
Angel berjalan menuju kelasnya bersama Mark, kebetulan mereka berdua bertemu di parkiran dan memutuskan berjalan bersama.
Selama tidak ada Lucas, Mark termasuk teman yang dekat selama ia tidak memiliki teman yang dapat diandalkan. Walaupun banyak teman yang lain dari Genk mereka. Apalagi Angel sama sekali tidak memiliki teman wanita dan hanya bergaul dengan teman laki-laki Mark dan Lucas dulu.
"Udah beberapa hari ini gue sama sekali gak di kasih kabar terbaru dari Lucas. Kalau Lo gimana, Mark?"
"Sama gue juga, Njel. Biasanya kita tuh sering kontak kalau mau main game, dari kemaren dapet ajakan dari Lucas aja gue gak ada."
"Apa mungkin dia di sita barang-barang sama papanya."
"Bisa jadi sih." Jawab Mark singkat.
Angel berdecak sambil membuang napas.
"Emang Lo gak ada nyamperin ke rumah Lucas, Njel."
"Rumah Lucas aja gue gak tau."
"Serius? Lo pacaran sama Lucas masa gak tau rumah dia sih." Mark membuat muka melongo tidak percaya.
"Gak usah sok tau deh Lo. Gue sama Lucas itu sama sekali gak pacaran, suka banget sih Lo buat rumor gak jelas." Angel sedikit *nyolot* karena Mark yang membuat prasangka aneh tentang ia dan Lucas.
"Oh ya? Terus maksud Lo yang khawatir terus nangis-nangis itu bukan perasaan Lo sama Lucas gitu?" Celetuk Mark seakan menyindir.
Angel yang mendengar celetukan Mark memutar bola matanya, karena sudah berada di dekat tangga kelas Angel langsung beralasan agar bisa menghindari celutukan tak jelas itu.
"Oke gue udah nyampe tangga kelas gue tinggal dulu. Bye!"
"Sok menghindar Lo. Yaudah habis pulang sekolah, kita ke rumah Lucas oke." Teriak Mark yang sudah tidak diperhatikan Angel karena ia sedang berjalan membelakangi. Angel hanya menanggapi teriakan Mark dengan mengangkat tangan kanannya membentuk isyarat '*oke*'.
***
"Ini rumah Lucas?" Tanya Angel yang membuka kaca mobil sambil melongo melihat depan rumah yang dibilang Mark.
"Iya yang gue inget sih emang disini."
"Udah parkir di sini aja mobilnya." Perintah Angel agar mobil Mark diparkir di tempat yang ia katakan.
Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju halaman depan rumah Lucas.
"Eh gerbangnya ditutup. Sepi pula." Mark mengintip dari celah-celah gerbang yang cukup rapat.
"Tekan aja belnya rumah segede ini pasti ada satpam."
__ADS_1
Mark memencet tombol yang ada di tembok gerbang beberapa kali. Dan tidak beberapa lama kemudian satpam membukakan gerbang rumah.
"Ada apa ya?" Tanya satpam tersebut sambil membuka gerbang bagian kanan saja.
"Ini benar rumah Lucas ya pak?" Tanya Mark kepada satpam.
"Iya benar ini rumah tuan Lucas. Ada keperluan apa ya?"
"Kalau begitu Lucas nya ada di dalam."
"Maaf, tuan Lucas gak ada di rumah."
"Oh gitu. Bapak tau gak Lucas sekarang sekolah dimana?"
"Tuan Lucas sekolah di Malaysia."
"Hah bapak gak salah nih Lucas sekolah di Malaysia. Terus sejak kapan Lucas pindah ke Malaysia?" Angel langsung bergantian bertanya saat pak satpam memberi tau Lucas sekolah di Malaysia.
"Tuan Lucas pergi ke Malaysia hari Rabu yang lalu."
Angel masuk ke dalam mobil Mark.
"Wah! Gak nyangka gua. Kenapa sih Lucas gak ada bilang! Kenapa! Semua aja dia sembunyiin." Ia memukul kursinya bahkan mengacak-acak rambutnya.
"Dia kayak gitu pasti ada alasannya, Njel." Ucap Mark berusaha menenangkan Angel.
