
"Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk pintu rumah Bu Santi.
"Waalaikumsalam," terdengar sebuah suara dari dalam rumah.
"Eh Luna sudah datang, ayo masuk," ajak Bu Santi sambil menggandeng tangan Luna.
"Maaf Bu hari ini saya terlambat, karena saya harus menenangkan Luna dahulu," ucapku sambil berjalan masuk ke rumah Bu Santi.
"Tidak apa-apa, memangnya Luna kenapa sampai harus di tenangkan," jawab Bu Santi sambil menunduk melihat wajah putri kecilku.
"Luna hari ini ulang tahun Nek, tapi Ibu tidak mau merayakannya kata Ibu dalam islam tidak ada ajaran merayakan pesta ulang tahun, karena Allah benci sikap berfoya-foya," jelas Luna sambil menatap wajah Bu Santi.
"Iya, ibu Luna benar. Bagaimana kalau sekarang Luna makan opor ayam sama Nenek, anggap saja kita sedang bersyukur kepada Allah karena sudah memberikan kesehatan dan umur panjang kepada Luna dan Ibu," jawab Bu Santi sambil menggandeng tangan Luna masuk ke ruang makan.
"Tapi Bu …." belum selesai aku menyelesaikan perkataanku Bu Santi langsung menjawabnya.
"Sudah, lebih baik kamu kerja saja biar Luna saya yang jaga," jawabnya sambil tersenyum dan berjalan bersama Luna.
"Terima kasih Bu," jawabku sambil sedikit menunduk.
Luna memang anak yang pendiam, dan nurut jadi tidak heran jika banyak orang yang menyukainya. Kepandaian Luna juga membuat orang di sekelilingnya bangga. Aku bersyukur di tengah kekurangannya Allah masih memberikan kelebihan kepada putri kecilku.
"Bu, saya mau pamit semua pekerjaan saya sudah selesai," ucapku sambil berdiri di depan Bu Santi dan Luna.
"Oh iya, kamu tunggu disini saya ambilkan upahmu hari ini," jawab Bu Santi sambil berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.
"Luna sini Sayang, ayo kita pulang," ucapku sambil melambaikan tangan kepada Luna.
"Rani, ini upahmu hari ini semoga cukup buat kebutuhanmu dan Luna," ucap Bu Santi sambil menyerahkan sejumlah uang yang dilipat.
"Masya Allah ini banyak sekali bu," jawabku saat membuka uang yang diberikan Bu Santi kepadaku.
"Tidak apa-apa, anggap saja itu sebagai hadiah buat Luna, paling tidak kamu bisa buatkan dia makanan yang enak hari ini," ucap Bu Santi sambil membelai rambut Luna.
__ADS_1
"Terima kasih Bu, kalau begitu saya permisi dulu," jawabku sambil mencium tangan majikanku.
"Nenek Luna pulang dulu ya," ucap Luna sambil mencium tangan Bu Santi.
"Iya, hati-hati ya," jawab Bu Santi sambil berjalan mengantar kami ke pintu.
Saat sampai di rumah aku terlihat bingung saat melihat beberapa ibu-ibu dan anaknya bermain di teras rumahku. Sambil menggandeng tangan Luna akupun berjalan dengan sedikit berlari. Terlihat olehku sebuah dekorasi ulang tahun dan seorang badut serta mc di depan rumah.
"Mas Niko," batinku yang saat itu melihat Mas Niko berbicara dengan seseorang yang membawa nasi kotak.
"Ibu, Luna ada pesta ulang tahun," tanya Luna sambil melihat ke arahku.
"Kamu masuk ke kamar dulu, Ibu mau bicara sama Ayah," jawabku sambil membuka pintu rumahku.
"Sini kamu Mas," bisikku kepada Mas Niko sambil menariknya menjauh dari seluruh orang yang ada di tempat itu.
"Ada apa, buat ulang tahun saja kamu tidak mampu, apalagi untuk membahagiakan Luna," hina Niko sambil tertawa sinis.
