
"Papa udah makan?" Tanya Angel saat Papa dan dirinya sudah duduk nyaman di dalam mobil.
"Udah tadi di pesawat. Oh ya besok jadi kan?"
"Jadi sih pa?" Angel mengerutkan keningnya bertanya.
"Kegiatan rutin kita setiap kamu ulang tahun. Gimana sih masa kamu lupa." Ujar papa menjelaskan.
"Oh itu. Tahun ini gak usah deh pa. Males. Harusnya mereka juga kerja keras dong. Jangan mengharapkan orang muluk." Tolak Angel serta merta.
"Loh kok gitu sih, Njel. Kenapa kamu gak suka."
"Suka, tapi Angel merasa gak penting aja gitu. Tahun ini gak usah ya pa. Papa juga baru pulang dari luar kota. Mendingan istirahat deh."
"Enggak enggak. Pokoknya besok harus. Gak usah banyak alasan deh. Enggak pembantahan lagi okey."
"Hahhh, yaudah deh Angel ikut."
Angel menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan mulai menutup matanya, sedangkan papa sedang mengobrol dengan Pak Sam untuk rencana besok.
Keesokan paginya, puluhab kotak berisi berbagai macam sembako tersusun rapi di depan rumah, Angel keluar dari dalam rumah dengan berat kaki.
Pakaiannya terlihat rapi, ia melihat-lihat kotak yang banyak itu.
Setelah melihat-lihat ia bersandar pada tiang besar di rumahnya menunggu papa. Saat ia sedang menendang batu-batu kecil di depannya, ada mobil masuk ke dalam pekarangannya.
Angel hanya memperhatikan dalam diam, terlihat seseorang keluar dari mobil dengan kacamata hitam dan melambaikan tangan kepadanya.
Tanpa sadar Angel terpesona dengan ketampanan pagi itu.
Tak!
Suara sentilan yang mendarat di dahi Angel.
"Sakit!"
"Makanya gak usah bengong pagi-pagi. Kenapa? Kamu baru sadar aku ganteng." Candanya sembari mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Angel mengangkat tangannya berniat memukul dan Lucas pun menghindari pukulan Angel.
"Dasar kepedean."
"Lah itu tadi. Hayoh!"
"Iss apaan sih. Ngapain coba kami disini. Kurang kerjaan."
"Lah situ juga kepedean sapa juga yang pengen ketemu kamu. Orang aku disuruh om Jeff."
"Ehh ngatain lagi. Bener-bener."
Angel berusaha memukul Lucas untuk memberinya pelajaran tetapi Lucas selalu lolos dalam menghindar. Setelah lolos Lucas pun tidak segan mengejek Angel dengan menjulurkan lidahnya. Dan ejekan itu membuat Angel bertambah kesal.
Angel yang kesal mengambil botol kosong yang berada di dekatnya untuk di lemparkan kepada Lucas.
__ADS_1
"Ayo kita pergi, Njel." Ajak papa sambil menutup pintu depan.
Tidak mendapatkan respon apapun papa melihat pekarangannya. Dan mendapati Angel melemparkan botol dan tepat mengenai kepala Lucas.
"Aduh sakit, Njel." Lucas mengaduh kesakitan.
"Angel. Kamu kok gitu." Tegur papa setengah berteriak.
Angel yang tidak menyadari keberadaan papa terperanjat.
"Maaf pa." Angel mengulum bibir bawahnya sambil menatap Lucas dan papa bolak-balik.
"Minta maafnya sama Lucas. Kamu ini kok kasar sama tamu."
"Ehmm maaf om. Tadi kami cuma bercanda aja kok om. Gak ada maksud kasar." Cela Lucas berusaha membela Angel.
"Walaupun bercanda tetep harus tau batasan dong. Minta maaf sana sama Lucas."
"Tapi pa-"
"Angel!" Peringat papa sekali lagi.
Angel pasrah ia berjalan mendekati Angel dan memberikan tangannya untuk berjabat tangan.
"Maaf!" Kata maaf itu terdengar sangat pelan.
"Hah? Apa? Gak kedengaran!"
Disisi lain Lucas merasa menang dan menyambutnya jabatan tangan Angel.
Lucas hanya tersenyum.
"Oke." Katanya singkat.
Angel melirik tajam Lucas.
"Awas aja nanti!" Gumamnya pelan.
"Kamu ngomong apa, Njel!" Sahut papa yang dari tadi memperhatikan mereka.
