I'M Not An Angel

I'M Not An Angel
Bab 16 Ulang Tahun


__ADS_3

Tetapi, saat ia melangkah, mobil Lucas tiba-tiba rem mendadak karena tidak memperhatikan mobil lain yang ada depan dan membuat Angel terdorong ke depannya dengan cepat.


Bruk!


Lucas shock. Ia berpikir akan mati-matian diomeli oleh Angel.


"Njel, gak papa kan?" Tanya Lucas dengan hati-hati.


"Mana ada gak papa. Kepala aku sakit tau. Kenapa sih rem mendadak?" Angel menjawab dengan nada nyolot.


Tidak mau kalah, Lucas pun ikut menyalahkan Angel.


"Ya kamu sih aku kan udah bilang nanti. Gara-gara kamu aku jadi teralihkan tadi."


"Loh kok aku.".


"Yaiyalah kamu gak sabaran dari tadi. Untung cuma gitu. Kalau sampe kecelakaan gimana."


Angel terdiam, baru kali ini Lucas benar-benar mengomel hingga ia tidak bisa berkata-kata.


"Duduk disitu diem-diem gak usah ke duduk kedepan lagi." Lucas kembali men-starter mobilnya kembali dengan wajah ketus.


Angel hanya melirik Lucas dengan jawaban singkat.


"Iya-iya."


Angel mengambil ponselnya di tas Lucas dan memainkannya sesekali. Sambil memainkan ponselnya, Angel melirik Lucas melalui kaca depan mobil terlihat Lucas dengan wajah serius. Dalam hatinya Angel merasa takut sekaligus bersalah dengan keseriusan Lucas tadi.


Mobil berhenti pertanda ia sudah sampai dirumahnya.


Angel membuka pintu mobil belakang tanpa berbicara sepatah katapun. Namun saat ia sudah berada diluar, Angel kembali membuka pintu mobil depan.


"Aku minta maaf, gak usah garang gitu mukanya." Angel meminta maaf, namun matanya tidak bisa diam melihat kearah yang berbeda-beda.


Angel langsung menutup pintu mobil tanpa mempersilahkan Lucas menjawabnya dan berlalu pergi.


Di sisi lain Lucas merasa puas karena Angel meminta maaf padanya dan merasa hal itu sangat lucu karena tidak ada maksud sama sekali untuk memarahi Angel.


Angel segera menutup pintu rumahnya dan berdiri mematung membelakangi pintu. Ia menyesali perilaku yang memalukan itu.


Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena frustasi.


"Angel!" Suara Papa yang sedang turun dari tangga.


Anget kaget bukan main.


"Kamu kenapa, Njel. Kok kaget gitu Papa cuman manggil gitu doang loh. Hayohhh... Ketauan kamu."


"Ketauan apa sih, Pa?"


"Pulang bareng Lucas kan."

__ADS_1


"Hah? Eng-enggak kok. Udahlah, Pa Angel mau ke kamar." Dengan keadaan malu, ia segera berjalan meninggalkan Papa menuju ke kamar.


"Cieee malu cieee." Papa masih saja menggoda Angel.


"PAPAAAA!" Ia membalikan badannya menatap Papa dan berteriak kesal saat berada di tangga menuju kamarnya.


"Aaarrrggggghhh.." Angel menggulingkan badannya kearah berbeda sambil menutupi seluruh kepalanya ke bantal.


****


"Kak!"


Pagi-pagi Angel baru saja sampai di dekat tangga menuju kelasnya. Suara sapaan itu membuatnya menoleh.


"Hem. Ya?"


Mia berlari kecil menuju Angel yang tepat berada di pertengahan anak tangga.


"Mia ganggu ya, Kak?"


"Enggak kok, ada apa?"


"Ini kak jaketnya. Makasih ya udah minjemin." Mia menyodorkan jaket milik Angel yang sempat ia pinjamkan lusa kemarin.


"Iya sama-sama, gimana lukanya kemaren?" Angel mengambil jaket itu dan memiringkan kepalanya melihat muka Tia yang pernah lebam.


"Udah mendingan kak."


"Lain kali kamu jangan terlalu lemah, nanti kamunya yang bakal terus diinjek-injek terus."


Angel manggut-manggut mengerti keadaan Mia saat ini.


"Oh gitu. Yaudah kalau ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan aku oke."


"Iya kak makasih. Mia pamit duluan ya kak. Pasti bentar lagi bel bunyi." Gadis berambut sepundak itu segera berdiri dan mulai berpamitan kepada Angel.


"Oke hati-hati."


"Ya, kak. Dah." Ia berjalan menuruni anak tangga.