"Hidup sederhana, bilang saja kamu itu tidak ada uang buat merayakan ulang tahun putri kita," ucap Niko sambil membuang muka.
"Kalau memang iya kenapa?" tanyaku dengan tatapan marah.
"Sudahlah lebih baik kamu kembali kepadaku daripada kamu harus hidup serba kekurangan," jawab Niko seakan menghina keadaanku saat ini.
"Aku akan pas …." belum selesai aku berbicara Luna tiba-tiba berteriak.
"Ayah! Luna sudah ganti baju," teriak Luna kepada Ayahnya.
"Gaun itu," ucapku sambil berpikir saat melihat Luna memakai gaun yang mewah.
"Iya, aku sengaja membelinya untuk Luna," jawab Niko sambil berjalan ke arah Luna yang sudah cantik dengan gaun mewahnya.
"Ya Allah, sampai kapan aku harus hidup dengan bayang-bayang masa laluku," batinku sambil terus memperhatikan Luna yang tersenyum dengan bahagia.
__ADS_1
Sesaat aku mengesampingkan egoku untuk kebahagiaan putri kecilku. Perlahan aku mulai mendekati Luna dan Mas Niko yang sudah berdiri di depan para tamu. Aku mulai menampakkan senyum di wajahku walaupun terlihat begitu dipaksakan.
"Beruntung ya Rani, suaminya sekarang kaya," terdengar seorang tamu mengomentari hidupku.
"Iya apalagi Niko yang sekarang terlihat sangat tampan," jawab seorang tamu yang lain.
"Ya Allah, seandainya mereka tahu apa yang sebenarnya aku rasakan," batinku sambil terus tersenyum padahal hati dan air mataku mulai menangis.
Dimata banyak orang Niko masih suami yang sangat bertanggung jawab. Walaupun kenyataannya dia hanyalah laki-laki pecundang yang tidak tahu malu. Acara demi acara sudah kami jalani dengan penuh kebahagiaan di depan para tamu.
"Sayang, sekarang kamu istirahat ya," perintahku kepada Luna yang sedang sibuk dengan banyak hadiah dari Niko.
"Tapi Bu, aku masih mau membuka hadiah-hadiah ini," jawab Luna sambil menoleh ke arahku.
"Kalau begitu buka hadiahnya di dalam saja ya Sayang," perintahku kepada Luna sambil membantunya membawa hadiah yang ada di atas meja masuk ke dalam kamar.
Setelah membantu Luna membawa hadiah ke dalam kamar. Aku pun langsung keluar untuk menemui Niko yang duduk di teras sambil menghisap sebatang rokok. Sambil menahan rasa kesal dan marah ku kepada Niko aku pun duduk di kursi yang ada di sampingnya.
"Aku peringatkan sekali lagi kepadamu, jangan pernah mengganggu hidupku lagi," ucapku sambil menatap jalanan yang ada di depan rumahku.
"Apa hakmu melarangku, asal kamu tahu sampai saat ini kamu masih sah sebagai istriku secara agama dan negara," jawab Niko sambil mematikan rokok yang ada di tangannya.
"Secara agama kita sudah resmi bercerai, apalagi kamu tidak menafkahi ku secara lahir dan batin selama 5 tahun," jawabku masih sambil menahan emosiku.
"Baik kalau begitu mulai hari ini aku akan kembali menafkahimu lahir dan batin," jawab Niko sambil menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Kamu benar-benar sudah tidak waras, lebih baik kamu cepat pergi dari rumah ini dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini," ucapku sambil berdiri dan masuk ke dalam rumah.
"Aku tidak akan pernah berhenti untuk membuatmu kembali ke pelukanku lagi!" teriak Niko saat dia melihatku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
Aku tahu Niko bukanlah laki-laki yang gampang menyerah. Dia akan berusaha melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Termasuk untuk bisa kembali kepadaku dan mendapatkan Luna.
"Semoga apa yang aku lakukan ini bisa membuatnya pergi meninggalkan aku dan Luna," ucapku sambil meneteskan air mata.
__ADS_1