Hujan Berselimut Awan

Hujan Berselimut Awan
Ancaman Prawira


__ADS_3

Satu tamparan mendadak Arika dapatkan. Wajah wanita cantik itu terhempas ke samping oleh tangan pria paruh baya. Keadaan yang semula tenang mendadak begitu mencekam. Awan pun kaget melihat pria yang ia tahu adalah ayah dari Arika dengan tega menampar anaknya sendiri. Bahkan sekeliling begitu banyak mata yang memperhatikan mereka.


"Ayah, Ayah menamparku?" Arika meneteskan air mata sembari memegang pipinya yang terasa kebas.


Di tatapnya jelas wajah pria paruh baya di depannya ini, rasanya Arika tak percaya melihat tangan yang selalu membelainya lembut dulu kini berubah menjadi menakutkan seperti itu. Namun, jelas Algam tampak begitu marah saat ini.


"Pulang ke rumah suamimu! Pria ini sudah membuat Wira marah. Seharusnya kau bisa menjaga nama baik kampus ini dan juga suamimu, Arika."


Ucapan yang Algam lontarkan sudah jelas membuat Arika mengerti saat ini. Kemarahan  sang ayah ternyata berasal dari sebuah laporan pria yang begitu Arika benci. Prawira benar-benar sudah menghasut pikiran sang ayah. Arika tak bisa bicara apa pun lagi, ia benar-benar malu mendapat tatapan dari banyak mahasiswa mau pun dosen di kampus itu.

__ADS_1


Segera ia pergi meninggalkan kampus, sementara Awan hanya berdiam diri melihat tatapan tajam dari ayah Arika. Algam pergi usai menatap penuh ancaman pada pria tampan yang bersama anaknya barusan.


"Kasihan Arika. Kenapa hidupnya begitu menyedihkan? Bahkan kebahagiaan yang aku bayangkan ternyata tidak bisa menutupi semua masalahnya." ujar Awan menggelengkan kepala tak menyangka.


Ingin rasanya menolong, namun mengingat status Arika yang sudah menikah. Awan sadar ia tidak memiliki wewenang untuk ikut campur.


Sementara Arika yang sudah mengemudikan mobil sepanjang jalan meneteskan air mata. Sakit sekali ketika merasakan penderitaan batin yang begitu menyakitkan namun ia tak mendapatkan pembelaan dari siapa pun juga. Arika fokus menyetir mobil hingga ia pun tiba di rumah. Dimana tak ada sang suami. Hanya ada dua wanita yang sama-sama menjijikkan di matanya.


"Mau sampai kapan aku seperti ini? Aku ingin kehidupan yang baik-baik saja. Aku ingin ketenangan."

__ADS_1


Lemas Arika turun dari mobil. Ia melangkah memasuki rumah. Tak perduli bagaimana Ketty menatap penuh ledekan.


"Wah Nyonya sudah kembali. Tadi Tuan Wira berpesan jika anda boleh beristirahat malam ini sepuasnya. Saya di beri tugas untuk menemani Tuan Wira." Terang-terangan Ketty memperlihatkan dirinya yang memiliki hubungan dengan Prawira.


Tak ingin pusing, Arika memilih terus berjalan meninggalkan wanita itu. Ia memilih menutup telinga dan masuk ke kamarnya.


Duduk di sisi ranjang, Arika melepas cincin pernikahan. Ia lempar ke sembarang arah. Air matanya terus berjatuhan kian deras.


Tiba-tiba saja suara ketukan di ambang pintu terdengar keras. Arika mengusap air mata kembali dan melihat siapa yang datang saat ini.

__ADS_1


"Jangan pernah lagi berhubungan dengannya!" Ternyata Prawira yang tiba saat itu. Ia tampak berjalan mendekati Arika dan menatap tegas.


"Arika, ingat. Aku adalah suamimu. Satu pun pria yang dekat denganmu, maka kau akan siap menerima akibatnya." Prawira mengatakan dengan penuh ancaman. Setelah melihat Arika begitu terkejut, ia pun  bergegas kembali keluar kamar.


__ADS_2