
Walaupun Angel tersenyum bagi mereka itu adalah suatu keadaan yang mengerikan. Semua sekolah tau si ratu Angel. Ia memang sering berkelai, namun itu bukanlah tanpa sebab ia akan berkelai dan membela seseorang yang tidak bersalah atau dalam kondisi yang sama seperti dirinya yang dulu.
Mereka berempat mengiyakan perintah Angel dan segera pergi kocar-kacir menjauhi monster berdarah dingin itu. Angel memakai kembali maskernya dan membantu gadis malang itu berdiri.
Gadis itu terlihat ketakutan saat Angel mendekatinya.
"Gak usah takut aku gak jahat." Angel menunjukkan perhatiannya kepada gadis itu.
Angel diam-diam memperhatikan wajahnya dan merasa tidak asing, tetapi ia tidak tau pernah bertemu dengannya dimana.
Saat Angel membantunya berdiri, gadis tersebut terlihat lemas.
"Gak papa kan? Aku tinggal pergi ya."
Angel berbalik meninggalkan ia sendirian.
"Kak, tunggu."
Angel menoleh sedikit ke arah suara berasal.
"Hm?"
"Makasih kak yang tadi."
Mendengar kata itu Angel menghela napas dan kembali menghampirinya lagi. Dan ia melepas jaket yang sedang ia pakai dan satu masker.
"Nih. Dipakai biar gak ketahuan bekas lukanya." Angel memberikan masker dari sakunya. Ia pun melingkarkan jaketnya di tubuh perempuan kuncir kuda itu.
"Makasih ya, Kak sekali lagi." Gadis itu tersenyum tegar di hadapan Angel. Dan membalasnya dengan senyuman tipis lalu meninggalkannya sendirian.
"Siapa nama kakak?" Teriak gadis remaja itu dari belakang.
Angel pun menoleh.
"Angel."
"Ehh... Aku Mia , kak."
"Oh Mia, tenang aja nama kamu bakalan aku inget. Gak ada lagi kan. Aku pergi. Bye."
Angel berjalan sambil memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
Manis. Tetapi sayang nasibmu seburuk ini, Mia. Aku bisa melindungimu namun gak tau sampai kapan.
Angel berjalan lambat sambil melamun dan tersadar harus segera menemui Lucas.
Ia berjalan cepat menuju lapangan basket. Ia heran karena lapangan lumayan ramai saat ia sampai.
Terlihat ada dua kelompok yang sedang bermain basket. Angel memperhatikan lekat-lekat dua kelompok itu dan yang ia tangkap adalah Lucas dan Chan.
Hah! Lucas sama Chan tanding. Pasti seru nih.
Angel menjentikkan jarinya sambil menyeringai.
__ADS_1
Angel melepas maskernya dan berdiri di pinggir lapangan agar bisa melihat pertandingan keduanya yang sengit itu.
Lucas yang sedang fokus dengan bola basket yang dipegangnya. Saat ia sedang mengoper kepada temannya, sekilas Lucas melihat Angel yang sedang menontonnya. Lucas memastikan kembali dan benar Angel datang untuk menontonnya.
Lucas tersenyum tipis dan menjadi semangatnya begitu membara. Bukan hanya Lucas yang menyadari kedatangan Angel, tetapi Chan juga.
"Jangan harap mau cari perhatian Angel." Kata batin Chan.
Antara kelompok Lucas dan Chan saling berebut posisi angka. Namun, keberuntungan tidak berpihak kepada kelompok Lucas. Disaat bersamaan pula Angel terlihat tidak peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Pertandingan selesai. Ternyata pasukan basket Lucas kalah dengan selisih skor lima angka.
Angel menghampiri Lucas. Dalam pikiran Lucas, Angel akan menyemangatinya untuk tidak menyerah atas kekalahannya karena pikirannya itu ia terlihat menjadi orang bodoh yang senyam-senyum sendiri.
"Angel!" Sapa Lucas sambil melambaikan tangannya.
"Mana hp aku?" Angel mengadahkan tangannya di depan Lucas.
Ternyata ekspetasi yang dibayangkan jauh berbalik, ia menjadi kesal. Lucas berbalik membelakangi Angel mengambil minuman dan mengelap keringatnya.
"Eh kok aku yang di cuekin sih." Angel kesal dan segera berjalan menghadap Lucas, namun Lucas kembali membelakanginya tidak peduli.
Angel memukul kuat lengan Lucas dengan kepalan tangannya.
"Aw. Sakittt." Lucas mengerut keningnya dan mendengus. Lucas melirik Angel lalu kembali membelakanginya lagi.
