
"Mau ngapain aja di situ. Cepet masuk." Ujar Angel dari kursi pengemudi di dalam mobil.
"Serius kak, kakak bawa mobil sendiri."
"Ya iyalah, tenang aja aku juga udah punya SIM kok. Yaudah langsung masuk."
Hari pertama masuk sekolah dengan kendaraan pribadi. Angel tidak sendiri ia selalu pulang pergi sekolah dengan Mia.
Bahkan sekarang ia dan Mia sudah cukup akrab.
Namun, suatu hari Mia datang kepada Angel yang sedang terbaring di kursi malas dekat kolam renang setelah berenang.
"Kak." Seru Mia sambil menghampirinya.
Angel yang sempat setengah terlelap langsung menoleh arah datangnya suara.
"Hm, ada apa?"
"Ehm, gimana ya. Gak jadi deh kak. Maaf ya kak udah ganggu." Katanya sambil berjalan pergi lagi.
Angel hanya terdiam melihat Mia yang plin-plan. Karena tidak penasaran, ia membiarkan Mia pergi.
Malam harinya, Mia menghampiri Angel saat ia sedang duduk di meja makan bersiap untuk makan malam.
"Kak, bisa bantuin Mia ngerjain tugas matematika gak?"
"Bisa aja sih. Habis makan datang aja ke kamar aku. Nanti aku ajarain." Jawabnya kepada Mia.
Mia mengangguk mengerti.
Selesai makan Angel langsung masuk ke kamar. Tidak lama kemudian Mia mengetuk pintu kamar Angel. Ia langsung membuka pintu dan mempersilakan Mia masuk. Mia masuk ke kamar Angel dengan beberapa buku di tangannya.
"Minta ajarin materi yang mana?"
"Yang ini kak." Mia menunjukkan pelajaran yang tidak ia mengerti di buku pada Angel.
Sekitar sejam lebih Angel mengajari Mia materi matematika dan tugasnya.
Mia membereskan buku-bukunya setelah selesai belajar dengan Angel.
"Kak."
"Ada apa?"
"Ehm kakak mau gak bantuin temen Mia besok."
"Hm? Bantuin apa dulu nih."
"Gini kak, lusa kemaren temen Mia ini kelai sama SMA 1. Jadi dia minta tolong Mia untuk bilang sama kakak buat bantuin dia besok. Kakak mau gak?"
__ADS_1
"Hah? Apa urusannya sama aku. Ngapain juga aku harus bantuin dia. Kenal juga enggak."
"Tapi kak, kakak cuma buat bantuin untuk belain dia aja kak."
"Mia, aku kasih orang kayak gitu masih kamu anggap temen? Temen cuma dateng pas butuhnya aja? Palingan mereka baru deket sama kamu karena aku sama kamu itu deket."
"Dan satu lagi ya itu tuh masalah dia ngapain kamu bantuin, dia juga yang buat masalah. Yang ada bisa-bisa kamu nanti yang jadi kambing hitamnya."
Mia terlihat bingung setelah Angel yang sedikit menceramahinya. Terlihat di mukanya masih ingin memohon untuk Angel membantu temannya.
"Tapi kak, baru kali ini aku punya temen banyak jadi moh-."
"Ck, mau kamu mohon-mohon sama aku demi dia aku tetep gak mau. Pokonya bukan urusan aku." Katanya yang sudah sedikit kesal dengan Mia yang masih saja bersikeras.
Mia yang merasa Angel kesal, mengurungkan niatnya untuk memohon dan pamit untuk keluar dari kamarnya sekaligus mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya.
Angel hanya diam membiarkan Mia keluar dari kamarnya.
Ia semakin kesal ketika Mia yang keluar kamarnya tanpa menutup pintu. Angel bangun dari kasurnya dan menutup pintu kamarnya sedikit kasar. Dan membaringkan badannya dikasur.
Ia paling benci di manfaatkan oleh orang lain apalagi orang yang belum terlalu dekat dengannya bahkan yang tidak kenal.
"Cih segala alasan baru pertama kali punya temen banyak. Terlalu polos." Gumam kesal lalu membaringkan diri di kasur.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi karena ada telepon masuk. Angel meraba-raba kasurnya mencari handphone-nya yang berbunyi karena efek mager setelah rebahan. Karena tidak ada di kasur akhirnya ia bangun dan mengambil handphonenya yang berada di ujung kasur dekat dinding.
