
"Ini Tante Risty mau pulang di mau pamitan sama kamu." Papa dan Tante Risty berdiri berdekatan menatap Angel yang baru turun tangga.
Angel mendengar perkataan papa dengan ekspresi datar dan tidak menunjukkan emosi apapun.
"Tante mau pulang. Setau tante seminggu yang lalu kamu ulang tahun kan. Nah ini tante bawain hadiah untuk kamu maaf telat ya." Tante Risty bersikap lembut pada Angel untuk mencuri perhatiannya, segera ia ambil hadiah yang diberikan dari Tante Risty tanpa mengucapkan apa-apa.
Papa mengantarkan Tante Risty layaknya pasangan kekasih yang di mabuk cinta. Angel mengamati mereka berdua tanpa beranjak dari tempatnya.
Setelah mengantarkan Tante Risty, papa kembali menghampiri Angel yang masih memegang kado pemberiannya tadi. Papa terlihat tersenyum merasa Angel sudah dapat menerima Tante Risty.
"Gimana menurut kamu Tante Risty tadi? Baikan?"
Angel melirik papa dengan tatapan kecewa. Ia membanting kado itu ke meja dengan kasar, walaupun kado tidak terbuka suara bantingan yang nyaring menandakan bahwa kado berisi barang pecah belah. Angel melempar kado dari Tante Risty bukan tanpa alasan itu senua agar papa lihat reaksinya ketika papa dekat dengan wanita lain. Ia beranjak pergi dari sisi papa kembali ke kamar dalam diam.
"Njel, kamu kenapa sih? Semalem kamu pergi tanpa kabar sekarang kamu jadi kasar kayak gini. Papa dari semalem khawatir sama kamu."
"Oh papa bisa khawatir ya? Heh, bohong. Isi omongan papa itu cuma bohong sekarang." Angel berhenti melangkah tanpa menoleh ke arah papa.
"Bohong? Papa mana bisa bohong sama kamu."
"Enggak bisa? Beberapa hari yang lalu papa keliatan sedih ketika ngomongin mama, tertis seminggu kemudian udah bisa senyum ketawa sama wanita lain, akting papa luar biasa. Dan sekarang udah bisa jalan sama cewek lain itu gak bohong?"
"Itu yang papa bilang bener, Njel. Tapi sekian lama papa gak bisa bersama dengan mama, hati papa juga kosong butuh seseorang yang bisa menyayangi papa sama kamu. Harusnya kamu hargai perasaan papa juga."
"Aku suruh hargai perasaan papa? Pa, emang papa pernah hargain perasaan aku. Papa pikir jodohin aku itu bagus? Papa pikir bakal sekolah-in aku di Jerman itu, aku setuju? Enggak. Papa gak pernah tanyak perasaan aku tentang itu semua. Papa cumaa kasih pendapat sendiri, gak pernah ngejelasin itu semua dengan alasan yang logis. Rasanya aku harus ngelakuin apa yang papa minta dan papa suruh. Aku juga punya keinginan sendiri."
"Tapi itu semua yang terbaik untuk kamu, nak."
"Iyaa terbaik bagi papa bukan bagi aku. Papa cuma mikirin diri sendiri. Makin lama papa tuh makin egois tau gak."
Angel berlari menuju kamar dengan mata yang mulai berlinang air mata.
Kenapa orang yang aku sayang tiba-tiba jadi kayak gini.
Papa hanya berdiri dan melihat Angel berlari menuju kamar tanpa rasa ingin menyusulnya. Papa memegangi kepalanya dan menghela napas. Papa terlihat merasa bersalah selama ini tidak memikirkan perasaan Angel.
__ADS_1
Di sisi lain, Angel menangis di balik pintu dengan posisi memeluk lutut. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
Ia mencaci maki semua yang ia alami saat ini. Perasaan sungguh sudah di campur aduk.
Menangis memang bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah, tetapi menangis dapat menumpahkan seluruh emosi yang lama sudah ia pendam.
