
Saat itu aku tidak punya keputusan lain, aku akhirnya mengizinkan Niko untuk mengantar kami. Rasa canggung, benci dan sakit hati terpaksa aku lupakan sejenak untuk putri kecilku. Sepanjang perjalanan aku hanya diam.
"Semoga ini adalah pertemuan terakhir kita Mas," batinku sambil terus menatap kaca depan.
Setelah hampir 5 jam kami pun sampai di kampung halamanku. Melihat hari sudah malam aku meminta Niko untuk menginap dirumah. Setelah menyiapkan kamar aku pun langsung menyiapkan makan malam.
"Rumah ini masih tetap sama seperti dulu, rasanya sudah lama aku tidak menikmati udara malam di desa ini," ucap Niko sambil mulai menyendok nasi.
"Ayah setelah makan kita duduk di depan ya," pinta Luna sambil tersenyum ke arah sang Ayah.
"Iya, kamu mau ikut kita duduk di teras?" tanya Niko sambil mulai menikmati makanan yang ada di piringnya.
"Tidak, aku mau langsung istirahat," jawabku tanpa melihat wajah laki-laki yang ada di hadapanku.
Setelah makan malam aku pun langsung membersihkannya. Niko dan Luna langsung berjalan ke arah teras untuk bermain di halaman. Aku yang baru selesai mencuci piring langsung berjalan ke depan saat mendengar tawa bahagia Luna.
"Ya Allah seandainya Luna bisa terus tertawa seperti itu, maafkan Ibu sayang," batinku sambil meneteskan air mata.
Keesokan harinya sebelum kembali ke kota Luna mengajak Niko bertemu dengan teman-temannya. Sambil menggandeng tangan sang ayah Luna berjalan dengan begitu ceria dan bahagia. Terlihat keakraban seorang ayah dan anak yang lama tidak bertemu.
"Teman-teman! Kenalkan ini Ayahku," ucap Luna sambil tertawa bahagia.
"Ternyata Luna punya Ayah," jawab salah satu temannya.
"Iya Ayahnya ganteng dan kaya," jawab seorang anak yang lebih besar.
Aku hanya bisa melihat dari kejauhan. Hingga tiba-tiba datang seorang ibu-ibu menghampiri Niko dan Luna. Aku pun dengan segera menghampiri Luna yang ada di halaman depan.
"Eh Mas Niko sudah pulang, sepertinya Mas Niko sudah kaya ya," jawab seorang ibu-ibu dengan senyum sinis.
"Iya, kalau bisa bantuin Rani, kasihan kalau harus jadi buruh cuci terus, lagipula kemana saja selama ini tidak pulang," sahut seorang ibu yang lain.
"Maaf selama ini …." belum selesai Mas Niko menjawab aku langsung memotong ucapannya.
"Luna ayo pulang! Ayah juga harus segera kembali ke kota karena harus bekerja," ajakku kepada Luna sambil menatap tajam wajah Mas Niko.
__ADS_1
"Luna Ayah ke kota dulu ya, lain kali Ayah akan kesini lagi," ucap Niko sambil duduk di hadapan Luna.
"Ayah janji ya," jawab Luna sambil memeluk sang ayah.
"Iya Sayang, alat yang ditelinga Luna jangan sampai hilang ya," pesan Niko kepada putri kecilnya.
"Rani, aku pamit dulu insya allah lain kali aku akan datang kemari lagi untuk menjenguk kalian," ucap Niko sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih atas tumpangannya, dan aku minta jangan pernah datang ke tempat ini lagi," jawabku tanpa menjabat tangan Mas Niko.
Sakit hati yang aku rasakan membuatku sangat benci dan dendam. Jangankan menjabat tangannya, melihat wajahnya pun aku benar-benar tidak sudi. Sejak kepulangan Mas Niko, aku berharap tidak akan pernah bertemu bahkan melihat wajahnya lagi.
"Luna! Kamu mau ikut ibu kerja nggak," teriakku sambil memanggil Luna yang sedang bermain di luar.
"Ibu kerjanya jauh?" tanya Luna sambil berlari ke arahku.
"Tidak, Ibu kerja di rumah Bu Santi," jawabku sambil menunjuk rumah mewah yang selisih dua rumah dari rumahku.
