
Angel dinyatakan lulus dari sekolah menengah atas. Rasanya lega setelah ujian yang cukup mematikan, beberapa Minggu yang lalu. Setelah dinyatakan lulus, Angel hanya punya waktu liburan seminggu lagi saja. Setelah itu waktunya ia berangkat ke Jerman untuk melanjutkan kuliah.
Baru saja lulus SMA, nanti harus lagi bertempur di dunia perkuliahan. Tetapi itu lebih baik daripada harus menikah. Tenang saja Angel tidak dipaksa menikah setelah lulus SMA kok.
"Angel kamu beneran gak nolak sekolah di Jerman? Kalau kamu mau kuliah disini juga gak papa kok. Kamu juga pasti bakalan di terima di universitas negeri disini." Papa bertanya kepada Angel di ruang tv saat Angel yang sedang melewati ruang keluarga menuju dapur.
Angel berhenti sebentar menjawab pertanyaan papa.
"Enggak, pa. Udah gak usah nanyak lagi. Jawaban aku tetep sama kayak kemarin-kemarin."
"Yaudah. Kalau ada perlu apa-apa dan yang harus di beli untuk persiapan nanti bilang papa aja."
"Iya." Jawabnya sambil mengangguk dan kembali berjalan ke dapur.
Hari H-1 sebelum keberangkatannya ke Jerman, Angel sudah packing dengan rapi koper-koper sebelum besok terbang dari bandara. Ia duduk di ujung kasur menatapi koper-kopernya yang berdiri di ujung kamar.
Ia menghela napas sesekali melihat handphone yang ada di genggaman tangannya.
Dari janji yang lalu Lucas sudah bilang ia akan mengantarkan Angel terakhir kali sebelum pergi ke Jerman. Harusnya hari ini Lucas sudah ada di Jakarta dan mengabarinya. Tetapi tidak ada satupun kabar yang masuk dari ponselnya.
Tanpa sadar papa membuka pelan pintu Angel.
"Papa boleh masuk?" Tanya papa dari pintu yang belum terbuka sepenuhnya.
"Masuk aja."
Tiba-tiba papa memeluk Angel, ia terdiam kaget dalam pelukan papa.
"Angel maafin papa selama ini ya. Maaf papa terlalu egois buat kamu. Harusnya papa bilang ini dari kemarin, bukan sekarang sebelum kamu pergi ke Jerman." Papa memeluk Angel erat dan berkata pelan penuh penyesalan.
Angel tersentak, ia menyadari kalau selama ini dia juga sudah terlalu egois kepada papa yang membutuhkan pendamping hidup selain dirinya. Angel membalas pelukan papa sambil mengangguk. Matanya berkaca-kaca mengingat kesalahannya sendiri.
"Maafin Angel juga ya, pa." Katanya pelan dan tidak mampu menahan air mata.
Papa melepaskan pelukannya dan melihat Angel yang menunduk sambil menangis. Papa mengusap air matanya dan mencium kening untuk menghibur.
"Angel mungkin berusaha lebih menerima dia untuk papa. Tapi untuk saat ini Angel masih belum bisa."
"Iya, sayang. Gak perlu maksain sampe buru-buru. Papa siap nunggu."
Angel hanya mengangguk. Tiba-tiba tangannya ditarik papa agar berdiri dari kasur.
"Kita jalan-jalan hari ini gimana? Udah lama kita gak bareng-bareng."
"Yaudah ayok. Tapi Angel harus ganti baju dulu."
"Udah gak perlu. Kayak gini aja udah cantik kok."
__ADS_1
Angel hanya tertawa malu. Dan ia menuruti papa yang menggandeng tangannya. Ia tersenyum melihat tangannya yang digandeng oleh papa. Rasanya sudah lama.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Entah kemana mobil ini akan melaju, Angel tidak peduli untuk saat ini.
"Kita street food-tan yok." Ajak papa sambil menyetir.
"Terserah papa aja deh. Aku ikut aja."
"Oke kalau gitu."
Mobil diparkirkan ditempat yang tidak jauh dari jalan-jalan street food. Mereka berjalan santai menuju street food.
Saking asyiknya mencoba semua makanan di lapak dagangan yang menyuguhkan makanan menggiurkan, mereka sampai tidak sadar kalau ada beberapa orang yang menatap mereka.