"Enggak kok pa. Angel tadi bilang minta maaf sama Lucas." Celanya lagi menghindar dari masalah yang lain.
"Yaudah kalau gitu. Maaf ya Lucas tadi. Om ngajak kamu kesini buat temenin Angel bagi-bagi rezeki. Ini barang-barang udah di siapin. Ayo kita masukin barang-barang ini ke mobil kamu."
"Loh kok Angel sama Lucas. Angel pokoknya gak mau."
Papa tidak menghiraukan ketidakpuasan Angel. Papa bergabung dengan Pak Sam dan Lucas memasukkan kotak-kotak itu ke dalam mobil milik Lucas.
"Udah deh, Njel. Udah sana pergi sama Lucas."
Papa mendorong Angel untuk pergi bersama Lucas.
"Lah terus papa gimana?"
__ADS_1
"Gak perlu pikirin papa. Udah pergi sana keburu siang. Lucas jaga Angel baik-baik ya."
"Iya om."
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Walaupun Angel merasa enggan.
"Kita mau ke panti asuhan?"
"Enggak. Kita keliling jalanan aja. Misalnya ada tunawisma terus orang-orang yang kerja di jalanan kelihatan susah kita turun kasih-kasih barang yang mereka perlu. Gak semua barang kita kasih. Kalau makanan ya makanan aja. Gituuu aja gak tau." Paparnya menjelaskan sekaligus ngegas.
Lucas hanya menoleh sekilas dan kembali fokus ke jalanan.
"Eh itu ada bapak-bapak yang lagi dorong gerobak. Gimana nih?" Tanya Lucas kepada Angel.
"Terserah kamu gih. Aku lagi males kamu aja yang kasih sana." Angel menunjuk kardus berisi sembako kepada Lucas.
"Serius?" Lucas melebarkan matanya bertanya.
"Iyalah. Pake nanyak lagi. Cepet ambil sana keburu jauh orangnya." Ia bersungut kesal karena Lucas sedari tadi hanya bertanya saja.
"Eh iya-iya."
Lucas memberhentikan laju mobilnya di pinggir jalan yang sedikit sepi. Dan keluar dari mobil menuju bagasi belakang untuk memberikan barang yang akan diberi.
Tanpa berlama-lama lagi ia pun berlari kecil menuju orang yang ia maksud tadi.
Angel hanya memperhatikan dari dalam mobil. Lucas kembali ke mobil dengan wajah semeringah.
"Gimana?"
"Seru juga, ya bagi-bagi kayak gini. Seneng aja gitu ngeliat mereka bahagia."
Mendengar tutur kata itu, Angel tersenyum simpul. "Yaudah kalau gitu kamu aja yang lanjut kasih."
"Lah terus kamu?"
"Aku kan udah bilang aku lagi mager. So, kamu lanjutin okey!"
Lucas melihat Angel bingung, namun tetap menyetujui permintaan Angel itu.
Mereka melanjutkan perjalanan mengelilingi jalan kota yang ramai dengan halu lalang kendaraan bermotor. Inilah sisi gelap kota, kehidupan dua sekelompok manusia yang berbeda. Ada yang bersenang-senang ada yang menderita. Dan semua itu sudah takdir Tuhan yang belum tentu semua orang menerima takdirnya masing-masing.
Setelah barang-barang di dalam mobil sudah habis, mereka berdua singgah di sebuah restoran untuk makan siang.
Angel berdecak setelah ia men-scroll isi grup chat sekolah hari ini dan segera meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja makan.
Lucas mengambil alih ponsel milik Angel dan memastikan apa yang sudah dilihat oleh Angel.
Ternyata grup sekolah sedang menggosipkan tentang Angel yang melabrak beberapa adik kelas beberapa waktu yang lalu.
"Gitu aja dipikirin." Celetuk Lucas seraya mengambil alih minuman yang ia pesan sampai dimejanya.
"Cuman logikanya gini deh, aku tuh bela orang yang gak bersalah yang sempet mereka bully. Masa aku yang kena semprot. Padahal mereka yang ngomongin itu lebih parah daripada aku. Pada gak sadar diri emang." Timpal Angel jengkel.
__ADS_1
"Kamu pikir mereka bakalan peduli sama keluh kesah kamu? Yaudah biarin ajalah." Lucas terlihat tidak peduli dengan omong kosong belaka angin lalu itu.
"Hmph!" Angel memalingkan muka lataran solusi Lucas yang sangat garing.