I'M Not An Angel

I'M Not An Angel
Bab 23 Seharian


__ADS_3

"Kita beli baju dimana? Biasanya aku beli di LV, kamu mau gak?" Lucas bertanya pada Angel sambil menyetir.


"LV apaan tuh? Level?" Angel melirik Lucas tidak mengerti


"Kamu gak tau LV? LV itu Louis Vuitton merek baju."


"Oh."


"Hah? Yaudah deh kita beli Zara atau gak Gucci." Lucas terlihat pasrah ia berpikir kalau Angel anak yang manja ala sosialita.


"Loh. Emangnya aku apaan beli mereka?"


"Jadi kamu maunya apa? Merek apa? Jangan mahal-mahal dong takutnya kartu kredit aku kelebihan."


"Aneh. Aku gak butuh barang gituan. Beli baju biasa aja kali. Gak minat barang branded." Angel mengata-ngatai Lucas yang menganggap ia anak boros.


"Serius? Kamu gak pernah beli barang branded? Gak salah?"


Angel mengangkat bahunya.


"Kalau kamu gak pernah beli barang branded. Aku beliin barang branded."


"Aku bilangkan gak perlu barang gituan." Angel memutar bola matanya karena capek harus mengulang perkatannya lagi.


"Udah gak usah banyak protes. Aku yang traktir."


Mobil berhenti di salah satu toko baju terkenal Louis Vuitton


Lucas terlihat tersenyum bahagia setelah melihat sederet baju-baju dengan label harga yang rata-rata jutaan. Pegawai dengan baju rapi menyambut mereka.


"Surgaku." Gumam Lucas dengan berjalan di antara baju-baju tersebut.


Angel diam membatu bukan karena terpana, namun tidak tau harus berbuat apa.


Dengan cekatan Lucas memilih-milih pakaian yang sesuai dengannya. Ia membawa beberapa gantungan baju yang sudah penuh dipelukannya.


"Ini berlebihan banget."


"Udah cobain dulu. Percaya deh sama aku."


Angel keluar masuk kamar ganti untuk menunjukkan baju yang sudah ia pilih. Dari sekian banyak baju hanya satu setel pakaian yang ia beli untuk Angel.


Angel merasa lega Lucas tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli kain yang melekat pada tubuhnya. Namun, perasaan lega itu tidak bertahan lama ketika ia melihat Lucas membawa beberapa tas kertas. Ternyata tas kertas itu baju milik Lucas sendiri. Angel menggeleng heran.


Mobil Lucas kembali berhenti di toko branded lagi, yaitu Gucci.


"Ngapain kesini? Kan udah beli tadi." Angel mengomel pada Lucas.


"Yang tadi itu kurang cocok. Jadi, kita cari lagi. Mungkin habis ini kita ke Chanel atau ke Zara." Lucas masuk ke toko tanpa beban pikiran.


Walaupun itu memakai uangnya tapi menurut Angel ini sudah berlebihan.


Mereka keluar toko dengan satu tas kertas label terpampang jelas "GUCCI". Mereka kembali berhenti di toko yang lain untuk membeli pakaian lagi.


"Lucas, cukup. Ini tuh udah cukup. Jangan hambur-hamburin uang terus." Wajah Angel terlihat frustasi sambil mencegatnya masuk ke toko.


"Belanja itu kebahagiaan loh, Njel. Dibawa have fun aja."

__ADS_1


"Gimana mau have fun. Aku nya gak suka."


"Bohong. Udah masuk dulu yuk. Ini tuh toko surganya cewek." Lucas menarik tangan Angel untuk memasuki toko Zara.


Dari Zara Lucas membawa beberapa tas kertas. Di Zara inilah banyak pakaian yang cocok untuk Angel.


Sekarang Angel sudah memakai pakaian branded yang dipilih langsung oleh Lucas.


Cukup puas untuk saat ini. Angel mengakui kemampuan stylish dari Lucas.


Mereka kembali menyusuri jalanan untuk menuju tempat selanjutnya. Dan tempat itu adalah mall.


Mall?


"Kenapa? Kamu gak suka." Lucas berbisik tepat di sebelah wajahnya.


Sontak Angel menjauh dari Lucas.


"Ngapain lagi deket-deket."


"Gak papa dong kita kan udah jadi jodoh masa depan."


Hah?


"Idih. Bodo ah." Angel berjalan cepat menuju ke dalam mall untuk segera menjauhi Lucas.


Angel menoleh ke kanan dan ke kiri, hanya ada orang yang berlalu lalang dengan sibuk dengan berbagai macam barang bawaan.


