
Piring-piring tersusun rapi diatas meja. Angel menghitung seluruh jumlah piring yang ada dan ia tersenyum puas dengan makanan yang sudah ia siapkan.
Ia duduk di salah satu kursi makan minimalis dan sekali-kali melihat ke arah jam dinding. Saat jarum panjang tepat ke angka 12. Ia mulai merasa resah.
"Bi, papa kok belum pulang ya. Biasanya sebelum jam 7 udah pulang." Angel menoleh kearah bi dengan wajah sedikit kecewa.
"Bapak lembur kayaknya, nona."
"Lembur? Tapi papa gak ada bilang tuh. Masa iya papa lupa sama ulang tahunnya sendiri." Ia meratapi makanan yang sudah ia sajikan sedari tadi.
"Aduh bibi juga gak tau, nona."
Angel bangkit dari tempat duduknya. "Yaudah deh, bi. Bantuin Angel bungkusin makanannya. Angel mau ke kantor papa." Kata Angel sambil berdiri dari kursi makan.
"Gak bilang papa dulu?"
"Gak usah, bi. Ini suprise. Mungkin aja papa lupa sama ulang tahunnya." Imbuh Angel terakhir kali.
"Yaudah, bibi ambil tempat makanannya dulu." Bibi pun pergi ke lemari dapur untuk mengambil tempat makan.
Semua makanan yang sudah ia siapkan. Angel pergi keluar rumah dan tidak mendapati keberadaan Pak Sam. Tanpa bertanya pada bibi, Angel memesan sendiri taxi online-nya sendiri.
Sampai di depan kantor papa, Angel turun dari taxi online. Didepan kantor terparkir beberapa kendaraan bermotor termasuk mobil papa. Angel mendekati mobil papa dan melihat apakah ada Pak Sam di dalam. Namun, ia tidak melihat siapapun didalam mobil.
Ia pun berlanjut memasuki kantor papa, terlihat hanya beberapa orang yang lembur. Tanpa ragu, Angel masuk ke ruangan papa.
"Papa, Angel...."
Angel berdiri terpaku di dekat pintu setelah melihat papa dan sekretaris Tante Risty sedang bermesraan.
"Angel." Papa terlihat terkejut dengan kedatangan Angel.
"Ma-maaf ganggu. Aku ada bawain makanan kayaknya cukup untuk kalian berdua. Silakan dimakan." Kata Angel lirih dan berjalan ke arah meja sofa dan meletakkan makanan yang ia bawa dengan senyuman palsunya.
"Aku pergi dulu. Semoga gak ganggu." Ia keluar dari ruangan kantor papa dengan cepat bahkan papa pun belum sempat menjelaskan.
Angel membanting pintu ruangan papa menandakan hatinya terdapat irisan baru. Ia berjalan menuju lift.
"Hahaha. Hahhh... Penderitaan aku bertambah satu ternyata." Angel tertawa sakit dengan suara yang terdengar parau.
Senyuman kepedihan itu menghilang setelah lift membuka pintunya otomatis. Ia berjalan tidak tentu arah saat sudah berada di luar kantor papa.
"Hujan?" Suara sangat pelan hingga nyaris tidak terdengar.
Ia menerobos hujan dan berjalan di trotoar tidak tentu arah. Semua orang berlari mencari tempat berteduh, Angel justru sebaliknya. Di antara rintikan hujan air matanya pun mengalir saling menyatu. Isakan tangisnya sama sekali tidak terdengar akibat derasnya hujan.
Ia duduk di kursi di dekatnya. Hujan masih belum berhenti. Semakin deras hujan menjatuhkan airnya, maka semakin keras pula isakan tangisnya.
__ADS_1
Didalam pikirannya papa sudah mencintai seseorang yang sama sekali tidak ia inginkan. Ia sama sekali tidak ingin posisi mama tergantikan oleh wanita lain. Walaupun mungkin papa sudah mendapatkan tambatan hati yang baru. Dan saat ini ia sama sekali tidak ingin percaya terhadap siapapun itu.
Ia menengadah tangannya menampung air hujan dan ia menggenggam erat tangannya hingga kuku jari tangannya menyentuh kulit tangan dengan keras.
Ia tertunduk lesu dengan baju yang basah kuyup. Ia memejamkan matanya untuk merasakan kesakitan yang lama terpendam di dalam hatinya.
Rintikan hujan tidak menjatuhkan diri ke kulitnya. Angel membuka matanya melihat apa yang terjadi. Ternyata seseorang tengah memayungi dirinya.
****
"Njel, tunggu dulu denger penjelasan papa!" Teriak papa dari dalam ruangannya. Namun Angel terlanjur mengacuhkan papa.
