
"Vin, sini lo. Bawa kotak ini."
"Lo panggil dia, basa basi aja sekalian kasih tuh barang\-barang yang ada di kotak. Dan yang lama! Ngertikan maksud gue?"
Hampir 2 jam jam kosong pelajaran di kelas IPS 6 dan saat itu pula mereka bebas keluar masuk kelas dengan santai.
"Tif, lo dipanggil sama Vino tuh." Kata Mark sambil berjalan memasuki ruang kelas.
"Ciee, Tif. Udah sana samperin tuh Vino." Sahut teman\-temannya.
"Oke oke gue nyamperin Vino dulu ya."
Saat Tiffanny pergi ke luar kelas, Lucas berjalan mendekati genk kumpul Tiffany.
"Hey, guys. Pada ngerumpiin apa sih dari tadi. Asik bener. Betah banget padahal udah dua jam pelajaran loh." Ujar Lucas sok akrab sambil duduk di kursi kosong tempat Tiffanny duduk tadi.
"Ada deh, kepo lo." Balas Rara salah satu teman dekat Tiffanny tersenyum dan dibarengi tawa teman temanya yang lain.
"Eh genk, gue ada sesuatu yang berbau eksekutif gitu pada mau tau gak?"
"Apa sih gak usah basa\-basi deh, Cas. Bikin penasaran aja." Sahut Rara penasaran dan semua mata tertuju ke Lucas.
"Beneran mau tau nih?"
"Iya! Cepetlah." Ucap mereka berbarengan.
"Oke oke sabar dong. Gini gue tuh punya voucher eksklusif Saint Laurent YSL niatnya sih pengen gue kasih untuk kalian, kebetulan gue juga gak pake. Nih vouchernya, diskon 50%." Ia mengeluarkan beberapa kertas tebal yang mewah dari sakunya, terlihat mereka semua kegirangan karena niat Lucas yang akan memberikan kepada mereka
"Et, tunggu dulu, sayangnya gue cuma ada 5. Mumpung Tiffanny lagi gak ada, gue usulin buat kalian untuk gak ngajak Tiffany karena dia gak tau niat gue ke kalian."
"Serius nih Lo mau kasih ke kita kita?"
"Tapi ada satu lagi, kalau kalian mau nih voucher."
"Apaan?"
"Untuk hari ini kalian gak usah deketin Tiffany seakan musuhin dia aja sehari ini. Dan gue jamin voucher eksklusif ini gua kasih gratis buat kalian berlima."
Semua orang yang berteman dengan Tiffanny saling melempar pandangan tidak yakin.
__ADS_1
"Serius nih kita bakalan musuhin Tiffanny hari ini?" Tanya salah satu orang untuk memastikan ke yang lainnya. Mereka terlihat diam tidak memberikan jawaban.
Karena respon yang lama, Lucas mulai tidak sabar.
"Kok diem sih, gak mau nih berarti. Yaudah deh gue balik ke meja."
"Eh tunggu!" Cegat Rara dan yang lainnya.
"Udahlah gak papa kan cuma musuhin sehari doang. Besoknya kita suprise\-in dia. Kan gampang."
"Terus alesannya gimana, kalau ditanya?"
"Bikin masalah sama dia aja gimana?"
"Hei hei hei! Kok malah diskusi sih jadi gak capek gue nunggu jawaban kalian. Diskusinya kan bisa nanti."
"Iya\-iya kita mau kok." Ucap mereka setuju dan menyanggupi permintaan Lucas tadi.
"Inget tapi musuhin Tiffanny, kalau enggak aku tarik lagi vouchernya dan bakalan kirim surat tagihan ke rumah kalian semua."
"Iya kita janji, yaudah mana vouchernya?"
Lucas memberikan voucher ekslusif yang berjumlah 5 lembar langsung kepada mereka.
Setelah bel keluar main berbunyi, Angel langsung berjalan sendiri keluar kelas. Angel berjalan menuju kelas Lucas dan mereka berpapasan menuju arah berlawanan, sambil melirik dan melempar seringaian licik.
Mark yang berada di samping Lucas bingung menatap dua orang tersebut.
"Ada apa sih?" Senggol Mark dengan sikunya penasaran.
"Ada deh. Gak usah banyak tanyak yang tadi udah dilaksanain kan?"