"Dasar kura-kura. Cepet ngapa. Kita mau ngapain?" Angel menoleh ke belakang, Lucas berjalan dengan santai kearah Angel.


"Oke."


Angel menuju eskalator meninggalkan Lucas.


Saat mereka berdua sudah sampai di lantai 3, Angel melihat sekeliling hanya ada arkade bermain.


"Kita main ginian? Kayak anak kecil." Angel mengerutkan keningnya.


Lucas berdecak. "Banyak kali orang dewasa main disini. Makanya jangan introvert." Lucas berjalan menuju kasir untuk membeli saldo bermain.


Ia memberikan satu kartu bermain yang berisi saldo 300 ribu kepada Angel.


"Nih untuk main. Ayo kita kesana." Lucas mendorong Angel ke tempat capit boneka.


Lucas menggerakkan jari tangannya seakan sedang pemanasan. Ia mencoba lebih dulu mesin capit boneka tersebut.


Satu kali gagal. Dua kali masih gagal. Ketiga kali juga gagal. Dan akhirnya ke sepuluh kalinya tetap gagal.


"Apaan nih. Udah rusak nih mesin." Lucas menyumpahi mesin capit boneka dengan kesal.


"Hahahahaaaa." Angel menertawakan Lucas sambil menunjuk ke arahnya.


"Diem!"


Angel masih menertawakan Lucas dengan muka mengejek. Setelah ia selesai mengejek Lucas, Angel menyuruh Lucas minggir agar ia mencobanya.


Matanya meneliti boneka dengan tajam dan dengan percaya diri ia menekan tombol mulai mencapit.

__ADS_1


Dan boneka yang sudah ia arahkan pada pencapit itupun terangkat. Dalam sekali percobaan Angel sudah berhasil mendapatkan satu boneka.


Rahang bawah Lucas terjatuh. Ia menatap mesin capit boneka tanpa berkedip.


Angel langsung memberi boneka itu kepada Lucas tepat di mukanya.


"Gitu aja gak bisa." Senyum sinis itu ditujukan untuk Lucas.


"Itu cuma keberuntungan. Jangan cepet bangga."


"Oh gitu. Yaudah kita buktiin aja." Angel menantang Lucas dengan muka yang ragu.


"Oke!"


Mereka pergi berlawanan arah mencari claw machine berbeda.


Sudah beberapa menit mereka berdua berkumpul di tempat semula, satu keranjang penuh dengan boneka milik Angel. Belum lagi boneka yang ada di pelukannya. Sedangkan keranjang milik Lucas hanya terisi beberapa boneka kecil.


"Hahahahaaa." Angel lembali menertawai Lucas atas tantangannya itu dan kekalahan ada di pihaknya.


"Heh." Lucas meninggalkan Angel menuju ke tempat permainan yang lain.


Saat ia menggesek kartu ternyata saldonya sudah habis.


"Ah." Lucas membanting kartu itu ke lantai.


"Jangan marah-marah. Nih pake kartu aku. Masih ada saldonya." Angel memberikan kartu itu kepada Lucas dengan tatapan meledek.


Lucas mengambil kartu milik Angel dengan kasar. Dan pergi meninggalkannya. Angel hanya duduk di kursi yang ada didekatnya sambil memeluk boneka yang sudah tidak muat dalam keranjang terdiam menunggu Lucas yang sedang bermain.


Lucas akhirnya muncul antara mesin dengan keranjang yang berisi tiket.


"Ayo ke kasir." Lucas berjalan memimpin dengan Angel yang mengikuti di belakang.


Angel memasukkan seluruh bonekanya kedalam kantong plastik besar. Sedangkan Lucas masih sibuk dengan tiketnya.


Angel menunggu Lucas di luar area bermain.


Lucas memegang pundak Angel dari belakang, Angel menoleh kebelakang dan hanya boneka besar yang menutupi wajah.


"Tada." Lucas menunjukkan mukanya dari belakang boneka.


Angel mengerjapkan matanya sambil mengerutkan keningnya tipis.


"Dari ma-"


Lucas memberikan teddy bear besar itu kepada Angel.


"Gak usah banyak tanya. Nih untuk kamu. Yuk kita cari makan."


"Woy! Tega banget barang bawaan aku udah banyak. Di tambah lagi."


"Derita kamu dong. Siapa suruh ngejekin aku tadi." Lucas meninggalkannya tidak peduli.


Angel menjatuhkan barang bawaannya di lantai dan melipat kedua tanganya di dada.


"Aku gak mau bawa!"

__ADS_1


__ADS_2