I'M Not An Angel

I'M Not An Angel
Bab 19 Please, Dimana Mama?


__ADS_3

"Aku tuh penasaran kenapa kamu bisa dibenci sih sama mereka. Coba dong cerita." Tanya Lucas lagi dan kembali kepo.


"Gak!"


"Loh kenapa?"


"Gak percaya."


"Sama?"


"Sama setan. Nanyak muluk dari tadi."


"Lah kita kan udah deket. Kenapa masih gak percayaan aja sih."


"Kamu pikir kita ini udah sedeket apa? Ekspektasi kamu kejauhan. Udah yuk balik. Bad mood aku."


Angel berdiri dari kursinya dan berjalan menuju mobil tidak memperdulikan Lucas.


"Lah?"


Lucas memperhatikan Angel dengan wajah bingung, di mana letak salahnya ia hanya bertanya dan tiba-tiba berubah sikap Angel yang sangat drastis.


Ia pun memutuskan mengikuti Angel dari belakang.


"Mau ke mana?"


"Pulanglah. Ampun dah. Mulut tuh cuma untuk nanyak doang dari tadi. Issss...."


Selama perjalanan mereka hanya terdiam satu sama lain dan atmosfer canggung memenuhi seluruh mobil. Saat sampai di rumah Angel pun mereka masih tidak berbicara. Angel pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Angel pulang."


Papa duduk di sofa sambil menyeruput kopi panasnya.


"Njel, sini dulu."


Angel berjalan menuju papa dengan enggan.


"Kenapa muka kok ditekuk gitu." Lirih papa dan masih fokus pada ipad-nya.


"Enggak. Yaudah Angel ke kamar dulu. Bye!" Jawab Angel dan berjalan pergi.


Papa hanya menggelengkan kepalanya pusing dengan tingkah laku Angel yang mudah sekali berubah suasana hatinya.


Saat Angel berada di depan pintu kamar, ia sudah di sambut oleh Cio kucing munchkin-nya. Cio sedang berbaring tepat di depat pintu kamarnya.


Ia menggendong Cio dan masuk ke kamarnya.


Angel meletakan tasnya di meja dan melihat kotak kado berwarna hitam tepat di sampingnya.

__ADS_1


Setelah ia membuka isi kotak itu berisi foto-foto lawas wanita berambut pendek yang tengah tersenyum manis, kotak perhiasan beludru merah dan barang lainnya.


Angel mengamati satu demi satu foto itu, rasanya terlihat akrab dan tidak asing. Saat ia membalikan salah satu foto tertulis " Vivian Mahendra ".


Vivian? Mama?


Angel keluar dari kamar menuju ke papa dengan langkah cepat. Saat di pertengahan tangga Angel bertanya kepada papa.


"Kotak apa ini, pa?"


Papa kaget mendengar suara nyaring Angel, padahal papa tadi sudah setengah tertidur karena mata yang lelah melihat berkas-berkas yang sejauh mata memandang hanya kata-kata yang membosankan dan karena kemarin tidur terlalu larut.


"Hm? Ada apa sih, nak?" Jawab papa dengan mata sayu.


"Kotak hitam di meja Angel dari siapa?"


"Dari mama." Jawab papa refleks dengan mata yang sudah tidak tahan dengan rasa kantuk.


"Hah? Mama? Terus mama di mana sekarang, pah!" Lagi-lagi suara Angel membuat papa kaget.


Papa mengusap wajahnya agar kantuk itu pergi menjauh.


"Aduh, Njel. Kamu ini. Itu dari papa. Barang-barang didalem itu peninggalan mama."


Angel hanya terdiam.


"Udah sini duduk biar papa jelasin."


"Maaf papa gak pernah ceritain tentang mama. Papa takut kamu jadi sedih dan terganggu. Jadi, papa baru kasih tau semua ini hari ini."


"Ini semua barang-barang mama yang selama ini papa simpen. Papa masih gak rela mama pergi. Walaupun alasan itu demi kita. Mama kamu dulu pernah nyiapin hadiah untuk kamu. Sebenarnya mama rencananya mau kasih itu pas umur kamu 3 tahun. Tapi sebelum 3 tahun dia-." Suara tarikan napas itu terdengar jelas seakan masih menyimpan rasa beban berat di hati papa.


"Udah, pa. Gak usah di lanjutin." Ucap Angel menendang.


