasanya di kala masalah yang ia hadapi justru mendapat tekanan dari sang ayah. Algam dengan teganya meminta sang anak untuk tetap baik-baik saja dengan pernikahan yang sungguh membuat Arika begitu muak.


Tanpa sadar wanita itu mengendarai mobil dengan penuh emosi, tak lagi memperhatikan ke mana arah ia melajukan mobil itu hingga Arika menyadari suara klakson yang begitu keras.


Seluruh tenaga wanita itu lakukan untuk mengendalikan jalur mobil yang ia lewati, meski tak sesuai dengan harapan. Namun, ia masih bisa bernapas lega saat ini. Arika terengah-engah setelah memastikan mobilnya terhenti dengan sempurna di pinggir jalan.


Bukan melupakan semua, justru ia menghempaskan kening pada stir mobil dan kembali menangis.


Tok tok tok


Samar dan semakin jelas Arika menyadari ada orang yang melihatnya dari luar jendela mobil. Keningnya mengernyit saat tidak melihat jelas siapa orang itu.

__ADS_1


"Awan?" Arika kaget melihat sang teman sudah berdiri di depan pintu mobilnya.


"Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kamu sadar tadi hampir saja membuat aku ikut celaka?" Awan justru menyerang dengan berbagai pertanyaan. Ia melihat jelas bagaimana wajah Arika yang sembab. Bahkan di ujung matanya wanita itu masih menyisahkan air mata yang tak terkena usapan tangannya tadi.


Arika baru sadar jika ia hampir saja menabrak mobil Awan. "Maaf aku tidak bermaksud mencelakai orang lain. Apa lagi itu kamu. Aku hanya..." Arika menggantung ucapan saat tak tahu lagi harus berucap apa.


"Sudahlah, biarkan mobil ini aku suruh orang mengikuti kita. Kau ikut denganku." Awan menarik tangan Arika menuju mobilnya. Dimana di sana Arika duduk di sebelahnya dan ia pakaikan seatbelt.


Gugup dan canggung, tentu saja Arika menjauhkan wajah kala pria itu dengan dekatnya memasangkan seatbelt padanya.


Mobil pun akhirnya melaju dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan tak ada obrolan sama sekali yang tercipta. Hingga Arika melihat Awan membawanya ke sebuah cafe yang ramai dan suasananya sangat santai.


Yah, Arika butuh suasana itu untuk menenangkan pikirannya. Mungkin dengan Awan lah ia bisa bicara dengan tenang.


Pria di depannya duduk dan memesan beberapa menu cemilan dan minuman. Ia bahkan sama sekali tak bertanya pada Arika.

__ADS_1


"Mungkin tempat ini bisa menjadi penenang untukmu dari pada jalanan dengan membawa mobil ugal-ugalan seperti itu. Rasanya tidak lucu jika seorang dosen masuk berita menyalahi rambu lalu lintas, bukan?" Pertanyaan yang Awan lontarkan sungguh ingin menghibur Arika. Namun, ia tak tahu jika Arika begitu sensitif dengan profesinya saat ini.


"Berhenti membawa profesiku. Aku membencinya." dingin Arika berucap.


Bukan tersinggung, justru Awan sangat tahu jika Arika sedang dalam mode sensitif. Dimana ia harus jauh lebih tenang dan memahami wanita di depannya.


"Profesi memang tidak baik jika di dalam garis yang juga tidak baik. Tetapi ada jutaan manusia di luar sana yang begitu menginginkan profesi sepertimu, contohnya aku..."


"Awan, tolong berhenti bicara soal profesi sialan itu!" sentak Arika yang tak kuasa menahan air mata lagi.


Di detik berikutnya wanita itu meneteskan air mata begitu lanju tanpa bisa terhenti. Ia terisak di depan Awan.


"Aku ingin menjadi wanita biasa, Wan. Aku ingin menjadi wanita yang di rumah dan di cintai oleh suaminya. Aku tidak ingin dengan kehidupanku seperti ini. Aku sakit." ia mengadu pada pria yang bahkan tidak begitu dekat dengannya.


Wajah tenang Awan seketika panik melihat banyak pengunjung yang menatap ke arah mereka. Lantas pria itu mendekati Arika dengan menggeser kursinya. Ia menepuk punggung tangan Arika, tidak lebih. Hanya itu yang boleh ia lakukan.

__ADS_1


"Arika, tenanglah dulu. Aku menyesal membawamu kemari. Seharusnya tempat yang tepat memang di dalam mobil." ujarnya yang sama sekali tak mendapat respon dari Arika.


__ADS_2