
"Ah kepala aku pusing." Angel memegang keningnya. Dan menyadari kedua tangannya diperban.
Tangannya memang terasa sakit setelah memukul Chan.
Chan?
Ia menoleh kanan dan kiri, Angel berada di sebuah kamar dan kamar itu terlihat tidak asing.
Ada secarik kertas di nampan yang berisi makanan, minuman dan juga obat. Segera ia membaca kertas itu untuk mengetahui isinya.
Ia tersenyum setelah membaca keseluruhan isi surat itu.
Makasih Lucas.
*****
Lucas sangat panik melihat dua orang pingsan disekitarnya. Mungkin seharusnya ia pingsan juga.
Dari seberang sana teman-teman satu ekstrakurikuler mendatanginya. Mereka terkejut melihat dua orang yang pingsan berada di dekat Lucas dengan satu orang bersimbah darah.
"Lucas!" Mereka berseru bersama-sama.
"Ssstttt. Diem woy." Lucas meletakkan jari telunjuknya ke bibir memyuruh mereka diam.
"Instruktur udah pulang?" Suaranya terdengar pelan agar tidak diketahui orang lain.
"Udah. Lo bunuh mereka ya?" Pertanyaan pertama itu muncul dari Mark.
"Bukan gue. Please woy kalian bantu gue. Rahasiain ini semua. Sebagai imbalannya apa yang kalian mau gue turutin deh." Kata Lucas tanpa pikir panjang.
"Serius?" Tanya mereka serentak.
"Iya serius. Cepet bantuin gue bawa nih orang. Keburu mati."
"Lah ini kan Chan. Itu Angel. Kalian kenapa nih."
"Udah gak usah banyak tanyak bawa si brengsek ini ke rumah sakit."
"Nih." Lucas melempar dompet ke arah temannya untuk tagihan rumah sakit.
"Pake kartu kredit untuk bayar rumah sakit. Terus kalau udah, terserah kalian mau di pake apa. Jangan lebih dari 3 juta. Kalau lebih awas aja kalian semua."
"Oke-oke." Teman-teman Lucas terlihat bersemangat karena mendapat imbalan yang tidak sedikit setelah membantunya
Mereka segera membawa Chan menuju parkiran untuk dibawa kerumah sakit. Sedangkan Lucas menggendong Angel untuk dibawa ke apartemennya.
Dirumah sakit Chan ditemani oleh geng Lucas. Saat Chan terbaring di ranjang rumah sakit dan mulai siuman, semua teman-teman Lucas mengelilinginya.
__ADS_1
Chan tersadar dengan pakaian yang pasien dan infus di tanganya. Betapa terkejutnya Chan saat ia melihat banyak orang menatapnya tajam dengan 10 pasang mata.
Salah satu teman Lucas menepuk bantal Chan. "Masih untung lo kita bawak ke rumah sakit. Kalau tadinya kita buang ke sungai udah mati mungkin lo sekarang. Awas aja lo bocorin masalah ini. Akibatnya mungkin lebih parah dari sekarang yang lo alami." Peringatnya tegas.
Chan hanya mengangguk cepat tanpa berkata. Ia tidak ingin babak belur di tangan sepuluh orang yang ada di dekatnya.
"Sekarang lo ngomong sama nyokap lo. Bilang loh beberapa hari ini nginep di rumah temen." Mark memberikan ponselnya kepada Chan.
Chan menerima ponsel tersebut dan menjawab panggilan telepon. Ia pun mengikuti arahan dari mereka semua.
Setelah panggilan selesai. Mark melemparkan amplop coklat yang berisi uang.
"Biaya rumah sakit udah dibayar. Lo dirumah sakit 3 hari aja cukup. Luka lo pasti udah kering pas keluar rumah sakit. Itu uang terserah mau loh apain. Yang penting inget yang tadi paham."
Chan hanya mengangguk.
Teman-teman Lucas meninggalkan Chan sendirian dirumah sakit. Mereka tersenyum bahagia setelah berada di luar rumah sakit karena imbalan dari Lucas yang cukup untuk mereka berfoya-foya.
Ponsel milik Mark berdering.
"Eh si Lucas."
"Yaudah jawab aja. Tugasnya kan udah beres." Sahut salah satu temannya.
Mark hanya mengangguk dan menggeser tombol menerima panggilan.
"Woi, Mark. Gimana udah beres belum."
