
Angel meletakan tasnya di meja.
Nada dering di ponselnya berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Ia segera mengecek ponsel yang tepat berada di samping tasnya itu.
Isinya pesan yang masuk:
'Angel, ini Ibu Indri. Setelah pulang sekolah kamu ikut jadwal kelas tambahan ya.'
Angel mengernyitkan dahi.
Bu Indri? Tau dari mana nomor aku? Kalau ada kelas tambahan kok diumuminnya lewat hp? Tumben.
Walaupun banyak pertanyaan di dalam pikirannya, ia tetap menyetujui hal tersebut tanpa rasa curiga.
Angel segera mengganti membersihkan diri dan mengganti baju, setelah itu pergi lagi ke sekolah.
"Nona, mau kemana?" Bibi yang sedang membawakan piring yang berisi potongan buah untuk diberikan kepada Angel. Namun, Angel sudah berjalan melewati pintu depan.
"Angel mau ke sekolah, bi. Ada kelas tambahan. Angel pergi dulu ya, buru-buru nih. Dah, bi." Angel menoleh kearah bibi sebentar dan langsung berjalan cepat menuju mobil.
"Eh tapi, non-" Perkataan Bi Murni sudah tidak didengar oleh Angel karena ia sudah berjalan menjauh dan memasuki mobil.
Bibi terlihat bingung, setau bibi hari ini bukanlah jadwal kelas tambahan dan les Angel. Hari ini adalah hari dimana Angel bebas dari jadwal pembelajaran tambahan.
Bi Murni kembali berpikir mungkin jadwal di lipat gandakan karena ujian nasional yang sebulan lagi akan datang.
Tap...Tap...Tap...
Langkah kakinya menyusuri jalan antara kelas yang sudah sepi, hanya terdengar suara dari siswa yang mengikuti ekstrakurikuler.
Ia membuka pintu kelasnya dan tidak ada satu orangpun di sana. Ia melirik jam arloji ditangannya. Jam itu menunjukan jam 3 tepat yang artinya kelas tambahan sudah dimulai.
Angel terlihat bingung dan segera menghidupkan layar ponsel untuk menanyakan hal tersebut pada Bu Indri.
Saat Angel tengah sibuk dengan ponselnya, Lucas yang berada di koridor ujung sedang berjalan menuju lapangan basket dengan teman-temannya. Tanpa sadar Lucas menyadari keberadaan Angel dan menoleh untuk memastikan kembali.
Dan ternyata benar itu Angel, namun karena desakan teman-temannya untuk memulai latihan Lucas tidak sempat menghampiri Angel.
Angel bersadar pada dinding kelasnya sambil mengecek ponselnya berkali-kali.
"Kok gak ada balesan sih?" Gumannya kesal dan bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
Ia berinisiatif untuk pergi ke ruangan guru. Sebenarnya ia merasa sedikit takut dengan suasana gedung sekolah yang luas ini dan sangat sunyi. Jadi, untuk memecahkan keadaan hatinya yang takut ia mendengarkan musik dan memasang earphone di telinganya.
Saking asyiknya ia mendengarkan musik, Angel tidak menyadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
Dalam hitungan detik, Angel disekap mulutnya dengan kain agar tidak bersuara dan di bawa ke lorong dekat gudang yang berada di dekatnya.
Setelah sampai di lorong itu, Angel di dorong hingga ke pojokan. Orang yang membawanya itu memakai masker berdiri tepat di depannya.
Angel mengeluh merasa sakit pada badannya dan segera menatap orang yang sudah menculiknya itu.
"Chan, Chan. Gak guna pake masker aku udah tau." Angel berusaha berdiri dengan memegang dinding.
Chan berjalan mendekat ke arah Angel sambil membuka maskernya, mata Angel terbelalak saat Chan sangat dekat dengannya ia ingin menjauh, tetapi batas dinding sudah menyentuh tubuhnya.
Chan memegang dinding dengan jarak antara dirinya dan Angel hanya beberapa centi saja.
"Bagus kalau kamu tau lebih cepet." Tampak Chan menyeringai padanya dengan sudut mata licik.
"Mundur gak. Cepet. Jangan deket-deket." Percikan sulut api emosi itu dimulai.
"Kalau aku gak mau gimana? Kamu mau ngapain emnagnya? Mau minta tolong gak ada orang disini."
Angel berusaha mendorong tubuh Chan agar menjauh darinya. Namun, tenaganya tidak sebanding. Karena geram, Chan memegang kuat kedua pergelangan tangannya dengan satu tangan.