"Siapa sih gak jelas." Angel melemparkan handphone-nya di kasur dan kembali berbaring.
Handphone-nya berdering kembali, karena merasa yang menelepon adalah orang iseng Angel mengabaikan saja handphone-nya yang menjerit-jerit.
Baru saja nada deringnya mati, handphone-nya berbunyi lagi. Angel langsung mengambil handphone-nya dan mengangkat telepon dengan geram.
"Halo siapa sih!" Angel setengah berteriak pada ponselnya.
"Sttstt.. pelan sedikit ini aku Lucas." Suaranya terdengar seperti orang yang berbisik.
"Lucas? Jangan bohong!" Serunya lagi dengan suara keras.
"Bener ini aku. Pelan!" Peringatnya lagi.
"Kamu kemana aja. Kamu pergi ke Malaysia gak bilang-bilang sama aku sama Mark sama yang lain juga. Ternyata kamu tuh jahat." Ujar Angel yang awalnya bernada kesal dan marah tiba-tiba suarabya mulai terdengar pelan.
"Sorry, Njel. Aku sebenarnya gak tega bilang itu kemarin karena kamu aja udah sedih aku keluar dari sekolah apalagi kalau aku pindahnya ke Malaysia. Yang ada kamu nangisnya meraung-raung kalau aku bilang. Hahahaha." Lucas justru bercanda saat Angel yang sedang serius.
"Gila ya Lo. Gak lucu!"
"Iya iya maaf ya. Aku aja telepon kamu diem diem. Ini hp mama. Dia lupa bawa hp jadi aku cari-cari kesempatan buat telepon kamu."
"Kenapa harus diem diem teleponnya?"
__ADS_1
"Aku kan masih dihukum. Apalagi papa yang berusaha mutus komunikasi sama hubungan kita."
"Haahhh…… Maaf ya, Njel. Kita jadi berjauhan kayak gini." Kata Lucas yang berkeluh kesah sambil menghela napas.
"Harusnya aku yang minta maaf. Kalau aja waktu itu aku gak-."
Perkataan Angel langsung dipotong Lucas dengan nada kesal.
"Udahlah gak usah diungkit lagi. Udah berlalu kan, gak guna juga kalau diinget lagi."
"Okey aku gak ungkit lagi. Kamu gimana kabarnya di Malaysia?"
Tidak ada jawaban dari Lucas atas pertanyaannya tadi.
"Halo? Lucas?"
"Maaf, Njel. Mama aku udah pulang. Maaf ya. Setau aku kamu bakalan pergi ke Jerman kapan?"
"Tanggal 30 Juni."
"Udah dulu ya mama aku udah di depan rumah. Aku matiin dulu teleponnya. Aku bakalan dateng sebelum kamu ke Jerman. Bye!" Jawab Lucas dengan terburu-buru dan mematikan saluran teleponnya.
Belum saja Angel mengucapkan salam penutup telepon sudah terputus. Angel memandangi handphonenya beberapa saat. Perasaan bersalah dan menyesal mendatanginya kembali.
Di sisi lain, Lucas berlari kembali mengembalikan ponsel milik mamanya, namun sayangnya ia kepergok oleh kepala pelayan.
"Please, jangan kasih tau papa ya. Aku juga baru kali ini telpon Angel."
"Maaf tuan saya hanya menjalankan perintah tuan bapak." Kepala pelayan tersebut mengambil ponsel milik mama.
Dan mama yang berniat mengambil ponselnya yang tertinggal di rumah langsung dihampiri oleh kepala pelayan dan memberikan dengan sopan.
"Terima kasih. Lucas kenapa?" Tanya mama kepada kepala pelayan yang melihat Lucas yang berdiri diam.
Lucas langsung menoleh kearah mama dan tersenyum.
"Enggak kenapa-kenapa kok, ma. Aku tadi mau ke dapur."
"Oh gitu. Yaudah mama tinggal ya, sayang."
"Iya, ma. Hati-hati, ya."
Mama langsung keluar dari rumah.
"Jangan kasih tau mama yang hari ini kalau aku telepon Angel. Bilang ke papa kalau mama gak ada campur tangan tentang ini."
Lucas kembali ke kamarnya menghela napas. Entah apa yang akan terjadi kedepannya setelah ini.
"Maaf ya, Njel. Aku gak janji." Gumamnya pelan.
__ADS_1