Ibu, Kenapa Aku Berbeda?

Ibu, Kenapa Aku Berbeda?
Bab 31


__ADS_3

Setelah makan kami pun segera pergi untuk menjenguk Bu Sarah di rumah sakit. Selama perjalanan aku tidak melihat rasa kesal, khawatir ataupun ragu dari wajah laki-laki yang baru saja menjadi suamiku.  


"Mas, apa kamu yakin ingin menjenguk Bu Sarah?" tanyaku kepada Roy yang saat itu sedang fokus menggendarai mobilnya. 


"Memangnya kenapa? Apa kamu ingin membatalkan rencana kita semalam," tanya Roy sambil melirik ke arahku sesaat.  


"Bukan begitu, aku hanya merasa tidak enak dan khawatir jika kamu dan Mas Niko bertemu," jawabku dengan ragu. 


Roy tidak menjawab pertanyaanku sama sekali, dia hanya tersenyum lalu kembali fokus kepada jalan yang ada di hadapannya. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lebih kami pun akhirnya sampai di sebuah rumah sakit. Awalnya aku ragu untuk masuk ke dalam rumah sakit itu. Namun, saat aku merasakan sebuah pegangan tangan aku berusaha untuk memberanikan diri masuk. 


“Ayah, kenapa kita kesini?” tanya Luna yang merasa bingung.


“Kita jenguk Nenek sebentar ya Sayang,” jawab Roy sambil menunduk dan tersenyum ke arah Luna.


Setelah menanyakan kamar Bu Sarah ke resepsionis kami pun langsung berjalan  ke arah kamar yang sudah ditunjuk. Hingga saat kami sedang berjalan ke sebuah koridor rumah sakit. Luna  yang tadinya berjalan dengan bersemangat tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu bersembunyi di balik tubuh Roy.


“Kamu kenapa Nak?” tanyaku saat melihat tingkah putri kecilku. 


“Itu,” jawab Luna sambil menunjuk ke arah depan. 


“Niko,” batinku saat melihat mantan suamiku terduduk lesu di sebuah kursi yang ada di koridor rumah sakit. 


“Ayo kita jalan ke Papa,” ajak Roy sambil menatap wajah Luna yang ketakutan. 


Luna hanya menggeleng sambil menarik tangan Roy seolah ingin memintanya pergi dari tempat itu. Terlihat jelas tatapan takut dan trauma dalam diri putri kecilku. Perlahan Roy mulai duduk di hadapan Luna sambil tersenyum. 


“Kita temui Papa Niko dulu ya,” ajak Roy sambil merapikan rambut panjang Luna. 


“Tidak Ayah, aku takut,” jawab Luna sambil terus melirik ke arah NIko yang masih tidak menyadari kehadiran kami. 


“Apa Putri kecil Ayah mau digendong?” tanya Roy sambil membuka tangannya seolah siap untuk mengangkat tubuh anak tirinya itu. 

__ADS_1


“Sayang, ayo,” ajakku sambil meraih tangan putri kecilku.


“Aku mau di gendong Ayah,” jawabnya sambil memeluk tubuh Roy. 


Sambil tersenyum Roy pun langsung menggendong tubuh kecil Luna. Kami mulai berjalan dengan perlahan mendekati Niko yang duduk dengan lesu. Luna yang terlihat takut hanya bisa menutup matanya sambil bersandar di bahu kekar Roy. 


“Assalamualaikum,” sapa ku dan Roy secara bersamaan. 


“Waalaikumsalam,” jawab Niko sambil terkejut. 


“Bagaimana keadaan Bu Sarah, Mas?” tanyaku kepada Niko yang sudah berdiri di hadapan kami. 


“Baik, mau apa kalian kesini? apa kalian mau menertawakan kesusahanku,” jawab Niko seolah tidak suka dengan kedatangan kami.


“Kami hanya ingin menjenguk Bu Sarah,” jawabku dengan rasa canggung. 


“Luna, Sini gendong Papa Nak,” ajak Niko saat melihat Luna yang berada di gendongan Roy. 


“Tidak! aku mau digendong Ayah,” teriak Luna sambil memukul tangan Niko. 


“Maaf Mas Niko, lebih baik jangan memaksa Luna seperti itu,” jawab Roy dengan suara rendah. 


“Apa hak mu melarang ku untuk memeluk putriku,” jawab Niko seolah tidak terima dengan jawaban Roy. 


“Maaf saya tidak bermaksud melarang Mas Niko menggendong ataupun memeluk Luna, saya juga tahu jika Luna adalah putri Mas Niko, tapi paling tidak jangan membentak dan memaksanya dengan kasar,” jelas Roy sambil terus memeluk Luna yang mulai terdengar menangis. 