Cio duduk di depan Angel terdiam dan tiba-tiba menggesek tubuhnya ke kaki Angel. Seakan dia tau perasaannya saat ini yang butuh dihibur.
Angel perlahan mulai mengangkat wajahnya dari sandaran lutut untuk melihat tingkah Cio yang manis.
Cio berhenti mencuri perhatian Angel, setelah mereka berkontak langsung. Angel tersenyum simpul dengan mata yang merah dan pipi yang basah.
Kucing berwarna krem gelap itu melompat ke pangkuan Angel seakan meminta untuk dibelai. Angel mengerti dan tidak sungkan mengelus lembut kucing manjanya itu.
Sisi baiknya adalah ia dapat melepaskan diri dari tekanan yang sudah lama ia pendam dengan adanya Cio.
*****
"Pak, nona dari tadi belum makan. Saya ketuk pintunya gak ada yang nyaut." Bi Murni menghampiri papa yang masih sibuk dengan laptopnya untuk melapor.
"Bi, tolong ambil kunci serep. Cepet ya, bi.
Bi Murni pun pergi ke bawah dengan cepat. Papa masih
berusaha mengetuk pintu kamar dan memastikan keadaan
Angel.
Bi Murni naik kembali ke lantai dua. Dengan cepat papa mengambil kunci, dari tangan bibi dan mengarahkan kunci itu ke tempatnya di pintu kamar.
Brak!
Pintu kamar Angel terbuka lebar.
Papa masuk dengan tergesa-gesa, namun akhirnya hatinya merasa lega setelah melihat Angel tertidur dengan earphone yang memiliki fitur sunyi melekat di telinganya.
__ADS_1
Papa kembali memastikan dengan mendekat di kasur Angel, terlihat mata Angel yang sedikit bengkak dan suara sesegukan pelan.
Mata papa terlihat sayu
dan meratapi porybuatannya selama ini yang membuat Angel menangis sedih. Papa mengelus rambut Angel lembut dan mematikan musik yang telahlah menemaninya tidur. Papa kembali ke lantai bawah setelah memastikan
keadaan Angel yang sempat membuatnya khawatir.
Keesokan harinya....
Angel berangkat pagi-pagi sekali hingga tidak sarapan, ia beralasan ada urusan penting dan piket pagi. Sebenarnya itu hanyalah alasan belaka agar ia dan papa tidak saling bertemu apalagi bertegur sapa.
"Angel mana, bi?" Tanya papa sambil meminum kopinya.
"Nona sudah pergi dari tadi, pak."
"Kayaknya Angel masih kecewa sama saya ya, bi?" Papa meletakkan cangkir kopi dengan perlahan.
Bi Murni hanya terdiam tidak berani berkata-kata. Di seberang meja makan hanya terdengar helaan napas dari papa.
Keadaan sekolah dari luar hanya terlihat sedikit orang dan parkiran murid pun hanya ada sedikit kendaraan yang terjajar.
Di kelas pun Angel segera melakukan piket kelas setelah melakukan tugasnya ia hanya duduk di kursinya.
Angel berjalan menuju ke kantor guru untuk mengantarkan tugas yang di suruh guru jam pelajaran tadi, saat itu area koridor sudah ramai oleh murid yang berlalu lalang.
Saat itu ia berjalan melewati gerombolan geng Tiffany dan Angel tidak peduli dan tetap berjalan santai.
"Kayaknya Lucas peka deh. Soalnya kemaren tuh dia kasih baju. Dan bajunya itu merek Chanel. Gila gak sih. Usaha gue ternyata selama ini gak sia-sia."
Cerita tentang kejadian kemarin itu dibeberkan dengan cara bicara yang sedikit dilebih-lebihkan dan suara yang sedikit dikeraskan agar di dengar oleh Angel.
Idih, nih orang kepedean amat.
Angel tetap lanjut berjalan setelah mendengarkan obrolan yang sedikit membuatnya mual.
__ADS_1