"Maaf kalau Angel bikin papa sedih."


Papa menoleh kearah Angel. "Gak kok, sayang. Papa yang harusnya minta maaf."


"Udah, pa gak perlu. Angel ngerti kok. Yaudah Angel ke kamar dulu ya." Ia pun beranjak berdiri dan dibalas anggukan papa.


Angel berjalan pergi meninggalkan papa di ruang keluarga sendiri. Sebetulnya di benak Angel tersimpan banyak pertanyaan seputar mama. Tetapi Angel tidak tega papa harus mengingat masa lalunya yang berat.


Setelah Angel meninggalkan papa di ruang tengah, dering ponsel papa terdengar keras.


Papa mengambil ponselnya dan melihat keterangan nama di layar. Ia terkejut dan langsung berdiri. Nama di layar itu sudah lama ia tunggu-tunggu.


Segera ia mengangkat panggilan telepon itu.


"Ha- Halo?" Papa sangat gugup.

__ADS_1


"Jeffery udah cukup cari Vivian selama ini. Jangan pernah cari dia lagi. Vivian udah mati!" Bentak orang dari suara ponselnya.


"Gak mungkin Vivian meninggal. Anda pasti bohong." Jawab papa tidak percaya.


"Udah terima aja. Emang itu takdirnya." Tambahnya dengan suara yang menjengkelkan.


Telepon terputus secara sepihak.


"Halo! Halo!"


Waktu seperti berhenti. Dirinya membatu dan tiba-tiba jatuh terduduk.


Gak mungkin kamu pergi ninggalin aku lagi. Pasti itu cuma alasan mereka doang seperti biasa. Vivian aku mohon berita ini gak bener.


Papa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya seakan dirinya menekan pil pahit. Entah mengapa batinnya pun terasa terpukul.


Angel membawa kotak berwarna hitam itu ke kamarnya dan meletakkan di kasurnya. Ia pun duduk tepat di samping kotak tersebut.


Sekarang ia beralih ke kotak perhiasan dan membukanya. Ia mendapati sebuah kalung dengan hiasan dua sayap.


Ia segera berdiri dari pinggir kasur menuju cermin besar di pojokan kamarnya. Angel mencocokan kalungnya di lehernya dan ia merasa ada yang kurang.


Tiba-tiba Angel teringat kalung yang di berikan padanya tempo lalu. Segera ia membuka laci meja rias dan mengambil kalung sambil terus memperhatikan.


Ternyata liontin bisa dilepas. Angel melepas liontin bulan sabit dan mengaitkan kembali ke kalung milik mama.


Angel terlihat puas dan memakai kalung itu di lehernya.


"Ma, Angel pengen tau mama dimana. Angel pasti berusaha untuk tau dimana mama berada nanti." Gumamnya sambil menggenggam kalung tersebut.


"Semoga Angel selalu ada di hati mama." Tambahnya lagi.


****


Sudah beberapa hari ini Angel semakin jarang bertemu papa ketika sarapan ataupun pada malam hari. Bahkan untuk bersanda gurau di weekend saja papa selalu tidak ada dirumah. Alasan papa selalu ada lembur lah, pekerjaan yang menumpuk lah, yang itulah, yang inilah. Terlalu banyak alasannya.


Angel tahu kalau ada yang aneh sama papa. Tetapi untuk saat ini Angel tidak tahu sama sekali apa penyebabnya.


Beberapa hari yang lalu Angel meminta izin untuk pergi ke kantor seperti biasa makan malam bersama, namun kali ini papa malah melarangnya.


Ia pun mau tidak mau mengikuti kata papa.


"Bi, papa akhir-akhir ini kenapa sih?" Angel menopang dagu dengan wajah cemberut.


Bibi melirik Angel yang tampak bete.


"Bapak kan udah bilang kalau lagi sibuk."


"Iya Angel tau. Tapi akhir-akhir ini papa tuh aneh. Bibi tau apa penyebabnya. Apa karena mama?"

__ADS_1


"Enggak mungkin lah karena mama. Udahlah nona positif thinking sama papa." Jelas bibi menghibur. Sebenarnya Bi Murni tau apa yang terjadi pada Bapak Jeffry, tetapi Bapak Jeffry sendirilah yang meminta Bi Murni menyembunyikan hal tersebut.


__ADS_2