“Aku tahu kamu pasti sudah mempengaruhinya agar dia membenciku ‘kan?” tuduh Niko sambil terus merebut Luna dengan paksa. 


“Jaga ucapanmu Mas! asal kamu tahu Luna seperti ini karena perlakuanmu sendiri bukan karena Roy, sampai kapan kamu akan terus seperti ini,” bentakku kepada Niko sambil mendorong tubuhnya agar menjauhi Roy dan Luna. 


“Seperti ini? seperti ini apa, aku selalu berusaha memintamu kembali bahkan jauh sebelum kamu menikah dengan laki-laki brengsek ini, tapi kamu justru kamu menolakku dengan berbagai alasan,” bentak Niko sambil mendekat ke arahku dengan sorot mata tajam. 

__ADS_1


“Aku punya hati, aku bukan boneka yang bisa kamu buang jika kamu bosan dan kamu cari saat kamu rindu, apa masih pantas aku kembali dan percaya dengan laki-laki yang sudah menelantarkan kami selama bertahun-tahun, bahkan saat aku berusaha mendapatkan uang untuk pengobatan Luna kamu justru menikah dengan perempuan lain, apa pantas cinta itu ada untukmu?” tanyaku sambil menatap mata tajam Niko. 


“Aku sudah bilang semua aku lakukan untuk masa depan kita, bahkan aku sudah berjanji akan segera menceraikan Niken, tapi ternyata kamu justru memilih laki-laki miskin dan pengangguran ini, dasar wanita murahan,” ucap Niko seolah menghinaku. 


“Plak,” aku yang sudah muak dengan ocehan dan hinaan mantan suamiku langsung menamparnya. 


“Tutup mulutmu Mas, jangan pernah menghinaku dengan mulut kotormu,” ucapku sambil menatap Niko dengan tajam. 


“Lalu apa kalau tidak murahan? Sekarang jelaskan kepadaku perempuan apa yang datang ke rumah laki-laki,” jawab Niko hingga membuatku terkejut. 


Ternyata selama ini diam-diam Niko memata-mataiku, bahkan saat aku dan Luna menjenguk Roy. Roy yang saat itu hanya diam sambil menggendong Luna langsung menyerahkan Luna kepadaku. Sebuah pukulan keras langsung diberikan Roy kepada wajah mantan suamiku. 


“Dasar bajingan, jangan pernah menghina ataupun merendahkan istri saya, Tuan Niko yang terhormat,” ucap Roy sesaat setelah memukul wajah Niko. 


“Brengsek, kamu pikir aku takut,” jawab Niko yang langsung membalas Roy. 


Aku yang ada disitu berusaha berteriak minta tolong. Hingga tidak berapa lama datang dua orang security dan seorang perawat yang sedang bertugas. Setelah mereka berhasil dipisahkan kami pun dibawa ke pos penjagaan di rumah sakit itu. 


“Apa kalian tahu jika di rumah sakit tidak boleh ada keributan, karena itu sangat mengganggu ketenangan pasien?” tanya seorang security kepada Niko dan Roy. 


“Dia sudah merebut anak dan istri saya, Pak,” jawab Niko seolah ingin memfitnah Roy.


“Tidak Pak,saya dan dia sudah bercerai 7 tahun lalu dan saya dengan suami saya sekarang baru menikah kemarin, jadi tidak ada yang merebut maupun perselingkuhan diantara kami,” ucapku dengan nada sedikit berteriak. 


“Saya hanya melindungi anak dan istri saya yang sedang dalam bahaya, apa itu salah?” tanya Roy kepada petugas keamanan. 


“Melindungi, yang ada kalian menjauhkan aku dari putriku! Lihat Pak bahkan melihat saya saja dia tidak mau,” bela Niko seolah dia merasa menjadi korban kekejaman kami. 


“Saya tidak tahu apa masalah yang ada di keluarga kalian, tapi saran saya lebih baik selesaikan secara baik-baik dan jangan berbuat kekerasan di hadapan anak kecil,” jawab petugas keamanan kepada kami. 


“Kalau begitu kami pamit dulu Pak, kasihan putri saya sudah menangis karena ketakutan,” ucap Roy sambil berdiri lalu berjalan dan langsung mengambil Luna dari gendonganku. 

__ADS_1


“Nona kecil sekarang kita pulang ya,” ucap Roy sambil mencium pipi Luna dan menggandeng tanganku untuk meninggalkan rumah sakit. 


 


__ADS_2