Namun, saat Tia sudah berada di tangga terbawah, Angel memanggilnya kembali.


"Eh tunggu."


"Hm? Kenapa kak?"


"Kayaknya kita pernah ketemu deh. Kamu ngerasa gak?" Mia mengerutkan keningnya menatap Angel lekat-lekat.


"Mungkin kali." Angel pun juga menaikkan alisnya untuk berpikir.


Mereka terdiam sesaat.

__ADS_1


"Hah! Minimarket!" Mereka menhawab secara bersamaan. Dan berakhir tertawa bersama.


"Yaampun itu udah setahun yang lalu ya?" Angel tersenyum tipis mengingat kejadian tersebut.


"Iya, Kak. Pantes lupa-lupa inget. Ternyata pertemuan pertama kita di minimarket."


Bel berbunyi tanda jam istirahat telah berakhir.


"Yaaaa, udah bel. Kak aku pergi dulu. Dah kak. Kita ngobrol lagi nanti."


"Iya hati-hati." Angel melambaikan tangannya namun tidak dibalas oleh Tia karena ia sudah berlari ke kelasnya, jadi tidak memperhatikan Angel.


Angel tertawa kecil melihat adik kelasnya sangat ceria. Ingin rasanya Mia selalu menjadi ceria seperti itu, agar hidupnya lebih berwarna tidak seperti dirinya.


Angel kembali ke kelasnya melewati tangga koridor, tanpa titah bahkan keinginannya Angel malah dipertemukan dengan musuhnya yaitu Tiffany dan anggota genknya.


Dengan wajah datar dan pura-pura tidak melihat Angel berjalan melewati Tiffany. Namun, karena Tiffany belum puas mencari gara-gara ia menyenggol Angel dengan lengannya kuat. Dan Angel harus menahan tubuhnya dengan memegang sisi dinding akibat senggolan tersebut.


Karena tidak merasa senang ada orang yang tiba-tiba mengusiknya, Angel berhenti sejenak dan mundur beberapa tangga tanpa membalikkan badannya. Tepat tinggal dua anak tangga terakhir, Angel menyandung kaki Tiffany dengan sengaja. Alhasil Tiffany terjerembab hingga lantai terbawah.


Perhatian orang-orang yang ada disekitar tertuju kepada Tiffany. Angel hanya tertawa ringan sambil tersenyum sinis melihat Tiffany terjatuh tanpa ada rasa kasihan sedikitpun.


Angel meninggalkan Tiffany dan teman-temannya acuh.


"Awas aja, Njel. Liat aja aku bakalan bales, bahkan lebih memalukan." Muka Tiffany merah padam dipermalukan dengan sangat jelas dihadapan teman-temannya dan orang yang berlalu lalang disekitar mereka.


Cahaya mentari pagi masuk dari celah-celah kecil jendela kaca kamar Angel. Cahaya lembut itu membuat terbangun dari tidurnya.


Angel mengerjapkan matanya berulang-ulang karena merasa silau.


Hari Sabtu ini adalah hari paling malas di dunia. Angel masih terbaring nyaman dikasur empuknya itu. Kasur adalah tempat ter-nyaman yang ia miliki.


Ia mengelus-elus seprai yang melekat kuat pada kasurnya. Dan berusaha duduk di pinggir kasur untuk bangun pagi. Sejenak ia melihat sekeliling kamarnya, matanya berhenti pada kalender yang tepat berada di meja kecil disampingnya.


Tanggal 16 yang tepatnya hari ini dilingkari dengan spidol berwarna merah. Angel hanya mengangguk santai dan berlalu pergi meninggalkan kamarnya seakan tidak terjadi sesuatu.


"Selamat pagi, nona."


"Pagi, Bi." Angel membalas sapaan Bi Murni dengan wajah bantalnya itu.


"Oh ya hari ini tanggal 16 berarti nona ultah kan. Selamat Ulang tahun, nona. Ini Bibi sudah masak makanan kesukaan, nona."


"Bibi memang terbaik. Makasih, bi." Angel tersenyum manis pada Bibi Murni.


"Nona gak ada rencana apa-apa."


"Enggak, Bi. Ulang tahun cuma gitu-gitu aja. Apalagi Papa udah dua hari ini ke luar kota."


"Jadi, Nona gak sedih gitu."


"Alah, Bi. Gitu aja masa sedih. Setiap tahun juga gak ada yang istimewa banget."

__ADS_1


"Hm. Ya sudahlah. Bibi mau pergi ke pasar ya habis ini."


"Iya, Bi." Angel hanya mengangguk sambil mulai menyantap sarapannya.


__ADS_2