"Udahlah. Santuy." Mark menjawab santai dan merangkul Lucas dengan akrabnya.
"Bagus." Seringainya puas.
Brak!
Angel membanting pintu kelas IPS 6 yaitu kelas Tiffany terlihat ia duduk sendiri termenung.
Tanpa belas kasihan Angel menarik tangan Tiffany kasar untuk mengikuti dirinya.
__ADS_1
Karena ditarik paksa Tiffany mulai meronta.
"Apaan sih lo, Njel. Lepasin. Lepasinnn woy!" Suara Tiffany yang berisik semakin membuat Angel jengkel. Angel menarik rambut Tiffany agar diam.
"Ahhh! Sakitt!" Tiffany yang tadinya meronta menjadi tidak bergerak tetapi berteriak semakin keras.
"Diem gak lo!" Kata Angel dengan suara meninggi karena jengkel.
"Apaan sih lo! Sakittt! Lepasin!" Tiffany makin menjadi alhasil Angel menarik lagi rambut Tiffany hingga belakang.
"Ahhh! Sakit!" Tiffany berteriak kesakitan.
"Makanya diem lo. Makin lo berisik makin sakit dan kenceng gue tarik rambut lo." Angel menatap lekat Tiffany dengan wajah tanpa ekspresi. Terlihat nyali Tiffany yang ciut mendengar kalimat dari Angel dan ekspresinya.
Tiffany mengangguk mengerti. Angel melepaskan tangannya dari rambut Tiffany. Beberapa helai rambut menempel di tangannya, ia mengibas\-ngibas tangannya agar helaian rambut itu tidak menempel.
"Sorry nariknya kekencangan." Ucap Angel setengah berbisik. Tiffany bergindik ngeri.
Angel keluar kelas dengan menggenggam kasar lengan Tiffanny agar menurut kepadanya. Saat keluar kelas tidak ada satu orang yang berhalu lalang sama sekali, jalanan antar kelas benar\-benar kosong. Angel hanya menyeringai. Tepat di seberang kelas Tiffany adalah gudang kemarin tempat si brngsk Chan menjebaknya.
Angel mendorong Tiffany kuat hingga ia masuk ke gudang terlebih dulu, setelah itu barulah ia masuk dan menutup pelan pintu, namun pada akhirnya terdengar bantingan pintu yang lumayan nyaring diakhir.
"Njel, kita ngapain. Kamu jangan macem\-macem sama aku." Suaranya tampak gugup ketakutan dan mundur beberapa langkah ketika Angel berjalan mendekat.
"Oh udah pake aku kamu, ya. Kita gak ngapa\-ngapain kok. Aku pengen main sama kamu. Emang gak boleh? Bukannya dulu kamu suka kalau diajak main sama aku. Apalagi kalau ke mall. Sekarang aku mau kita main di gudang." Angel tersenyum lebar bahkan menunjukan eye smile yang jarang sekali ditunjukkan dan terus berjalan mendekat dengan pelan.
Hanya terdengar langkah kaki yang saling bersahutan yang satu berusaha berjalan menjauh sedangkan yang lainnya berjalan mendekat.
"Aku bakalan teriak kalau kamu makin mendekat selangkah lagi."
"Teriak aja gak bakalan ada yang denger juga." Jawabnya santai.
Ketika posisi Tiffany sudah sangat terdesak, ia berlutut didepan Angel mengakui kesalahannya.
"Oke njel. Gue salah. Iya gue selama ini selalu manfaatin lo. Gue selalu jahatin lo. Gue juga pernah berusaha deketin Lucas. Sorry njel. Gue ngaku gue salah." Terdengar isakan tangis dari Tiffany sambil mengeluarkan semua unek\-uneknya.
Angel terdiam berdiri di depan Tiffany yang berlutut dengan kepala menunduk. Angel pun jongkok dengan mensejajarkan diri.
"Tif!" Angel mengangkat dagu Tiffany agar kepalanya tegak lagi.
"Mana Tiffanny yang aku kenal dulu?" Angel tersenyum dengan tatapan mata iba melihat Tiffanny yang terisak.
__ADS_1
"Jangan nangis. Aku sedih." Dan mengusap air mata yang mengalir di pipi Tiffanny dengan lembut.