"Angel mau makan lapak yang sana. Mau coba."
"Ya udah ayok." Papa kembali menggandeng tangannya seakan menuntun.
"Mau berapa?" Tanya papa kepada Angel yang ingin memesan berapa makanan.
"Dua aja deh. Coba dulu."
"Dua ya, buk."
"Baik, pak. Mesra banget sama pacarnya, pak."
"Enggak perlu malu-malu lah mbak." Penjual tersebut tersenyum melihat Angel yang kaget dan seperti akan membantah.
"Maaf, buk. Ini anak saya." Ujar papa yang menyangkal pandangan penjualan yang mengira mereka berdua sedang berpacaran.
"Oh, maaf pak. Saya salah. Ini pesanannya. Harganya 20 ribu."
"Iya gak papa." Kata papa sambil memberikan selembar uang dua puluh ribu.
Papa memberikan makanan yang diinginkan Angel. Tampaknya ia terlihat cemberut.
"Kenapa lagi sih, nak? Kamu kepikiran kata dari ibu-ibu yang tadi?
"Ya habisnya masa iya Angel dikiranya pacar papa yang jarak umur kita jauh gini. Setua itu kah aku sampe dikira pacar papa." Angel terlihat frustasi tidak habis pikir lagi.
"Enggak gitu, sayang. Mungkin karena papa yang masih kelihatan muda terus masih ganteng juga." Kata papa yang membanggakan diri.
"Gak papa juga dikira pacar papa. Kelihatan pacaran sama Sugar Daddy gitu."
Angel yang sedang menguyah makanan tiba-tiba tersedak mendengar kata papa yang membuatnya tidak percaya.
"Uhuk.. uhukk." Angel terbatuk-batuk akibat tersedak makanan. Pap langsung menyodorkan botol air kepada Angel.
__ADS_1
Setelah minum, Angel memukul lengan papanya.
"Gara-gara papa tau aku jadi keselek. Hah Sugar Daddy? Papa ada-ada aja."
"Emang kan Sugar Daddy kan lagi ngetrend sekarang. Pacaran yang umurnya beda jauh terus yang laki-laki kaya. Kan kayak kamu sama papa sekarang."
Angel menggelengkan kepalanya tidak mengerti lagi dengan papa saat ini.
"Suka-suka papa deh ngomong apa." Angel mengembalikan botol air kepada papa dengan ke dada dengan sedikit kasar. Dan jalan meninggalkan papanya.
"Aduh. Angel?"
"Sorry, pa. Sengaja." Jawab Angel sambil terus berjalan.
Papa berjalan cepat menyusul Angel dan merangkulnya sambil berjalan. Walaupun Angel sempat menolak karena kesal, akhirnya ia juga merangkul pinggang papa.
Setelah puas makan dan berjalan-jalan, papa dan Angel duduk di kursi taman menikmati malam setelah kekenyangan.
"Kamu udah suka sama Lucas?"
"Hah? Tiba-tiba?"
"Kenapa? Oh kamu emang udah suka kan." Goda papa lagi.
"Enggak suka sih. Bisa dibilang nyaman aja deket dia." Jawabnya sambil menatap langit malam yang sedikit berawan.
"Alesannya nyaman tapi dalam hati suka."
"Apaan sih, pa. Ih males lama-lama sama papa." Angel berdiri karena kesal yang terus-terusan mengganggu dirinya.
"Eh eh mau kemana." Papa menarik tangan Angel yang membuatnya duduk kembali.
"Lucas gak ada kasih kamu kabar?" Tanya papa lagi.
Angel hanya menggelengkan kepala.
"Pernah, tapi sebulan yang lalu. Katanya dia bakalan ketemu sama Angel sebelum Angel ke Jerman. Tapi gak tau deh." Tuturnya yang lemas.
"Oh gitu nanti papa telpon om Hendery biar Lucas bisa ketemu kamu sebelum besok ke Jerman."
"Serius, pa?"
"Iya papa usahain."
Tiba-tiba rintikan air dari langit turun. Angel menengadahkan tangannya apakah beneran gerimis.
"Udah ayo pulang udah mau hujan." Papa membuka jaket jeansnya hitamnya dan memberikan kepada Angel untuk menutupi kepalanya. Lalu kembali jalan ke parkiran mobil untuk pulang ke rumah.
__ADS_1