"Awas aja lo pada kalau lebih dari itu."
"Iya-iya. Udah ya gw matiin."
"Oke."
Panggilan telepon diputus oleh Mark. Rombongan Mark kembali menuju mobil mereka masing-masing tidak sabar untuk menghabiskan uang Lucas.
Lucas berada di apartemen. Ia bernapas lega mendengar kabar baik dari Mark.
Ia berjalan menuju kamar yang ditempati Angel melihat keadaannya sekarang. Tetapi Angel belum sadarkan diri.
Lucas menggigit bibir bawahnya bingung harus berbuat apa. Sebenarnya ia merasa sedikit takut harus berduaan dengan Angel. Namun, akhirnya ia memberanikan diri untuk merawat Angel sebentar agar ia segera bangun.
Dimulai mengelapi wajah dan tangannya, kemudian membalut luka Angel dengan perban.
Lucas keluar dari kamar menuju dapur. Ia membuka kulkas, lemari kabinet dan tidak menemukan makanan apa-apa. Yang ia temukan hanya ada roti gandum dua lembar.
Ia tetap menyiapkan dua lembar roti tersebut dengan selai strawberry yang ada dan segelas air putih tidak lupa pula obat untuk Angel apabila sudah terbangun nanti.
__ADS_1
Ia juga menulis di secarik kertas yang diselipkan di di bawah gelas. Tujuannya memberi tahukan bahwa ia akan pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan.
Lucas pun pergi keluar apartemen mencari kebutuhan makan malamnya bersama Angel.
Tidak lama Lucas pergi, Angel terbangun. Perutnya keroncong karena tidak sempat makan siang karena buru-buru. Ia pun memakan makanan yang sudah disiapkan Lucas untuk mengisi perutnya yang kosong.
Setelah makan dan meminum obat, Angel berjalan menuju sofa ruang tengah dan menghidupkan televisi karena merasa bosan.
Ia menekan-nekan tombol remote control televisi mengganti channel terus menerus karena tidak ada satupun tayangan menarik.
Pintu dibuka dari luar.
"Lucas!" Angel menoleh kebelakang.
"Angel udah bangun. Kamu laper ya. Nih aku baru beli bahan makan. Aku masak dulu oke."
"Emang bisa?" Tanya Angel mengangkat alisnya.
"Eh ngeremehin. Bisalah. Tunggu aja." Jawabnya percaya diri.
Angel hanya tersenyum. Sedangkan Lucas berjalan menuju dapur. Angel pun hanya duduk di sofa sambil melihat televisi.
Baru saja beberapa menit berjalan, suara gaduh dari dapur terdebgar berkali-kali. Angel bangun dari sofa dan berjalan ke dapur karena risih mendengar kebisingan.
"Kalau gak bisa tuh bilang. Jangan kebanyakan gengsi."
Dapur terlihat berantakan kerena ulah Lucas.
"Iya aku emang gak bisa. Kamu juga gak peka sih. Kemaren kan aku dah bilang kalau aku pernah buat dapur jadi kapal pecah." Jawab Lucas tidak bersalah.
"Ck. Tadi kan tinggal bilang bisa. Pake basa-basi. Udah sini biar aku aja yang masak." Angel mengambil alih dapur untuk memasak, sedangkan Lucas hanya diam duduk di kursi memperhatikan Angel memasak.
Angel yang sibuk memasak, menoleh kearah Lucas mengeluh kesal.
"Lucas! Coba inisiatif kek bantuin. Dah tau tangan aku lagi sakit, malah cuma diem aja ngeliatin."
"Kalau aku buat kacau kena marah. Ih serba salah emang." Lucas pun mengeluh juga kepada Angel.
"Kan bisa motongin bawang, bantuin osengin. Heish masa gitu aja gak bisa."
"Yaudah yaudah mana yang mau dibantuin." Lucas pun berdiri dari kursi dan menghampiri Angel.
"Dasar cerewet." Gumam Lucas pelan.
"Apa? Cerewet? Ngomongnya kurang kuat!" Sindir Angel.
"Angel Cerewet!" Pekik Lucas lantang.
__ADS_1
Dan seketika tangan Angel melayang ke mukanya. Seluruh wajahnya putih akibat tepung dari tangan Angel yang sebelumnya dilumuri tepung dengan sengaja.
"Makan tuh tepung."Kata Angel sambil mengibas ngibas tangannya.