Bukannya tenang Angel malah kembali tersulut emosi.
"Alasan apa coba!" Saking emosinya ia seakan membentak Mark.
"Gua juga gak tau, Njel. Lo jangan marah-marah gak jelas deh."
Angel hanya diam saja mendengar balasan dari Mark, ia bahkan tidak membuka suara sama sekali.
Saat sudah sampai di rumah Angel langsung keluar dari mobil dengan cuek, dan masuk ke rumahnya begitu saja tanpa berpamitan.
Mark hanya memaklumi kalau Angel terlalu kesal dengan kejadian tadi.
Saat Angel memasuki rumah, ia langsung melewati ruang tamu tanpa menoleh.
__ADS_1
"Angel!" Seseorang memanggilnya dari ruang tamu.
Karena suara yang familiar Angel yang tadinya sudah berada di ruang keluarga langsung kembali lagi ke ruang tamu melihat siapa yang sudah memanggilnya tadi.
"Om kenapa Lucas tiba-tiba pergi gak pamitan sama aku dan sama temen-temen yang lain?" Angel langsung \*to the point\* karena sudah mengenali suaranya dan melihat langsung saat di ruang tamu.
Papa yang melihat Angel yang tiba-tiba berbicara dengan nada sedikit tinggi ke pada Om Hendery langsung menegurnya.
"Angel! Ini tuh Om Hendery kalau ngomong itu yang sopan!"
Angel tidak mendengarkan teguran dari papanya.
"Maafin Om, Njel. Itu sebagai hukum untuk Lucas. Om juga kesini buat ngebatalin perjodohan kalian yang pernah Om dan papa kamu omongin."
Angel semakin kaget mendengar dari Om Hendery yang akan membatalkan perjodohan antara dirinya dan Lucas.
"Om dan papa bahas perjodohan sama-sama terus ngebatalin tiba-tiba? Gitu?"
"Ini juga untuk kebaikan kalian berdua. Apalagi setelah kejadian yang ngelibatin kamu dan Lucas."
"Maksudnya kejadian apa yang ngelibatin Angel?" Tanya papa yang tiba-tiba berbicara dengan cepat.
"Maaf Rio sebenarnya hari ini saya mau membicarakan hal itu sama kamu."
"Membicarakan apa?"
"Sebenarnya seminggu yang lalu saya datang ke sekolah gara-gara Lucas yang berantem sama temannya dan masalahnya itu tentang Angel."
Om Hendery menceritakan semua yang ia ketahui kepada papa, sedangkan Angel hanya diam saja tidak berusaha menghentikan apa pun.
Mendengar cerita tersebut papa seketika khawatir dengan Angel.
"Nak, kok kamu gak ngomong sama papa sih. Harusnya kamu cerita. Kamu diapain aja sama Chan?"
"Udah deh, pa gak usah sok khawatir. Urusin aja diri papa sendiri!" Angel langsung menyela tidak suka.
"Njel! Kamu kok ngomongnya kayak gitu. Kalau kayak gitu saya setuju untuk membatalkan perjodohan ini."
"Kalian kira semudah itu ya. Udah jodohin suruh deket, suruh jalin hubung baik pas udah deket tiba-tiba disuruh pisah? Kalian itu punya perusahaan sendiri tapi pikiran masih primitif tau gak!" Angel berjalan masuk setelah emosi dengan tingkah laku orang tua yang ada didepannya tadi.
Saking jengkelnyanya ia bahkan menyenggol minuman yang tadinya sedang diantarkan hingga jatuh dan pecah.
Bahkan setelah menyenggol dan pecahan kaca berceceran di lantai, ia sama sekali tidak peduli dan meninggalkan begitu saja.
"Hen, maaf kelakuan Angel yang tadi. Hahh.. tolong jangan dimasukin kedalam hati ya. Kelakuan Angel yang sekarang, murni karena kesalahan saya." Papa menarik napas panjang dan merasa bersalah dengan temannya itu.
__ADS_1
"Iya saya ngerti. Kamu tetep harus berusaha jalin hubungan lain dengan Angel. Mungkin suatu hari nanti dia bisa ngerti."