Angel yang tidak tau apa yang terjadi dengan Lucas marah karena kesabarannya terus di uji.
"Aww!" Lucas berteriak kesakitan dan memegangi tulang kering yang di tendang oleh Angel.
Suara mereka berdua menyita perhatian orang yang ada di sekitarnya. Angel terlihat tidak peduli dan berjalan keluar lapangan basket, sedangkan Lucas segera menutup mulutnya rapat dan menjadi setengah malu.
Angel memukul dinding berkali-kali untuk melampiaskan amarahnya karena Lucas. Akhir-akhir ini emosinya selalu meledak-ledak. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Bel pulang berbunyi.
Berjalan menunduk menuju halte melewati parkiran kendaraan, pikiran bukan ada disini, namun melayang-layang entah dimana.
"Angel!" Panggil seseorang tapi sayangnya Angel tidak mendengarnya karena sedang melamun.
Seseorang itu menghampirinya tepat di depannya, alhasil Angel menabraknya. Dengan lemas Angel mendongakkan kepalanya melihat wajah orang yang menghalanginya.
Angel mendorong tubuh orang itu setelah tau siapa dia. Orang itu mundur beberapa langkah.
"Yuk, pulang bareng." Lucas tersenyum menawarkan diri.
Karena orang ini mood Angel hancur seharian. Angel memilih tidak menggubris Lucas dan berjalan melewatinya. Tetapi Lucas masih berusah menghalangi Angel.
Angel menarik nafas dalam-dalam agar api emosinya tidak membakar hatinya.
"Gak perlu. Nanti aku juga di jemput."
"Yaudah kalau gitu. Makasih loh hpnya."
__ADS_1
"Oh iya mana hp aku?" Angel yang tadi berencana meninggalkan Lucas, tiba-tiba membalikan badannya kearah Lucas.
"Siapa juga yang mau kembaliin. Tapi kalau kamu ikut aku pulang baru aku kasih." Lucas tersenyum dengan memamerkan sederet giginya.
Angel mendecak. Mau tidak mau Angel harus menuruti Lucas dengan ikut pulang bersama. Ia berjalan menuju ke mobilnya menunggu pintu mobil itu tidak dikunci lagi.
Lucas tersenyum puas dan membuka kunci mobilnya.
Angel menutup matanya dan mengatur napasnya perlahan-lahan, sudah sedari tadi ia merasa kesal dan mungkin sekarang semakin kesal. Karena Lucas meracau tidak karuan, walaupun tujuannya menghibur Angel. Namun, bukannya menghibur tetapi membuatnya ingin menutup telinganya dengan penyumbat telinga.
Tiba-tiba Lucas tertawa kencang karena merasa leluconnya itu sangat lucu. Angel menoleh kearah Lucas dengan wajah datar dan bibir atasnya terangkat sedikit karena tingkah Lucas yang pelik.
Fix, gila nih orang.
Dan kembali membuang pandangannya ke jalanan, Angel bahkan lupa tujuannya mau pulang bersama dengan Lucas untuk meminta ponselnya.
"Dua minggu lagi kamu ulang tahun ya?"
"Hmm." Angel menjawab singkat dan mengangguk. Sebenarnya ia menjawab pertanyaan lucas sadar tidak sadar.
Ultah? Tau dari mana dia? Aku aja lupa.
Angel menoleh kearah Lucas. "Tau dari mana?"
"Om Jeffry."
"Papa yang kasih tau?"
"Iya."
"Kurang kerjaan Papa."
"Terserah dia dong."
"Iyalah."
Hanya terjadi perbincangan singkat diantara mereka. Angel paling malas harus memulai pembicaraan duluan. Akhirnya setelah lama duduk di kursi mobil Lucas dengan tujuan meminta ponselnya kembali, pikiran itupun terlintas dalam otaknya.
"Oh ya mana hp aku? Aku mintanya dari tadi bukannya dikasih-kasih." Angel meminta kejelasan keberadaan ponselnya tersebut.
"Di dalem tas aku." Lucas menjawab singkat.
"Lah tapikan tas kamu di belakang."
"Ya usaha dong, salah sendiri hpnya bisa ketinggalan di mobil aku."
"Is." Angel berdecak.
Dengan nekat Angel membuka sabuk pengamannya untuk segera ke kursi belakang.
"Eh eh, nanti ambilnya bisa kan? Bahayaaa." Lucas memalingkan wajahnya sebentar untuk mencegat Angel melakukan hal yang dapat membahayakan diri.
"Ah bodo amat. Aku maunya sekarang." Angel melangkah lebar untuk mencapai kursi belakang itu.
__ADS_1