Papa segera berdiri dari sofa dan mengambil jasnya, terlihat dari balkon ruangan air terlihat jatuh dari langit. Papa pun membawa payung lipat dari laci meja.
"Pak!" Tante Risty menatap papa dengan wajah memelas.
"Nanti lagi okey. Saya perlu cari Angel dulu." Ujar papa dan setengah berlari keluar dari ruangannya untuk mengejar Angel. Dan Tante Risty ditinggalkan sendiri di ruangnya.
Saat di luar kantor papa terlihat menoleh kiri dan kanan, ia tengah mencari Angel berada. Melihat kilat yang menyambar dan hujan yang semakin deras. Papa mengembangkan payungnya dan pergi ke arah berlawan mencari Angel.
"Angel! Kamu dimana nak?"
"Angel!"
Teriakan papa secara terus menerus. Saat ia berinisiatif menelepon Angel, panggilan pertama di putus sedangkan panggilan selanjutnya tidak terhubung.
"Apa mungkin Angel udah pulang ya." Gumam papa.
Papa berlari kembali menuju kantor untuk pulang melihat keadaan Angel dirumah.
****
"Angel. Kamu ngapain di sini?" Tanya Lucas yang masih memayungi Angel dengan wajah khawatir dengan baju Angel yang basah kuyup.
"Bukan urusan kamu?" Jawab Angel acuh dan berusaha tidak berkontak mata dengan Lucas.
"Ikut aku yuk. Kita pulang. Di sini kamu bisa sakit." Lucas memegang tangan Angel untuk ikut dengannya.
"Sok peduli."
"Yaudah aku bilang papa kamu." Lucas merogoh saku hoodienya untuk mengambil ponselnya.
Angel menarik lengan hoodienya mencegat.
"Oke aku ikut. Tapi bukan pulang ke rumah." Angel berdiri dan berjalan menuju mobil Lucas.
Untuk saat ini hanya Lucas yang bisa ia andalkan. Walaupun di dalam hatinya sama sekali tidak ingin terlibat dengannya.
__ADS_1
Lucas memberikan Angel selimut yang ada di mobilnya dikursi belakang.
"Kita mau ke mana?" Tanya Angel tanpa melihat Lucas.
"Ke apartemen."
"Eh kamu mau ngapain aku?" Nada bicara Angel terdengar marah.
"Menurut kamu?"
"Berhentiin mobilnya sekarang. Turunin aku." Bebtak Angel dan bersiap turun
"Hahaha kamu enggak aku apa-apain kok. Di apartemen aku ada mama."
"Heh gak lucu."
"Maaf, Njel. Tenang aku juga gak berani. Mama ada di apartemen, baru pulang dari Malaysia." Papar Lucas menjelaskan.
Angel hanya terdiam.
"Kamu ada masalah apa sih?" Lucas kembali bertanya.
"Gak usah kepo aku gak suka orang kepo." Jawabnya dingin.
"Oke-oke aku gak bakalan ngomong lagi."
Angel melingkari selimut itu diseluruh badannya. Tubuhnya sangat kedinginan dan kepalanya pun terasa pusing. Angel pingsan dalam keadaan tertidur.
Mobil Lucas sudah sampai di area parkir apartemen.
"Njel, bangun. Udah sampe."
Lucas hanya mencolek lengan Angel karena takut di omeli habis-habisan.
Namun, sudah beberapa kali ia mencolek, Angel tidak kunjung bangun. Lucas lebih kuat membangunkan Angel tetapi hasilnya pun sama.
Lucas keluar dari mobilnya dan menuju pintu mobil tempat Angel duduk. Ia membuka pintu mobil dan terlihat wajah pucat Angel dengan bibir yang mulai membiru. Ia memegang kening Angel dan terasa panas. Lucas mulai panik apa yang harus ia lakukan akhirnya ia memutuskan menggendong Angel.
"Maaf, Njel." Suara Lucas berbisik di telinga Angel dan segera menggendong ke apartemen.
Lucas berjalan terburu-buru menuju ke lift karena khawatir dengan keadaan Angel saat ini.
Saat di depan apartemennya Lucas menendang-nendang pintu karena tidak mampu memencet tombol bel.
Pintu dibuka oleh mama Lucas, tanpa menunggu dipersilakan masuk ia menerobos pintu apartemen dan menidurkan Angel di sofa.
"Lucas anak siapa kamu bawa? Mama gak mau kena batunya kamu bawa anak gadis orang ke apartemen. Jangan-jangan kamu udah ngehamilin dia ya?"
__ADS_1