"Mau apa sih kamu, Chan. Kamu jangan macem-macem sama aku."
"Terserah aku dong sekarang. Kamu gak bisa kabur dari aku." Chan membisikkan kata-kata itu di telinga Angel dangan jarak yang sangat dekat.
"******** kamu Chan."
"********? Makasih julukannya. Aku mau ngapain kamu ya. Dari deket gini kamu cantik banget."
"Jangan macem-macem aku masih ada Lucas." Tanpa sadar kalimat tersebut terucap dari mulutnya.
Mendengar kata itu Chan mengencangkan kembali genggaman tangannya hingga Angel merasa kesakitan.
"Jangan sebut dia disini. Dia gak bakalan dateng. Kamu tuh masih pacar aku ngerti. Kamu diem-diem penggoda ya berasa murahan tau gak."
Chan memegang pipi Angel dengan tangan yang lainnya.
"Katanya keluarga kamu hancur juga gara-gara ada gen penggoda. Ternyata ibu sama anak sama aja. Sama-sama penggoda."
__ADS_1
Percikan api emosi itu tiba-tiba berkobar nyata pada emosi Angel saat mendengar kata ibunya ada penggoda.
Angel melotot kepada Chan dan menjatuhkan Chan yang sempat membuatnya terpojok.
Ia mencekik lehernya, menindih tubuhnya dan menginjak kedua kakinya agar tidak melakukan serangan balasan.
"Keterlaluan banget lo Chan. Bilang mama aku penggoda hah! Sesuci apa sih loh."
"Ah. Sakit, Njel. Ak-Akuu gak bisa napas." Suara Chan terdengar samar, Angel tersadar dan melonggarkan genggamannya itu.
"Hahaha..Njel kamu mau nyangkal gitu. Berarti bener kan. Sahabat kamu aja tau dan udah pasti itu kamu sendiri yang ceritain. Kamu gak usah pura-pura bodoh." Chan justru semakin menjadi-jadi. Emosi Angel sudah tidak terbendung lagi. Tangannya sudah mengepal kuat yang siap dilayangkan pada muka Chan.
Pukulan itu tepat melayang pada pipinya.
"Dasar ********. Gak punya otak. Bodoh. Gw benci benget." Caci maki itu terus diucapkan sambil terus memukul kepalanya.
Angel merasa tidak terima dan sangat marah mendengar ibunya direndahkan seperti itu.
Chan tidak berdaya dengan pukulan yang bertubi-tubi itu. Tidak butuh waktu lama Chan pingsan. Melihat Chan pingsan, Angel menghentikan pukulannya itu tangannya tiba-tiba terasa sakit dan gemetar.
Ia menatap kepalan tangannya itu dengan wajah pucat dan melirik ke arah Chan dengan hidung berlumuran darah bahkan seluruh wajah yang lebam. Ia berdiri dan menjauh sedikit.
Kakinya terasa lemas melihat Chan seperti itu karenanya. Ia menendang tubuh Chan agar ia bangun.
"Bangun bodoh. Dasar pengecut." Angel menendang tubuhnya berkali-kali namun tidak ada respon darinya.
Napas Angel menjadi tidak beraturan. Ia terduduk lemas di samping Chan dengan kepala dibenturkan dengan sengaja.
"Angel!" Lucas muncul dengan wajah berkeringat dan suara napas yang memburu terdengar jelas.
"Lucas!" Ia menoleh kearah Lucas dengan suara parau. Angel berusaha berdiri agar bisa mendekat dengan Lucas.
Namun, kakinya terlalu lemas hampir membuatnya terjatuh. Dengan sigap Lucas menangkap Angel hingga jatuh dipelukannya.
Di dekapan Lucas, Angel meluapkan tangisannya itu.
"Lucas, aku harus gimana. Ak..aku bunuh orang. Gimanaaa." Tangisannya makin menjadi mengikat kejadian yang belum lama itu.
Hati Lucas terasa sakit melihat Angel menangis dalam pelukannya.
"Lucas, gimanaa?" Tangisannya itu tidak kunjung reda. Lucas hanya dia mengelus pundak Angel yang tergoncang karena tangisannya itu.
__ADS_1
Karena perasaannya yang meluap-luap dengan kondisi badan yang melemah, Angel pingsan dalam pelukan Lucas.
"Angel bangun. Njel jangan gini dong." Lucas menepuk pipi Angel agar bangun tetapi usahanya sia-sia.