"Kalau begitu Luna di sini saja," jawabnya sambil berlari ke teman-temannya.
Akupun mulai berjalan ke arah rumah Bu Santi untuk bekerja sebagai cuci gosok dan bersih-bersih rumahnya. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku duduk di bawah kursi sambil melihat salah satu putri Bu Santi memainkan laptop. Sambil penasaran aku pun bertanya dengan apa yang dia lakukan.
"Eh Mbak Rani, ini sedang kerja Mbak," jawab Mia sambil tersenyum ramah.
"Kerja apa Mbak, kok tulisannya banyak begitu," jawabku bingung.
"Mia sedang buat novel Ran, kamu mau diajarin bikin novel online, siapa tahu ada rejeki buatmu dan Luna," sahut Bu Santi sambil berjalan ke arah kami.
"Ah Bu, saya nggak akan bisa apalagi saya nggak punya laptop," jawabku sambil tersenyum malu.
"Pakai hp bisa Mbak, kalau mau mulai besok Rani ajari deh," jawab Rani sambil menutup laptopnya.
"Mbak Mia serius mau ajari saya kerja dari hp?" tanyaku seakan tidak percaya dengan tawaran Bu Santi dan putrinya.
"Iya Mbak, gajinya lumayan loh kalau cerita kita bagus dan banyak yang baca," jawab Mia sambil menoleh dan tersenyum kepadaku.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang dengan Bu Santi akupun langsung pamit pulang. Setelah sampai rumah aku pun langsung memasak makanan untuk makan siang ku dan Luna. Setelah makan siang aku langsung mengambil ponselku dan kembali menemui Mia dirumahnya.
"Assalamualaikum," sapa ku sambil mengetuk rumah Bu Santi.
"Waalaikumsalam," sahut Bu Santi sambil membuka pintu.
"Bu, maaf apa Mbak Mia ada di rumah?" tanyaku sambil sedikit membungkukan badan.
"Ada, mari masuk. Ayo Luna kita masuk," ajak Bu Santi dengan ramah.
Saat aku ke sana Mia masih sibuk dengan laptopnya. Perlahan aku mulai mendekatinya dan duduk dibawah sambil memangku Luna. Akupun mulai menunjukkan ponsel yang aku bawa dari rumah.
"Mbak, apa ponsel ini bisa dipakai kerja?" tanyaku sambil menunjukkan ponsel ke Mia.
"Mbak Rani gak ada hp android? Kalau itu hp lama jadi belum bisa di buat internet," jelas Mia sambil tersenyum.
"Oh gitu ya Mbak, saya hanya punya ini saja," jawabku sambil tertunduk kecewa.
"Mbak Rani tunggu sini sebentar ya," ucap Mia sambil berjalan ke arah kamarnya.
Setelah berpamitan kepada ku Mia langsung berdiri dan berjalan ke arah kamarnya. Tidak berapa lama Bu Santi datang dengan membawa sebuah nampan berisi secangkir teh hangat dan beberapa snack. Sambil tersenyum ramah Bu Santi meletakkan dan mempersilahkan kepada kami.
"Rani, minum dulu sambil menunggu Mia," ucap Bu Santi sambil meletakan nampan di atas meja.
"Bu, Luna mau makan snack itu," ucap Luna sambil menunjuk salah satu snack di nampan.
"Makan Nak, Rani duduk sini ngapain duduk di bawah," perintah Bu Santi sambil menepuk sofa di sampingnya.
"Iya Bu terima kasih," ucap ku sambil membuka snack untuk Luna.
"Rani, kemarin Saya lihat kamu pulang sama Niko," tanuya Bu Santi sambil tersenyum.
"Iya Bu, cuma saya minta Mas Niko agar menceraikan saya," jawabku sambil tersenyum ragu.
"Ya Allah kenapa, coba kamu ceritakan sama Ibu," ucap Bu santi sambil terkejut.
__ADS_1
"Karena Mas Niko sudah menikah lagi di kota," jawabku sambil tersenyum.
"Ya Allah, kamu sabar ya. Mia kok belum keluar dari kamarnya," ucap Bu Santi sambil menoleh ke kamar Mia yang masih tertutup.